Permainan Terlarang dengan Kakak Kandung

cerita s3x, cerita ngentu, cerita jilat memek, cerita dewasa mama, bokep nyusu, foto ngentot mbak, nafsu sex desi, crta sek, cergam 17, cerita sex amel alvi, Sek stw, cerita sex kakak, certangentot, cerita seks di dapur, cerita dewasa pevita pearce, ngesek yok mbak, cerita stw, cerita dewasa menyusui, dientot berdiri, seks hendra sedarah, cerita dewasa amel alvi, terlarang net com, ngentu sari, yayuk bugil, Cerita sex petualangan hendra mbak dian, Cerita sex gara gara bercanda, CERITABOKEP, Cerita sex dapur, cerita sex abnormal, cerita binor, cerita sex binor, diajak ngentot, memek mbak, cerita sex dengan kakakku yang cantik, cerita ngentot dengan adik ipar di dapur, cerita xxx sex, bugil ipar, Ceritavagina, cerita sex wiji, tuti bugil, cerita sex siti, cerita sex mbak siti, cergamxxx, Memek fatimah, kenangan bersama memek tante, Cerita sex gara2 ngintip, Cerita sex kakak kandung, Ngentot kakak, bersetubuh dengan kakak, ipar bugil, cerita dewasa ngentot di dapur, cerita ngentot amel alvi, cerita sex bercanda, chat ngewe, cerita sex dengan kakak, ngentot endah, nonok subuh, bugil dirumah, Mbak Dian Cewek Hyper Sex, cerita seks amel alvi, mami hisap punya papi, Gambar adik lelaki jilat pepek kakak tidur, Ani ngentot, cerita xxxsex, ngintip memek, Cergam & foto akuCergam & foto aku ngentot anus ibu teman yg bohay, rumah bokep calon artis toge, Cerita sex ngentot adik kandung saat kesasar, Mbk endah hot, ngentot mbak yayuk montok, cerita dewasa foto bugil ki jaya, menghamili mbakyu ioar, ngewe mbak surti, mbak ipar ku salome, perjuangan stw, ngentot mbak kandung, memek mu mbak, ngentot nanda, kumpulan cerita seks tante kegatelan, ibu jilat lendir memek nya sendiri, cerita sex kocokin, cerita sex dina pamer memek, cerita seks tante ayu dan karmi, cerita seks anus mbak kandung, cerita sek 17 kake yang beruntung3, Cerita panas nagita nyusuin, cerita ngentot mbak nita, cerita ngentot dengan mbak tini, cerita kepuasan nafsu nagita slavina dengan pak, cerita sex mbak diah tetanggaku, cerita sex nyata ngentot sama penjaga rental playstation, gambar ngentot diah perma, foto bugil mbak vany, dina ngentot bergambar, dikulum sari, crt dws stw jogja, cersek gita gutawa, cerita sexmemaksa ipar, Cerita sex yang palingg panas hubunggan sedarah Nggentot teradisi kampung Bersambung, cerita sex perselingkuhan dewi dan suami mira

Membayangkan kejadian saat aku pergi ke Ki Jaya, lalu pertama kalinya aku nyobain kemaluanku yang sudah dibuat besar dan perkasa oleh Ki Jaya dengan ngentotin Maya, terus ngentotin istri bossku dan temannya, dan kejadian-kejadian persetubuhanku dengan bibi, iparku dan tetanggaku, membuat kemaluanku terbangun, sebetulnya malam ini sepulang dari kantor aku ingin berangkat ke Bandung ataupun ke Garut, untuk mencicipi kembali ipar-iparku yang cantik dan sexy ataupun bibiku yang montok, tapi tubuhku agak sedikit letih dan aku dihinggapi sedikit perasaan malas, biarlah minggu depan aku pergi ke Garut dulu baru pulangnya mampir di Bandung, sekalian aku mengambil jatah cutiku yang masih cukup banyak, malam ini aku ingin menikmati kesendirianku dan mengistirahatkan kontolku yang semalam baru saja menggenjot memeknya mbak Siti, dan cukup menguras tenagaku karena aku menggenjot memeknya mbak Siti sampai subuh dan mbak Sitipun berhasil mencapai puncak kenikmatannya sampai tiga kali.

Untung tadi sepulang dari kantor, aku menyempatkan diri membeli makanan cepat saji Jepang, sehingga sekarang aku tidak perlu bersusah payah lagi keluar untuk membeli makanan, sekarang hanya tinggal memanaskan makanan yang kubeli tadi dan menikmatinya.

Setelah selesai menyantap makan malamku, dengan hanya mengenakan celana boxerku saja tanpa celana dalam dan dengan bertelanjang dada akupun bersantai di ruangan keluarga sambil menyaksikan acara di televisi, jam dindingku menunjukkan jam 6.30 malam, tidak berapa lama aku menyaksikan acara televisi, aku mendengar ketukan di pintu depan, dengan sedikit malas aku beranjak dari sofaku dan berjalan menuju ke arah pintu depan rumahku.

Saat pintu kubuka, aku sedikit kaget saat melihat sesosok tubuh wanita yang berdiri di depan pintu rumahku, sesosok tubuh wanita yang sangat kukenal itu adalah mbak Dina, kakakku yang nomer 2, dan satu-satunya kakak wanitaku, sementara 3 kakakku yang lainnya adalah lelaki dan sudah beristri semua, dan ketiga istri mereka sudah pernah kunikmati tubuhnya, dalam hatiku mengeluh dengan kedatangan kakakku ini karena yang pasti aku tidak akan bisa santai karena sudah dipastikan mbak Dina akan minta antar kesana kemari.

“Eehhh…mbak Dina tumben, ada angin apa nich datang ke Jakarta dan mampir kerumahku, terus sama siapa?” tanyaku

“Heeh…gak senang yach aku datang kerumah kontrakanmu ini, sendirian mau ada pertemuan,” jawabnya sambil melangkah masuk kedalam rumah.

“bukannya gak senang mbak, tapi kok tumben-tumbenan mbak Dina datang kerumahku biasanya kalau ada tugas atau pertemuan, mbak Dina nginap di hotel,” kataku lagi sambil menutup pintu depan dan menguncinya.

“heeh..sebetulnya malas aku mampir kesini kalau bukan ibu yang suruh, ogah aku menginap disini,” katanya lagi sambil berjalan kearah dalam dan menaruh tasnya di ruangan tidurku.

“hehehehe…memang disuruh apa oleh ibu, sampai mbak Dina harus nginap dirumahku, apa ibu gak tahu bahwa rumahku ini kecil, kamar tidurnya cuman satu, udah gitu gak pake pintu lagi,”kataku lagi sambil berjalan mengiringinya melangkah kedalam.

“kata ibu aku disuruh mengecek keadaanmu dan tinggal disini untuk cari tahu, apakah kamu sudah punya pasangan atau belum,” katanya lagi sambil melangkah keruangan keluarga setelah menaruh tasnya di ruangan tidurku.

“hahahaha….ibu tuch, masa mbak Dina disuruh jadi intel…buat cari tahu aku sudah punya cewek atau belum,” kataku sambil mengikuti mbak Dina kearah ruangan keluarga.

Mbak Dina sedikit jengkel mendengar aku tertawa karena ceritanya itu, diapun menghempaskan pantatnya di atas sofaku, akupun duduk disebelahnya, kuperhatikan wajahnya masih merengut, kulihat mbak Dina melepaskan blasernya, setelah blasernya terlepas dan disampirkan di sandaran sofa, aku melihat tangan mbak Dina yang putih mulus karena saat itu dia mengenakan kemeja tanpa lengan dan bahan kemeja yang dikenakannyapun tergolong agak tipis, jadi setiap orang dapat melihat warna BH yang dikenakan oleh mbak Dina, dan kebetulan saat ini mbak Dina mengenakan BH berwarna merah.

Kurangkul pundak mbak Dina dan kubujuki dia agar tidak merengut terus, dan kutawari untuk makan malam, yang dijawab olehnya bahwa dia sudah makan tadi di perjalanan, lalu kutawari minum dan diapun mengangguk sambil mengatakan dia minta teh, aku lalu beranjak kedapur untuk membuatkan teh, saat aku sibuk membuatkan teh, mbak Dina menyusulku ke dapur dan dia mengatakan bahwa dia mau mandi dan meminjam handukku, aku segera mengambilkan handuk untuknya dan memberikan padanya, setelah menerima handuk dariku mbak Dina langsung masuk kekamar mandiku, tak lama berselang kudengar suara air disiramkan, aku sendiri segera masuk keruangan keluarga dan membawa tehnya yang telah selesai kubuat, aku sengaja membuat tehnya satu poci bila dia minta tambah gak perlu susah-susah lagi aku membuatnya, sambil menunggu mbak Dina selesai mandi akupun kembali menonton acara televisi.

Tak lama kemudian kudengar suara kunci diputar dan pintu kamar mandi yang dibuka, dan saat itu juga kucium harum semerbak wangi sabun mandi dari tubuh mbak Dina, aku menoleh kebelakang kulihat mbak Dina dengan hanya berbalut handuk dan tangan yang menenteng semua pakaiannya sudah berada di ruangan keluarga.

“Wuihhh…harumnya mbak, pantes suamimu kesengsem,” kataku bercanda sebetulnya aku agak sedikit terangsang oleh harum tubuhnya mbak Dina yang baru mandi itu.

“Heeh…gombal…coba gombalanmu itu digunain kepada cewek, bukan sama mbakmu ini,” katanya mulai tersenyum.

“Eeh..siapa yang gombal, nah kalau tersenyum gitu tambah cantik dech mbak Dinaku ini, udah cantik harum lagi tubuhnya, untung kakakku kalau orang lain sudah kupeluk dach tubuh wanginya tuch,” kataku lagi.

“Heeh…awas yach kalau berani meluk-meluk, kucucit nanti punyamu,” katanya lagi sambil tersenyum kembali.

“waduh galaknya gak jadi dach meluknya takut aku kalau punyaku nanti dicubit, hahahah,” kataku lagi.

“Oh Hen, jangan ngintip yach, aku mau ganti baju, awas yach kalau ngintip, tak cubit punyamu nanti,” kata mbak Dina sambil memasang muka serius.

“Hahahaha…masa mau ngintip kakak sendiri, lagian juga bentuknya udah pasti jelek, kan udah punya anak…” kataku bercanda lagi.

“Eeehhh…enak aja, biarpun udah punya anak, tubuh mbakmu ini masih berani diadu sama anak perawan,” katanya lagi sambil merengut.

“hahahaha…gak percaya ach…mana ada wanita yang sudah punya anak bias dibandingkan dengan anak perawan,” kataku lagi mengejek mbak Dina, saat itu aku tidak berani memandang tubuh mbak Dina yang hanya berbalut handuk saja, takut aku terangsang dan siotongku nanti bangun, gak lucu kalau siotongku bangun ketahuan mbak Dina.

“Adduuuuuhhhh……” teriakku kesakitan saat telingaku dijewer oleh mbak Dina.

“Heeh…berani ngejek aku yach, udah berani sekarang yach, rasakan sekarang kejewer telinganya, nanti-nanti kucubit punyamu lho,” katanya sambil merengut.

“Aduh..ampun…aduh…ampuuuun..mbak Dinaku yang cantik, ampun mbak Dinaku yang wangi….aduuhhh…sakit,” kataku sambil meringis kesakitan

“hhmmmm…mau ngejek lagi..gak…,”katanya dengan tangan yang masih menarik telingaku, dan wajahnya yang manis saat itu berada dekat sekali dengan wajahku.

“ampun..gak mbak Dina…ampun gak akan kuejek lagi,” kataku sambil memegangi tangannya dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari kupingku.

Kulihat tubuh mbak Dina yang berada di samping belakangku itu sedikit membungkuk, dan aku dapat melihat belahan dadanya yang tertutupi oleh handuknya karena posisi wajahku yang terpaksa menoleh kesamping kananku karena jewerannya mbak Dina, aku menelan ludah melihat belahan dadanya mbak Dina, karena selama ini belum pernah aku melihat belahan dadanya itu, kupastikan kedua payudaranya mbak Dina cukup besar dan kalau melihat dari tonjolan yang menongol dari handuknya pasti toketnya mbak Dina masih mengkal, mbak Dina menyadari tatapan mataku karena saat itu wajahnya sedang memandang wajahku.

“Hayo…lihat apa kamu, nakal nich adikku, matanya jelalatan juga,” katanya sambil masih menjewer telingaku.

“aduh…mbak ampun, aku gak lihat apa-apa, beneran dech, aku sedang kesakitan nich,” kataku mengelak dan aku sendiri merasakan siotongku menggeliat bangun.

“Ech…masih pake boong lagi, udah jelas matanya jelalatan, pake mungkir lagi,” katanya sambil masih tidak melepaskan tangannya dari telingaku dia menggeser tubuhnya kedepan.

Saat itu mbak Dina duduk di sofa tepat disamping kananku dengan tangan yang masih menjewer telingaku, aku hanya bias meringis menerima jewerannya dan bola mataku masih tetap menatap kearah dadanya tanpa bisa kuhindari, karena dadanya yang membusung itu hanya terbungkus oleh handuk saja, ingin aku segera menarik handuknya itu hingga terlepas untuk dapat melihat kedua bongkahan payudaranya yang montok dan sekal.

“Nach tuchkan, matanya masih tetap ajach jelalatan melihat dadaku, makanya Hen..cari pacar sono, biar hilang penasaranmu,” katanya sambil tetap menjewerku.

“sudah dong mbak, sakit nich, habis suruh siapa mbak Dina punya itunya montok, udah gitu pake handuk lagi, jadi ajach mataku kesitu terus,” kataku.

“eehhh…ini anak, kucubit punyamu nich,” kata mbak Dina sambil melepaskan tangannya dari telingaku dan mengarah keselangkanganku.

Saat tangannya menuju keselangkanganku, aku sedang mengusap-usap telingaku dan saat jari-jemarinya mulai menyentuh siotongku, aku tersentak kaget dan kesakitan karena tangan mbak Dina itu mencubit si otongku dari balik celana boxerku, aku segera meraih tangan mbak Dina untuk melepaskannya dari si otongku.

“Eeehhh…mbak Dina..sakit…mbak…sakit..ampun…ampun…,” kataku kesakitan sambil berusaha melepaskan tangan mbak Dina.

“Hhmmm..kapok…masih berani matanya jelalatan….Echh…nich punyamu…..bandel juga persis seperti orangnya, dicubit malah mengeras lagi,” katanya gemas melihatku dan merasakan batang kemaluanku yang mengeras.

“Sudah mbak…ampun…gimana gak mengeras, kena sentuh tangan cewek yang lembut,” kataku mengelak malu.

“pikiranmu ajach tuch yang kemana-mana, bukan gara-gara kena sentuh tanganku,” katanya lagi sambil masih tetap tangannya di kemaluanku.

Kulihat matanya mbak Dina tertuju kearah selangkanganku, dan kulihat juga tangannya yang tadinya sedang mencubit kemaluanku sekarang ini sedang menggenggam kemaluanku itu, dari mimik mukanya yang kulihat dapat kupastikan bahwa mbak Dina saat ini sedang berpikir tentang kemaluanku, dan aku juga sudah tidak merasakan sakit pada siotongku, akupun hanya memegangi tangannya saja tanpa berusaha melepaskan tangannya dari selangkanganku, kubiarkan mbak Dina merasakan kemaluanku yang sedang membesar dan berdenyut-denyut.

“Astaga Hen….Astaga….punyamu…ini…punyamu….” kata mbak Dina terbata-bata sambil kedua tangannya merabai seluruh batang kemaluanku.

“Kenapa…mbak?…dengan punyaku ini?…ada yang aneh?” aku bertanya pura-pura bingung.

“Bukan…bukan….tapi…astaga….astaga….besar…dan panjang…..kamu apain punyamu ini…coba kulihat…” kata mbak Dina lagi sambil penasaran dengan bentuk kemaluanku dan menarik celana boxerku kebawah.

“Eehhhh…mbak…malu….jangan…akukan bukan anak-anak lagi…mbak…” kataku pura-pura menolak padahal dalam hatiku senang bukan kepalang, sekali lagi ajian Ki Jaya terbukti keampuhannya.

“Astaga….Hendraaa….punyamu…besar dan panjang sekali…waduh….lebih dari 2 kali panjang dan besarnya dari punya suamiku…astagaa…Hendra…kamu apakan punyamu ini bisa jadi sebesar ini….ckckckckckck…,” kata mbak Dina takjub melihat besar dan panjangnya kemaluanku.

“Gak aku apa-apakan, memang besar sendiri…sudah yach mbak aku pake celana lagi,” kataku pura-pura mau menarik lagi celana boxerku yang dia pelorotkan tadi.

“Jangan…aku belum puas..melihatnya…ini pertama kalinya aku lihat kemaluan lelaki sebesar dan sepanjang ini, biasanya hanya kulihat di film-film saja….ckckckckck…gimana rasanya yach…kalau kena sodokan segede ini…hihihihi…keras lagi….ckckckck…,” kata mbak Dina sambil berdecak, sambil kedua tangannya menggenggam kemaluanku dan membayangkan memeknya kalau kena sodokan kemaluan sebesar dan sepanjang punyaku ini.

“yach biasa ajach kali mbak, seperti kena sodokan suami mbak Dina, sudah ach mbak, malu nich dilihatin terus sama mbak,” kataku pura-pura malu.

“Heeh…malu..dari kecilkan kamu sering aku mandiin juga..jadi gak aneh buatku melihat kemaluanmu… cuman bedanya dulu gak berbulu, panjang dan sebesar ini, gak mungkin samalah disodok oleh suamiku dengan disodok punyamu, sepertinya kalau kena sodok sebesar punyamu ini punyaku pasti bias robek…ckckckck…” kata mbak Dina lagi sambil kedua tangannya mengocok perlahan-lahan kemaluanku.

“Mbak Dina jangan dikocok-kocok gitu dong, punyaku jadi makin tegang nich, entar gimana kalau udah ngaceng sekali….oooooohhhhhh…..geliii…mbak…jangan..dikocok … mbak….. oooohhhhh….” Akupun melenguh sambil tetap pura-pura menolak.

“Sssttttt…udah nikmatin ajach, gampang nanti kalau udah ngaceng sekali tinggal masukin ajach kepunyaku…ccuuupppp…..hhhhmmmmmm…..” kata mbak Dina sambil mengecup kepala kemaluanku dan mulai mengulum-ngulum kepala kemaluanku.

“Ooooohhhh…mbaaakkk….geeeliiii…oooohhh….enaaakk….. oooohhh…mbak…Dinaaaaa…..enaaaaakkkk…..geeeliiii….j ilatan lidahmu….oooohhh…mbak Dinaaaaa….,” akupun melenguh akibat aksi mbak Dina yang asyik menjilati kepala kemaluanku dan mengulum-ngulum kepala kemaluanku sampai sebatas leher kemaluanku.

“Hhhhmmmm….ssslllrrrpppp…..hhhhmmmm….sssllrrrppp…. hhhmmmm…ssslrrrpppp…punyamu…Heeen….hhhhmmmm…sssllr rrppp….besar…hhhmmm…sekali…sslrrrppp….hhhmmmm….sss lllrrpppp….” gumam mbak Dina ditengah asyiknya menjilati dan mengulum-ngulum kemaluanku.

Akupun tidak mau kalah aksi dengan mbak Dina, tanganku mulai menarik handuknya hingga terlepas, dari posisiku aku dapat melihat payudara mbak Dina menggantung dengan indahnya, payudaranya bergoyang-goyang seirama gerakan kepalanya yang sedang asyik bermain di kemaluanku, tangan kananku segera meraih payudara mbak Dina dan mulai meremas-remas gemas, sementara tangan kiriku mengusap-usap kepalanya dan kadang-kadang agak sedikit menekan kepalanya kebawah saat aku merasakan kepala kemaluanku sedang berada di dalam mulutnya sehingga batang kemaluanku agak sedikit masuk kedalam rongga mulutnya.

“Hhhmmm….ssslrrrppppp….ooooohhhh…Heeen….hhhmmm…sss lllrrppp…remas..sssshhh…remaaasss…toketkuuu….hhhhm mm…sssllrrppp…aaaaggghhh….hhhmmmmm…oooohhhhh…..sss shhhh….” desah mbak Dina sambil asyik menjilati dan mengulum –ngulum kemaluanku.

Rencana istirahatku malam ini nampaknya gagal total karena kedatangan mbak Dina kerumahku dan saat ini mbak Dina tengah asyik bermain dengan pedang pusakaku, dan aku juga sangat menginginkan merasakan tubuh mbak Dina setelah mencium harum tubuhnya tadi saat dia telah selesai mandi, terus terang aku sendiri terangsang oleh aroma tubuhnya mbak Dina, apalagi melihat potongan tubuhnya yang hanya berbalut handuk menambah rangsangan tersendiri buatku, belum lagi merasakan halusnya tangan mbak Dina saat menjewer dan mencubitku dan berakhir dengan remasan-remasan lembut di kemaluanku, membuat batang kemaluanku berdiri tegang.

Kemaluanku semakin mengeras sekali, akibat selomotan dan jilatan mulut dan lidah mbak Dina, dari desahan-desahan mbak Dina yang terdengar saat mulutnya sibuk bermain di kemaluanku, akupun memastikan bahwa kemaluan mbak Dina juga sudah basah oleh cairan precumnya, dan pasti sudah siap diterobos oleh kemaluanku yang sudah sangat ngaceng sekali ini.

“Hen…masukkan punyamu ini kedalam punyaku….aku sudah pengen ngerasain gimana rasanya punyaku dimasukin yang segede dan sepanjang ini,” kata mbak Dina dengan muka yang sudah diliputi nafsu birahi, tapi dengan kata-kata yang masih sopan tidak vulgar.

Mbak Dina mulai membuka kedua kakinya lebar-lebar bersiap-siap menyambut kedatangan kemaluanku ini, kedua pipinya merona merah muda pertanda dirinya sedang dilanda gelombang birahi, akupun segera beranjak dari sofa dan mulai berlutut dihadapan memeknya, kulihat memeknya mengkilat tertimpa cahaya lampu, nampaknya memek mbak Dina sudah sangat basah dengan cairan precumnya, kugenggam kontolku lalu kugesek-gesekkan perlahan pada bibir memek dan itilnya mbak Dina, mbak Dinapun melenguh merasakan gesekan kepala kontolku.

“ooooohhhhh….Heeennnn….geeeliiii…..jangan….begituu u….oooohhhh….Heeenn…geliii…jangan…siksa aku, Hen…..oooohhhh…masukin punyamu…Heeennn…. Aaaahhhhh… sssshhhh…oooohhh…geeliii….Heeenn…masukin..cepat punyamu…itu….aku sudah gak tahan lagi pengen merasakan punyamu…oooohhh….” Lenguh mbak Dina kegelian merasakan memek dan itilnya dioles-oles kepala kontolku.

“mbak Dina mau kumasukkan punyaku ini, tapi mbak Dina harus bilang seperti ini, Hen…ayo Hen…masukkan kontolmu kedalam memekku…kalau mbak Dina gak mau bilang seperti yang kukatakan, aku gak akan memasukkan kontolku ini,” kataku memaksa mbak Dina untuk bicara vulgar.

“Ooohhhh…Heeen….jaangann…aaaahhh….iyaaahhh….aaaaku …bilaanng….Heeennn….masukkkaaaannn…..kontollmuuu…y ang..besaaaaaarrr…iittuuu…ooooohhhh….kedalam…memek kkkuuuuuu…oooohhh….Heeenn…ceppaaatt….Hen…masukkan… aku…pengen…dieeentottt…kontolmuuuuu…itu….oooohhh…. .” desah Mbak Dina, yang akhirnya mau bicara vulgar minta dientot olehku.

“baik mbak, siap yach mbak ini aku masukkan kontolku kedalam memekmu….” Kataku sambil tersenyum.

“oooouuuuuuggggghhhhh…..pelaaaaaannnnn…..aaaaagggh hhhh……besaaaarrr….kontolmuuuuu….Heeennn…saaakiiitt t…memekkuuuu…dibuatnya….ooooouuugghhh…..”Mbak Dina mengerang sedikit kesakitan merasakan lesakan kontolku di lubang memeknya.
Mbak Dina mengerang kesakitan saat kepala kontolku menyelinap masuk di lubang senggamanya, aku sendiri merasakan memeknya mbak Dina cukup sempit walaupun sudah pernah mengeluarkan anak, kudiamkan sebentar untuk memberinya waktu agar lubang memeknya dapat terbiasa dengan ukuran kontolku yang besar ini, setelah kulihat raut mukanya yang sudah tidak meringis kesakitan lagi, aku mulai mendorong masuk kontolku sedikit demi sedikit kedalam lubang senggamanya……..bbblllleeessss….. bbbllleeesss…. blllleessss…. Kepala kontolku sudah melesak masuk kedalam memek mbak Dina, lehernyapun sudah tidak terlihat lagi, tapi gerakan mendorongku terpaksa kuhentikan kembali saat kudengar mbak Dina kembali mengerang kesakitan.

“Ooooooouuuuggghhhhh…..Heeennndraaaaa….gilllaaaaa… .kontolmuuuuu…iniiii…bessaaaarrr…seekaaaaliii….aaa aaggghhhhh…memekkkuuuu….terbelahh…duaaaa….oooouuug ghhhhh…..addduuuuhhhh…..ssaaaakiiittt…….adduuuuhhh …..oooooggghhhh….mmatiii…aakkuuuu….Heeennn….” erang mbak Dina yang merasa kesakitan saat kontolku masuk hampir sepertiganya didalam lubang senggamanya, kulihat kedua tangannya mencengkram kuat sandaran kepala sofa.

“Sabar mbak…sabar…mbak…nanti juga gak akan sakit lagi…malahan nanti mbak keenakan dientot kontolku ini…habis memek mbak sich sempit sekali….” Kataku menenangkan mbak Dina.

Melihat wajahnya mbak Dina yang meringis kesakitan akibat memeknya diterjang oleh kontolku, terpaksa aku menghentikan gerakan mendorong masuk kontolku kedalam memeknya, kubiarkan lubang memeknya mbak Dina terbiasa dengan besarnya kontolku, kulihat kedua bukit kembar mbak Dina turun naik seirama dengan nafasnya yang sedikit memburu, melihat bukit kembar mbak Dina yang mengkal itu akupun menjadi gemas ingin menjamahnya, kedua tanganku mulai menjamah kedua payudara mbak Dina, dengan lembut kedua payudara itu mulai kuremas-remas dan kumainkan kedua putingnya juga, masih dengan wajah yang meringis kesakitan mbak Dina mulai mendesah akibat kedua teteknya itu mulai kuremas-remas dan kedua putingnya mulai kupilin-pilin.

Kedua putingnya yang berwarna merah mudapun semakin mengeras akibat permainan jari-jemariku, dengan sedikit mendoyongkan tubuhku tanpa mendorong masuk kontolku, mulutku mulai menyelomoti payudara mbak Dina kiri dan kanan silih berganti, kuhisap-hisap kedua payudaranya, dan kadang-kadang kedua putingnya kugigit-gigit lembut, mbak Dina semakin mengerang-ngerang akibat aksiku itu.

“Ooooohhhh….Heeennndraaaa…..ooohhh….geeelllliiiiii ….oooohhhh….Heeenn…ooohhh……teruuusssss…..hisssaaap ppp….tetekkuu…oooohhhh…geeellllii…eenaaakkk….ooohh hhhh…Heeennn….ooohhhhh…..kontolmuuuu…..Heeennn….ko ntolmu yang besar…ini dorong…lagiii…..masukin…lebih..dalam..lagi…kedaaaa lllaammm…memekkuuuu….ooohhhhhh….Heeennnddrraaaaa…… aaauuuggghhhhhh……….” erang mbak Dina sambil memintaku untuk menekan lebih masuk lagi kontolku.

Mendengar permintaaan mbak Dina, aku segera menuruti permintaan mbak Dina dengan menekan masuk lagi kontolku, tanpa menghentikan selomotan dan remasanku di payudara mbak Dina, bbllllleeeesssss…….bbbllllleeeeeeessss……bbblleeess ssss…….. dengan 3 kali dorongan akhirnya kontolku masuk lebih dalam lagi kedalam lubang senggama mbak Dina sampai mentok, kepala kontolku kurasakan bersentuhan dengan dinding rahimnya mbak Dina, dan kontolku tidak dapat masuk lebih dalam lagi, mbak DInapun mengerang, kurasakan memeknya mbak Dina berdenyut-denyut, berusaha untuk menyesuaikan dengan ukuran kontolku.

“Aaaauuuuggghhhhh….Heeennndraaaaa…..kontolmuuuu…me ntoookkkk….kena dinding rahimku…..ooooooohhhhh…..memekkkuuuuuu….Heeennnnn… .aaaauuuuuggghhh…..roobeeeeekkk…..ppperriiiiihhhh… ..aaaaaaauuuuggghhh….eeennaaaakkkk……Heeennn….hisaa aapppp….tetekku….teruuusss….hisaaaaapppp……ooooouuu gghhhhh……,” erang mbak Dina merasakan enak, sakit dan geli yang bercampur aduk.

“hhhmmmmm…..sslllrrrpppp….hhhhmmmm…tetek mbak Dina juga enak nich masih mengkal…..hhhhmmmm…ssslllrrpppp…..memekmu juga sempit sekali mbak…..seperti memek anak perawan saja….kontolku seperti dijepit ajach….hhhhmmmm….ssllrrrppp….,” kataku sambil masih asyik dengan menghisap-hisap toketnya.

Aku masih belum menggerakkan kontolku keluar masuk di lubang senggamanya mbak Dina, kubiarkan kontolku terbenam dilubang senggamanya, agar memek mbak Dina menjadi lebih terbiasa dengan besarnya kontolku ini, sambil menikmati permainan mulut dan tanganku di kedua payudaranya, mbak Dina mulai menggoyang-goyangkan pantatnya perlahan-lahan, saat kurasakan mbak Dina mulai menggerakkan pantatnya, kulirik mbak Dina kulihat kedua mata mbak Dina terpejam dengan mulut yang mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, rupanya mbak Dina sudah terbiasa dengan besarnya kontolku ini dan sudah tidak tahan lagi untuk menungguku memompanya, aku merasakan kontolku keluar masuk di memeknya mbak Dina dengan perlahan-lahan.

“Oooooohhhh….Heeennnn….enaaaakkkk….Heeenn…..nikmaa atttt….kontolmuuuu…ini…ooohhhhh…..penuh…memekkku…d isumpalnyaaa……ooooohhhh….Heeennnndraaaa….teruuuuss sss….hisaaaaapppp…tetekkkuuu…..ooooohhhhh…..puting nyaaaa….jugaaaa…..oooohhhhh…..Heeennn…..enaaaakkkn yyaaaa….dientoooottt….kontolmu yang gede ini… ooooooohhhhh….ssshhhhhh…aaaaaaahhhhhhhhh,” mbak Dina merintih-rintih kenikmatan merasakan kontolku yang keluar masuk dilubang memeknya akibat goyangan pantatnya yang sedang maju mundur.

“Iyaaahhhh…mbakk…..iyaaaaahhh….memek…mbak Dinaaa…..jugaaaa….aaaaahhhh…. hhhmmmm….ssslllrrrpppp….sungguh..legittt…..shhhhhh …hhhhmmm…sssllrrpppp…oooohhhhh…..enaaakkk….tetekny a…jugaaa…..nikmaaaatttt…mbaaaaakkk….oooohhhhhhhh” akupun ikut mengerang keenakan merasakan jepitan memeknya yang melingkat erat di batang kontolku.

Ditengah kesibukanku yang sedang melahap payudaranya silih berganti, aku mulai mengimbangi maju mundur pantatnya mbak Dina, saat mbak Dina menarik mundur pantatnya akupun menarik mundur pantatku….ssssssssrrrrrrtttttttttt…kontolku tertarik lebih keluar, dan saat mbak Dina memajukan pantatnya akupun mendorong pantatku maju, bbbleeeesssssssss…..kontolku melesak kedalam lubang memeknya, sehingga kurasakan kepala kontolku bersentuhan dengan dinding rahimnya.

“Ooooouuuggghhhh…Heeennn…..kepala…kontolmu…selalu… menyundul….dinding….rahimku…… ooooouuuggghhhhh….paaanjjjaaaannngggg….sekaaaliiii ….kontolmu…oohhhh Heeennndrraaaaa…..punya suamikuuu….tidaaaakkk..pernaaahh…sampai..mentok..b egini ooooohhhh….Heeenn….ooooohhhh….ssshhhh….aaaahhhhh…. geeeliiiiii….hissaaaappp…llaagggiiii….yang kuat….hisappp…tetekku….Heennn…gelliii…eenaaakkk….o ooohhh… kontolmuuu….ini…luaarrr…biasaaaa….aaaccchhhhh…ssss hhhh…aaaahhhh….nikmaaatt sekaaaaliiiiii….oooohhhh….belum…pernaaaahhh…aku…me rasakaan…ngenttoooott…. senikmaaat…ini…..teruuuuussss….Heeeennn…..ooooohhh h…teruuusss……” rintihan-rintihan nikmat mbak Dina terus menerus keluar dari mulutnya.

Akupun semakin bersemangat menghisap-hisap teteknya, kuhisap kuat teteknya silih berganti, kedua teteknya silih berganti memenuhi rongga mulutku, dan saat mulutku penuh dengan teteknya, lidahkupun menari-nari di teteknya, saat kutarik keluar teteknya kulihat putingnya mbak Dina semakin membesar dan teteknya semakin mancung saja akibat hisapan-hisapan kuatku, sementara gerakan maju mundur pantatkupun semakin bertambah cepat, kontolkupun semakin cepat keluar masuk kedalam memeknya mbak Dina, mbak Dina sendiri berusaha mengimbanginya dengan mempercepat gerakan maju mundur pantatnya, kurasakan memeknya sudah sangat basah sekali, kuyakin kontolkupun semakin banyak mengeluarkan cairan precumnya, sehingga suara berkecipak mulai terdengar saat kemaluan kami itu beradu, suara kecipak dari s*****kangan kami ditambah dengan suara-suara erangan nikmat kami, membuatku dan mbak Dina bertambah semangat melakukan persetubuhan ini.

“Sssshhhh…hhhhmmmm….sssllrrrppp…..enaaakk…tetekmu… mbaaaakk…enaaakk…hhhmmmm…..ssslllrrrppppp….memeeek kkmuuu…jugaaa….sempiiittt…sekaaliiii….ooohhhh…hhhm mmmm….ssslllrrppppp…mbaaakk….enaaaakkk….ngentoooot ttmuuu…enaaakk…ooohhhh….mbaaakkk…Dinaaa…..enaak..s ekali…ngentotinmuuuu……..”erangku menikmati jepitan erat memek mbak Dina dibatang kontolku dan menikmati mengkalnya payudara mbak Dina.

“Oooohhh…Heennn…akuuu…jugaaa…enaaak…dientotin..ole h..kontolmuu…ini….ooohhh…udaaahhh…besaaar….paaan jjaaaaaaangg…aaaarrggghhhh…meentooookkkk….ooooohhh hhh…..nikmaaatttnya…dientotin…kontoooollll…yang…pa njang….dan..besaaaarrrrr…aaaaahhhh…sssshhhh…aaaahh h…oooohhh….Heeenndrraaaa….puasiiinnn…mbaaakkk…Heee nnn…puaaasssiiinnn…mbaaakkk…oleh..kontolmuuu..yang ..panjang..dan…besar..iniiiii…ssshhh…aaahhh…ssshhh h…ooohhh,” rintihan-rintahan nikmat mbak Dina terus menerus keluar dari mulutnya, sementara itu matanya merem melek, dan kedua tangannya telah beralih memeluk leherku.

Aku merasakan goyangan pantat mbak Dina sudah tidak beraturan lagi, kulihat matanyapun sudah tidak merem-melek lagi, tapi terbuka dengan hanya terlihat putihnya saja, sementara itu mulutnya terus-menerus merintih-rintih keenakan, akupun tahu bahwa saat ini mbak Dina sedang berada diambang puncak kenikmatannya, segera akupun mempercepat gerakanku, kontolku semakin gencar mendobrak memeknya, bleeessss…ssrrtttt…..bleesss….ssrrttt….bleeessss…. sssrrttttt….blleeessss…sssrrrtttt….bleeessss….sssr rrrtttt….bllleeeessss….sssrrrtttt…

“Heeeeennnnndraaaaaaaa……aakkuuuuu….keeelluuuaaaaar rrr…..ooooohhhhh…..ssshhhh….aaaaahhhhhh……aaaakkkuu uuu…eeenaaaaaakkkk…….niikkmaaaatt….hhhhhmmmm….ssss shhhhh….oooohhhh….Heeennndraaaa….aaakkuuu…puaaaass ss…dientooooottt…oleeeehhh….konttoooollllmuuuu…ooo ohhhh…sssshhhh….aaaakuuuu…ppuaaasss….” mbak Dina mengerang menyambut puncak kenikmatannya.

Kurasakan olehku memek mbak Dina menyemburkan lahar kenikmatannya karena kurasakan hangat di batang kontolku dan dinding vaginanya berdenyut-denyut dengan kuatnya saat menyemburkan cairan kenikmatannya, kontolku seperti diremas-remas saja, akupun mendiamkan kontolku terbenam di lubang senggama mbak Dina, kunikmati siraman hangat cairan yang keluar dari memeknya mbak Dina dan denyutan-denyutan dinding vaginanya, sungguh nikmat memek saudaraku ini, pantas suaminya betah dirumah, sambil menikmati sensasi memeknya ini, kupandangi wajah mbak Dina yang saat itu sedang terpejam sedang menikmati sensasi puncak kenikmatannya, nafasnya memburu, dadanya naik turun seirama dengan nafasnya, dengan perlahan-lahan kuremas-remas kembali kedua payudaranya itu, mbak Dinapun mendesah lirih.

“Ooooooohhhhhhhh……ssssshhhhhhh….ooooooohhhhhhhh….. sssshhhhhhh…..ooooohhhhhhhh…..,” desah mbak Dina lirih.

Denyutan-denyutan dinding vaginanya sudah mulai melemah, kontolkupun sudah tidak merasakan semburan-semburan hangat lagi, nampaknya memek mbak Dina sudah tuntas mengeluarkan lahar kenikmatannya, kulihat perlahan mbak Dina mulai membuka matanya, dari pandangannya kutahu bahwa mbak Dina betul-betul merasa puas dientot oleh kontolku ini, bibirnya tersungging senyuman saat matanya menatapku.

“Hen…baru kali ini aku merasa nikmatnya bersetubuh, aku betul-betul puas sekali dientot oleh kontolmu itu, sungguh beruntung aku punya adik sepertimu, yang punya kemaluan panjang dan besar dan yang paling penting bisa membuatku mencapai puncak kenikmatan,” kata mbak Dina lirih sambil tersenyum.

“Aku juga sungguh beruntung punya kakak secantik dan sesexy mbak, terus memekmu itu mbak…uuuiiiiihhhhh…legit betul…enak dientotnya…pantes..suamimu betah dirumah,” kataku menggodanya.

“Hhhhmmm, bohong kamu, masa memek yang udah keluar anak masih enak, suamiku sich enak ngentotinku tapi hampir gak pernah bikin puas, apalagi membuatku puas seperti barusan yang kamu lakukan, gak pernah sama sekali, enak sich buat dia, tapi buatku sich menderita, tapi gak apa-apa sekarang aku punya kemaluan yang bisa membuatku mencapai puncak kenikmatan kalau aku menginginkannya,” kata mbak Dina dengan sedikit merengut.

“Yach gak bohonglah mbakku, memang masih enak sekali memekmu ini, masih sempit,” kataku sambil masih meremas-remas lembut payudaranya.

“Hhhmmm….ssshhhh…tanganmu ini nakal sekali, Hen. Bukan memekku yang sempit tapi kontolmu itu yang besarnya gak kira-kira, ini ajach memekku masih berasa perihnya, enak sich tapi masih berasa perih, aaaaawwwwww….Heeenndra…,” kata mbak Dina sambil menjerit saat putingnya kutarik sambil kupilin.

“adduuuhhhh….mbak..sakit…ampun jangan cubit,” jeritku saat mbak Dina membalasku dengan mencubitku.

“Hhhmmm…makanya punya orang jangan maen tarik ajach, oooooohhhhh….Heeenn…,” katanya sambil mendesah merasakan kontolku yang perlahan-lahan mulai kutarik keluar.

“Ooooohhhh…Hen…jangan dicabut kontolmu…Hen…aku masih ingin merasakan besarnya kontolmu menyumpal memekku, aaaauuuwwwwww…..” katanya merintih memohon padaku untuk tidak mencabut kontolku.

“Pelaannn-peeellaaannn…Heen…sssshhhhh…..aaaahhhh…., yaaccchhhh…masukin lagi kontooollll raksasamuuu..ituuu….ooooohhh….sssshhhh…aaaaahhhh.. ,” mbak Dina merintih keenakan lagi merasakan kontolku yang kembali kudorong masuk.

“enak yach mbak, kontolku ini….kita lanjut lagi maukan mbak,” tanyaku.

“Hhheeehhhh….aku mau lagi dientot…oleh…koonntooolllmu ini….ssshhh…aaaahhh…,” rintihnya merasakan kontolku yang dengan perlahan keluar-masuk dilubang senggamanya.

“Kita lanjutin ditempat tidur yuk, biar lebih asyik ngentotin mbak Dina,” kataku lagi.

Mbak Dina tidak menjawab tapi hanya mengangguk dengan mata terpejam merasakan geseran batang kontolku di dinding vaginanya, dengan mulut setengah terbuka, melihat itu aku segera memagut bibirnya yang dibalas oleh mbak Dina dengan penuh nafsu, sambil berciuman aku merengkuh tubuh mbak Dina, kedua tanganku kuselipkan kebawah pahanya, dan memegangi kedua bongkahan pantatnya, kedua tangan mbak Dinapun memeluk leherku, kedua bibir kami masih berciuman dengan penuh nafsu, sementara itu lidahku sudah meluruk masuk kedalam rongga mulutnya dan mulai menari-nari dirongga mulutnya dan menyentuh-nyentuh lidah mbak Dina, mbak Dinapun membalas aksiku itu, lidahnya menari bersamaan dengan lidahku, kedua lidah kami saling bersentuhan, nafas kami mulai memburu, saat itu aku juga mulai beranjak berdiri sambil mengangkat tubuh mbak Dina, mata mbak Dina kulihat membelalak saat aku berdiri dengan perlahan, kutahu dia pasti merasakan kontolku yang meluncur masuk jauh kedalam rongga senggamanya dan menyundul-nyundul dinding rahimnya, setelah aku berdiri sempurna akupun mulai melangkahkan kakiku menuju kamarku dengan mbak Dina dalam gendonganku dan kontolku terbenam dalam rongga senggamanya, setiap kakiku melangkah, mbak Dina merintih nikmat merasakan kontolku yang keluar masuk dengan sendirinya seirama dengan langkah kakiku.

“hhhmmmmm….ssslllrrrpppp….oooouuuggghhhh…..hhhmmmm …sssllrrrppp….ooouuugghhhh….ssssslllrrrppp…hhhmmm… .sssllrrppp…ssshhhh…ooohhhh…hhhmmm…sslllrrppp…..ss shhhh…ooohhh…hhhmmm…ssslllrrpppp,” rintihan nikmat mbak Dina terdengar disela-sela kesibukan bibirnya yang sedang mencumbu bibirku.

Rintihan nikmat mbak Dina terdengar terus sampai kakiku terhenti dipinggiran ranjangku, dengan perlahan aku naik keatas ranjangku, dan memeknya mbak Dina masih tetap melingkari batang kontolku dengan ketatnya, aku dengan perlahan menaruh lututku diatas tempat tidurku satu demi satu, dengan perlahan kuberjalan dengan lututku diatas tempat tidurku tersebut sampai posisi tubuh kami berada tepat ditengah-tengah ranjang, tanpa melepaskan kontolku dari jepitan memeknya mbak Dina, aku mulai merebahkan tubuh mbak Dina setelah terlebih dahulu aku bersimpuh diatas tempat tidurku, aku lalu meraih 2 buah bantal dan kuletakkan tepat dibelakang kepala mbak Dina, setelah kepala mbak Dina terganjal bantal, dengan perlahan aku mulai merebahkan tubuh mbak Dina diatas tempat tidurku, aku memposisikan kedua kakiku tepat dibawah pahanya, paha kamipun saling bersentuhan, kontolku kulihat tiga perempatnya terbenam di dalam lubang senggamanya mbak Dina dan kurasakan kepala kontolku sudah bersentuhan dengan dinding rahimnya, tubuhku mulai kodoyongkan kedepan, mulutku mulai menciumi bibir mbak Dina, lidahku mulai menyelusup masuk lagi dalam rongga mulutnya, dan lidah kami mulai kembali saling menari dan bersentuhan.

Sambil asyik berciuman aku mulai menggenjot kontolku keluar masuk di lubang vagina mbak Dina dengan perlahan, sssssrrrtttt…..bbblleeeesss….sssrrrttttt…..bblllee eessss… ssssrrrtttt….bblleeesssss….ssssrrttttt…bbblleeeess ss…..sssrrrtttt….bbllleeessss…..

“hhhhmmm….ssslllrrrpppp…oooouuuggghhh….hhhhmmmm…ss ssllrrrppp…aaaaccchhhh….Heeenn….sssslllrrrpppp…hhh mmm…aaaaccchhhh…pelaaaaaannn…hhhmmmm….sssllrrrpppp …..aaaahhhh……Heeenndraaaaa…..eenaaaakkk….hhhmmm..s sslrrrpppp….hhhmmmm….aaaaahhhh….ssssshhhhhh…oooohh hh….sssslllrrpppp….hhhmmmm….puaasskkkaaan…aakuuuu… laaaagiiiii…oooohhh….hhhmmm….ssslllrrpppp…Heeenddr aaaaa……entootttt…memekkkuuuu….” rintihan nikmat mbak Dina disela-sela kesibukannya mencumbu bibirku.

“iyyyaaaahhh…mmmmm…sslllrrppp…mbaaakkk…mmmm…ssllrr rppp…aku..akan…buat…mbak…kelojotan…lagiiiii…mmmmmm …ssslllrrrpppp…mmmm…sssllrrppp….aku..akan…buat..mb ak…mencapai…puncak…kenikmatan..lagiiii…mmmm….sssll lrrprppp….mmmmeeemekmuuuu…mbak…Dina…lebih…enaaakkk …dientot…begini….oooohhh…mmmm..ssssllrrrppp….” akupun mengerang disela-sela kesibukan bibirku yang bercumbu dengan bibirnya mbak Dina.

Persetubuhan kedua ini agak lebih mudah untuk kontolku keluar masuk di memeknya mbak Dina, entah karena dengan posisi tiduran seperti ini sehingga mbak Dina lebih leluasa mengangkangkan kedua kakinya atau karena memeknya sudah sangat basah dengan cairan kenikmatannya tadi atau karena memeknya sudah mulai terbiasa dengan besarnya kontolku ini, yang jelas memeknya mbak Dina tetap enak dan sempit, dengan cukup gencar kontolku keluar masuk dilubang vaginanya mbak Dina, mbak Dina berusaha mengimbangi gerakan maju mundurku dengan memutar pantatnya naik turun, saat aku mendorong maju kontolku mbak Dina memutar pantatnya keatas, dan saat aku menarik keluar kontolku mbak Dina mengimbanginya dengan memutar pantatnya turun kebawah, aku merasakan kontolku seakan dipilin-pilin oleh dinding vaginanya, ini pertama kalinya aku merasakan kontolku dipilin-pilin oleh dinding vagina wanita, akupun mengerang keenakan merasakan putaran-putaran pantat mbak Dina.

“Oooohhhh…..mbak Dinaaaa….memekmu…ooohhhh….nikmaaattt….kontolkuu…se perti…dipelintiiiii…..mbaaakkk…oooohhhhh….eeeennaa aaakkkk…sekaaaliiii….mbak…Dinaaa…hebaaattttt….oooo ohhhhh….mbak…Dinaaaa…goyaaaanggg…teruuussss….” aku mengerang merasakan nikmat yang luar biasa.

“Enaaakkk….Heeennn….enaaaakkk…goyaangannn…ngebbooo orrr….terbaaliiikkk…mbaakkkk…ooooohhhh….ssshhhhhh… ..aaakkkuuu…jugaaa…enaaakkk….Heeenn….nikmaaattt…me rasaaaakkaannn….kontollmuuuu….menyuummppaaaalll…pe nuh…memekkuuu…Heeennndraaaa…..ooohhhh….enntttooott t…akuuu…..terusss…genjoott…akuu..dengan..kooontooo llll..raksasaaaammuuuu….Heennndddraaa…aaaacchhhhh… .Heeennn…,” mbak Dina merintih nikmat merasakan dinding vaginanya yang menempel ketat di batang kemaluanku.

“Heeennn…teruuusss….Heeennn…..yang..lebih…kencaaan gg…lebih..cepaaat….Heenn…eentttooottt…akuu…lebih.. cepaaattt…Heeenn….sodddoookkkkk…lebih…kuaaattt…Hee enndraaa….yang..lebih..kuaaattt….sodokkan..kontolm uuu…itu…lebih..kuat….aaaaawwwww…..aaaahhhhh….ssshh hhh…..yyaaacchhhh…begiittuuu…oooohhh…nikmaaaatnyaa a…..ngentot…denganmuuuu…Heeennn….sssshhhhh…oooohhh …..remaaasss…tetekkuuu…jugaaaa….Heeennn…remaasss…y ang…kuaaatttt…Heeenn….oooohhh..sssshhhhh,” mbak Dina merintih sejadi-jadinya menikmati sodokan-sodokan kontolku.

Akupun mengikuti permintaan mbak Dina dengan meremas-remas kedua payudaranya dengan kuat, dan kedua payudaranya itu juga jadi tumpuanku untuk menggenjotnya dengan kuat dan cepat, mata mbak Dina kulihat merem-melek merasakan sensasinya, kadang-kadangt kedua putingnya kupilin-pilin dengan kuat juga, kedua putingnya yang tadi mulai mengecil sekarang mulai membesar lagi dan mengeras lagi, akupun semakin gencar meremas dan memilin kedua payudara dan kedua putingnya mbak Dina, kulihat payudara mbak Dina sudah memerah oleh remasan-remasan tanganku, rintihan-rintihan nikmat mbak Dina semakin sering terdengar, begitu juga dengan erangan-erangan nikmatku, ditambah dengan suara kecipak dari beradunya kemaluan kami, cairan precum kami semakin banyak mengalir keluar dari kemaluan kami, memeknya mbak Dina sudah sangat-sangat basah sekali, membuat kontolku lebih mudah keluar masuk di dalam memeknya.

Blleeesss…sssrrrrttt…bblleeesss…sssrrttt….bbleeess ss…sssrrttt…bblleeesss….. kontolku dengan gencar keluar masuk di lubang vaginanya mbak Dina.

“oooohhh…ssshhh…ooohhh…Heennn…enaaakkk..teruuss…te rruuuss…..eentttooott…akuuuu….ooohhh…ssshhh…aaaahh hh….nikmaaatt….kontolmuuu…betul-betuuulll…nikmatt ….eenaaaakkkk…..oooohhhh….ssshhh….genjoott…yanggg… kuat…memekkkuuu…inii….ooohhh…Heeennn….yang…cepaaat tt…ooohhh….eeentttooottt….aaakuuu….ooohhhh…Heeennn n…ssshhhh…aaaaahhhhhhh…..,” Mbak Dina merintih-rintih keenakan sambil tetap memutar-mutar pantatnya.

“Oooohhh…mbak…goyanganmu…jugaa….oooohhhh…mmmembuat kkuuu…enaaakkk….nikmaaatttt…..teruuusss….goyaaannn g…yyyaaaahhhh…mbaakkk…goyaaanggg…enaaakkk…..memekk muuu….nikmaaattt…..oooohhhh…mbaakk…Dinaaaaa….aaaaa hhhh…..oooohhhh…..sedaaaappnyyaaa….ngentotiiiin….m baaakkk…..” akupun mengerang enak merasakan goyangan ngebornya mbak Dina, sambil terus-menerus kusodok-sodokkan kontolku keluar masuk dilubang vaginanya yang sudah banjir oleh cairan precum kami.

Tak lama bers***** goyangan mbak Dina sudah mulai tak beraturan, aku sendiripun sudah merasakan desakan air maniku di kepala kontolku, hanya tinggal menunggu hitungan detik saja sampai kepala kontolku meledak memuntahkan spermanya didalam rongga rahim mbak Dina.

“oooooohhhh…Heeennnndraaaa….akuuuu…sudaaahhh…tidaa akk…kuaaatt….lagiiii…akuuu…mauuu…keluaaaar…lagiiii i…ooohhhh…Heeennndraaaa….enaaaknyaaa…..dientot…ole ehhhmuuu….ooooohhh…ssshhhh…aaaaahhhh….” mbak Dina mengerang merasakan puncak kenikmatannya yang sudah akan dia rengkuh kembali.

“Akkuuuu…jugaaa….mbaaakkk….aakkuuu…jugaaa…maauuu.. keluaaarr….oooohhhh…mbaaakkkk..Dinaaa…akuu…keluarr iiinnn…didaaallaaam…yyaaacchhh…mbaakkk..Dinaaa…ooo ohhhh…” akupun mengerang merasakan dorongan air maniku yang sudah berada diujung kepala kontolku dan siap untuk menembaki dinding rahimnya mbak Dina.

“Iyyaaaahhhh…didaaalllaaam…aaajjjaaaccchhh…Heeennn …akuu…ingin…merasaakaan…hangaaaatnyaaaa…aiiirrr….m aniiimuuuu…ooohhh….Heeennn…aakuuu…keluaaarr….Heeen nndraaaaaa…..aaaaahhhhhhh…….nikmaaatt……enaaaaa……aa kuuuu….oooohhhhhh…….keeluaaaarrr…..” mbak Dina mengerang panjang menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil dia rengkuh untuk kedua kalinya.
“Akuuuu…jugaaaa…mbaaaakkkk…Dinaaaaa…oooohhhh…mbaaa kkkk…sammbuuuttt…pejuuuhhhhkkuuuu…oooohhhh…..mbakk ..Dinaaaa…..oooohhhh….sssshhhh…aaaahhhh….”akupun mengerang menyambut puncak kenikmatanku.

Kemaluan kami berdua saling *******, aku dan mbak Dina merasakan hangat pada kemaluan kami oleh semburan lahar kenikmatan kami, kembali aku merasakan denyutan-denyutan kuat pada dinding vaginanya mbak Dina saat memeknya menyemburkan lahar kenikmatannya, tubuh kami bersatu berpelukan saat kami memuntahkan lahar kenikmatan kami, mata kamipun terpejam meresapi akhir dari persetubuhan kami ini, nafas kami memburu.

Setelah tuntas kemaluan kami menyemburkan lahar kenikmatan masing-masing, dan nafas kami sudah tidak terlalu memburu, aku mulai menciumi bibir mbak Dina dengan lembut tanpa memasukkan lidahku kedalam rongga mulutnya, kukecupi bibirnya yang ranum dengan lembut, mbak Dinapun membalas kecupan-kecupanku, saat kurasakan kontolku mulai menyusut, akupun mencabut kontolku dari jepitan lubang vagina mbak Dina, pppllooooopppp….terdengar suara saat kontolku terlepas dari lubang vagina mbak Dina, kulihat lubang memeknya mbak Dina menganga lebar, dan perlahan-lahan dari lubang memeknya itu mengalir keluar lahar kenikmatan kami berdua yang sudah menyatu, aku segera mengambil kaosku, dan menaruhnya dibawah pantat mbak Dina, kulihat aliran lahar itu mulai menetes ke kaosku.

Aku merebahkan tubuhku disamping tubuh mbak Dina, mbak Dina merebahkan kepalanya di dadaku, sambil mengelus-elus batang kontolku yang sudah mulai mengecil.

“Matinya kontolmu ini, masih jauh lebih besar dari punya suamiku,” katanya.

“Memangnya kang Yayat, kontolnya segede apa sich mbak,” kataku penasaran

“Paling juga panjangnya sepuluh sentian..” jawab mbak Dina.

“Waduh kecil sekali dong mbak, untung mbak bisa hamil sama kemaluan sekecil itu” kataku sambil tersenyum.

“Yach, kalau hamilkan bukan karena besar kecilnya tapi karena air maninya,” katanya lagi.

“Hen, selama aku di Jakarta, kamu puasin aku terus yach, buat aku kelojotan, buat aku mencapai puncak kenikmatanku, buat aku merintih-rintih keenakan,” pintanya.

“Beres mbak, mau berapa kali juga aku layani, aku akan buat mbak kelojotan, aku akan buat mbak merintih-rintih saking enaknya,” kataku tersenyum.

“Mbak, mbak Dina masih mau lagi dientotku sekarang, atau mbak Dina mau kita cari makanan dulu,” lanjutku.

“Hhhhmmm…gara-gara..kontolmu ini, aku memang jadi lapar dan sedikit lemas, kita istirahat sebentar terus kita cari makanan, baru setelah itu kita ngentot lagi sampai subuh, beli makanannya yang agak banyak ajach yach, soalnya kalau kita ngentot sampai subuh pasti kita lapar lagi nanti,” katanya.

Kamipun beristirahat sebentar, lalu setelah merasa cukup istirahatnya, kami berdua setelah berpakaian dengan rapih keluar untuk mencari makanan, sepulangnya dari mencari makanan kamipun menyantap makanan kami dirumah tanpa mengenakan satu helai pakaianpun, dengan bertelanjang bulat kami menyantap makanan kami sambil ditingkahi dengan merangsang kemaluan kami masing-masing, kadang disela-sela mengunyah makanannya tangan mbak Dina meremas-remas kontolku yang sedang tidur membuatnya menggeliat, kadang-kadang aku yang mengelus-ngelus memeknya.

Pergumulan kami lanjutkan kembali sampai subuh, diselingi dengan makan bila kami merasa lapar, entah sudah berapa kali mbak Dina mencapai kepuasannya dientot olehku, aku sendiri juga beberapa kali memuntahkan air maniku didalam rahimnya.

_THE END_

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Related Post

Permainan Terlarang dengan Kakak Kandung | memektante | 4.5

Leave a Reply