Papa Jahat

cerita making love, cerita salome, tetek mama, bokep ayah tiri, cerita sex panjang, Cersex papa, hubungan terlarang kisah incest bagian 3, Cerita sex ethan, nenen mama, cerita sex papa jahat, kisahsexnyata, bokep papa jahat, cerita seks ngintip, cerita seks salome, cerpensek, cerita making love terbaru, sexmamagaul, foto risma kalimba, koleksi papa jahat, cerita sex buta, cerita sex ngentot gadis buta, ceritasexpapa, foto sex salome, ceritasex mesum papah nakal, keganasan mamaku yang alim, bercinta dengan fivesome 1 wanita 4pria, dientot papa, gambarseksbergerak, foto salome satu lobang rame rame, cersex papa jahat, sekliar, cerita sex dengan gadis buta, japanesexxx com, cerita sex di bawah meja makan, cerita seks papa, cerita sex dengan wanita buta, ngentot sama papa, tetek mamaku besar, kontol papa, kisahngesex, bokep papa, hubungan terlarang bagian 3, HUBUNGAN TERLARANG kisah incest, cerita making love janda hot, cerita nyata sex bergambar, cerita sex ibuku yang alim, cerita sex cinta buta, cerita seks panjang, ###############, arti ponsex, papa nenen mama, cerita sex keganasan mamaku yang alim, cerita ngentot mama disamping papa, cerita porno pembantu, cerita salam osis, cerita nakal sodomi anak, mamaku telanjang, download bokep masturbasi, cerita sex cewek buta, certa bf, cerita sex akibat tradisi part 4, dientotpapajahat, cersexpapa, tubidy sexx, ceritanyatacelanadalam, nikmatnya ngentot sama papaku dalam kolam aaaaaaaacchh paaaaa crooott, Cerita seks papa jahat sedarah, cersek dgn wanita buta, cersex perjaka ku di renggut tante ku, bokeb jepang hamil, cerita sex digilir satu keluarga, foto hot ibu mertua umur 45thn di entot menantu dari jepang, cerita papa pulang mama goyang, Cerita incest memekku untuk papaku, cerita sex rumah kontrakan part 6, cerita ngentot memek STW Gndut yang terdampar dipulau, cersex swinger mama, Cerita sex mama nenen, cerita seks pria yang beruntung, cewek kebelat kawin sex, Crta sex artis, cerita ngetot pepek taba mami, cerita seks liar, Foto Cerita Bergambar tiap paragraf xxx 18, cerita papa pulang mama goyang hot, cersex digilir, cerita sex gangbang mama aku dan papa com, cerita sex dihamili ayah temanku, Cerita eranganku ngentot dgn kakekku, cerita sex dewasa perkumpulan rahasia, cerita ml mama saat papa tidur disamping, cerita dewasa omku yg jahat, Cerita dewasagambar hubungan terlarang dengan papaku bagian 3, cerita dewasa ngentot dengan sepupu waktu mati lampu, Cerita baku cuki sedarah, cerita sex aku memperjakai anaku dan anak perempuanku, cersek tresone keluarga, Cerseks di malam minggu, cersex aku mengandung anak kakek, Cersex aku mengndung anak dari kake

Setiap orang memiliki rahasia dalam hidupnya, entah itu rahasia-rahasia kecil yang hanya ia bagikan kepada Tuhan dan dirinya sendiri, atau bahkan rahasia kelam yang seringkali memberontak ketika ia terpendam terlalu lama dalam batin yang tak pernah tenang. Di usia saya yang sekarang sudah menginjak 27 tahun, hidup sedikit banyak telah mengungkapkan sebagian misterinya kepada saya, membentuk karakter dan kepribadian saya dengan segala pengalaman hidup, serta mewarnai sejarah hidup saya dengan deretan rahasia. Oh ya, sebelumnya perkenalkan nama saya Catherine, tetapi orang-orang lebih sering memanggil saya Lingling, karena saya keturunan Tionghoa tulen. Sebenarnya saya merasa segan untuk menceritakan semua ini, tetapi ada kalanya saya merasa harus menceritakannya kepada seseorang, internet menjadi salah satu pilihan saya untuk menceritakan rahasia yang saya pendam selama bertahun-tahun, karena disini, saya bebas bercerita tanpa seorangpun tahu siapa saya, tanpa seorangpun bisa menghakimi masa lalu saya yang hitam dan penuh dengan dosa. Karena itulah, melalui sarana nirkabel ini, kucoba untuk melepaskan segala beban yang kupendam selama ini, semoga ketika ia terlepas, ia juga melepaskanku untuk menyambut hidup baru yang bebas dari bayang-bayang masa lalu. Semoga.

Aku lahir sebagai sulung dari 2 bersaudara, papa dan mama menikah di usia yang teramat muda, waktu itu mereka terpaksa menikah karena kehendak kakek nenek dan tradisi keluarga, usia mama 19 tahun dan mama 17 tahun ketika mereka menikah. Papa dan Mama tinggal dalam rumah kontrakan yang lumayan besar, sambil menabung untuk membeli rumah sendiri. 5 tahun setelah aku dilahirkan, mama baru mendapatkan kehamilannya yang kedua, sayangnya Tuhan berkehendak lain, dalam proses persalinan prematur untuk melahirkan adik yang belakangan diketahui berjenis kelamin laki-laki itu, mama mengalami pendarahan hebat, nyawa keduanya tidak tertolong. Akhirnya, tinggallah aku dan papa dalam kesunyian rumah yang dari hari ke hari semakin menyayat hati. Papa dengan tabah merawat aku sebagai single parent, segala urusan papa-lah yang mengerjakan, mulai dari mendaftarkan aku masuk SD, memandikan dan bangun pagi-pagi untuk memasak serta mengantarkan aku ke sekolah, Beliau seakan larut dalam kesibukan kerja dan konsentrasi dalam mengasuh aku. Papa tidak pernah menikah lagi, mungkin itu diakibatkan oleh akumulasi perasaan bersalah beliau setelah kehilangan mama dan adikku di usia yang sedemikian muda. Tahun 1998, Krisis melanda hidup kami. Papa kehilangan pekerjaan dan harus mencari jalan untuk membiayai kehidupan kami berdua. Saat itu usiaku 11 tahun. Kami terpaksa pindah ke sebuah rumah kontrakan kecil yang sekaligus menjadi tempat usaha ayah berjualan sembako. Rumah kontrakan ini begitu kecil, hanya terdiri dari satu ruangan besar yang digunakan papa untuk berjualan, terisi penuh dengan kotak-kotak kayu yang berisi beras serta bahan makanan pokok lainnya serta sebuah meja kayu yang tak seberapa lebar dimana papa sering duduk dibelakangnya mendengarkan radio sambil memencet-mencet kalkulator dan menulis pembukuan, tidak ada ruang tamu, kamar tidur hanya satu berupa dipan yang beralaskan spring bed tua yang mulai kehilangan kelenturannya, satu kamar mandi sederhana dan sebuah kursi goyang yang terletak di samping meja pembukuan. Papa dimataku adalah seorang laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab, dedikasinya padaku dan pada pekerjaannya membuatku merasa kagum dan sangat menyayangi beliau. 2 tahun berlalu dengan cepat, aku tumbuh menjadi gadis kecil yang banyak disukai orang, banyak teman-teman sering merasa aku tidak cocok menjadi manusia, tetapi lebih cocok dipajang di rak toko boneka. Mungkin karena wajahku yang kata orang sangat imut, innocent dan putih bersih. Mata sipitku, bibirku yang merah segar, dan tubuhku yang mungil tetapi mulai berisi, menambah daftar pujian demi pujian orang kepadaku, yang pada saat itu sama sekali tidak aku pedulikan karena aku belum begitu paham apa arti semua kelebihan ini bagi seorang wanita. Pertumbuhanku terjadi dengan sangat cepat, sehingga membuat papa sedikit kebingungan, apalagi ketika suatu hari aku berteriak-teriak dan menangis karena dari vaginaku mengalir darah segar dengan jumlah yang banyak. Agak geli membayangkan waktu itu papa memperagakan bagaimana cara memakai pembalut wanita, dan mati-matian menenangkan aku. Payudaraku pun mulai tumbuh, dan herannya pertumbuhan payudaraku sepertinya agak lebih cepat daripada anak-anak *** lainnya, tidak proporsional dengan tubuhku yang mungil. Pada waktu itu, aku masih mengenakan mini set atau kaus dalam saja, sampai suatu hari papa membawa pulang entah berapa buah BH dengan berbagai ukuran dan menyuruhku mencobanya satu persatu plus satu gambar wanita yang sedang memakai BH. Aku segera mencobanya satu persatu di kamar, setengah mati mencoba memasang BH itu ke atas tubuhku, sementara papa menunggu di luar. Repotnya aku belum terbiasa untuk mengaitkan bagian belakang BH, tanganku tidak sampai. Aku dengan polos memanggil papa untuk masuk. “Pa, masuk sebentar bantuin Ling” Teriakku. ” nggak, kamu sudah besar ling, harus berusaha mandiri ” Bentak papa. “tapi tangan Ling nggak sampai Pa !” sahutku dengan sedikit merengek. Akhirnya, papa masuk ke kamar tidur kami, agak jengah sepertinya beliau melihat aku hanya memakai celana pendek dan BH saja. ” Ini pa ” jawabku memunggungi beliau sambil menoleh kebelakang dan memegang kedua sisi pengait BH yang belum terpasang dengan sempurna. Dengan cepat Papa membantuku mengaitkan tali BH itu. Ternyata ukurannya pas dan nyaman dipakai. “yang ini aja pa, yang ini ukurannya pas” Kataku. “Ya, nanti sore sehabis tutup toko papa kasih duit buat beli yang ukuran itu” Setelah mendengar jawabannya aku langsung berusaha melepas BH itu. Lagi-lagi papa membantuku membuka kait BH. Begitu terlepas, aku dengan cuek dan polos langsung meloloskan BH itu dan berbalik tubuh untuk mengambil kaus dalamku yang ada di sisi kanan tempat Papa berdiri. Tak ayal, terpampanglah kedua buah dadaku yang mengkal dan membulat kenyal seukuran mangkok mie ayam dengan puting kecil berwarna kemerahan setengah cokelat muda dihadapan beliau. Ada sedetik dua detik Beliau secara refleks memandangi kedua belah payudaraku yang ada dihadapan matanya, lalu segera membuang muka ke arah pintu kamar. Aku masih dengan tanpa malu-malu dan pikiran apapun, kembali mengenakan kaus dalam dan T-shirtku. Aku tidak berpikiran apa-apa karena sejak kecil Papa-lah yang memandikanku, begitu aku masuk kelas 5 SD, papa barulah menyuruhku untuk lebih mandiri. Sore harinya setelah tutup toko, Papa memberiku sejumlah uang untuk membeli BH dengan ukuran 31 A, uang itu segera kumasukkan ke dalam dompet. Setelah mandi, aku segera berangkat ke toko terdekat. Belum ada 100 meter aku berjalan dari rumah, aku merogoh dompetku. Sial, ternyata dompetku masih ada diatas meja di kamar tidur. Sekembaliku ke rumah, aku melihat kamar tidur kami pintunya sedikit terbuka, sementara aku berjalan hendak masuk ke kamar, mataku menangkap suatu gambaran yang mengintip sayup di antara celah-celah pintu kamar yang sedikit terbuka, betapa terkejutnya aku melihat papa sedang berada di atas tempat tidur kami tanpa selembar benangpun ada di tubuhnya, dan yang membuatku nyaris terpekik adalah, papa sedang menggerak-gerakkan sesuatu di pangkal pahanya. Sesuatu yang panjang sekali dan besar. Keringat dingin tiba-tiba keluar dari seluruh pori-pori tubuhku, lidahku sedikit kelu dan kerongkonganku tiba-tiba terasa kering karena perasaan tegang yang tak pernah kualami sebelumnya. Tangan kanannya menggenggam batang itu dengan kuat dan mengocoknya ke atas dan ke bawah berulang kali, sementara tangan kirinya memegang sesuatu, kalau penglihatanku tak salah, itu adalah sebuah buku. Aku ingin berlari dan menghindari pemandangan itu, tetapi tubuhku terasa lemas sekali, kedua lututku seperti tertanam ke dalam tanah, sementara rasa penasaran juga perlahan-lahan ikut menyelinap masuk ke dalam pikiran bocahku yang masih penuh dengan rasa ingin tahu. Dan pada akhirnya, aku malah terdiam disana dan berusaha membuat suara sekecil mungkin, melihat dari celah pintu kamar wajah Papa yang terlihat serius dan sedikit tegang, alisnya mengkerut, terkadang kedua matanya terpejam sebentar kemudian terbuka lagi, menatap kosong ke langit-langit kamar, terkadang gerakannya terhenti sebentar dan matanya menoleh ke arah buku kecil yang dipegangnya, gerakannya begitu tak terduga, terkadang cepat, terkadang jari-jarinya hanya mengusap bagian puncak batang itu yang mengkilap kemerahan diterpa lampu kamar. Aku tiba-tiba seperti berada di dunia lain, kesunyian menyergapku dengan menyuguhkan pemandangan yang entah kenapa seperti menguras habis seluruh fokus dan energi tubuhku. Sampai pada suatu titik, Papa mempercepat kocokan di tangannya, jari-jari kakinya melebar, menegang sesaat disertai geraman yang membuatku merinding, merinding karena samar-samar kudengar papa memanggil namaku…seperti geraman yang tertahan di kerongkongan namun jelas terdengar, “Ling Ling…Ling ling…” pada detik terakhir itulah kulihat cairan putih kental berlompatan keluar dari batang yang Beliau genggam, banyak sekali, memancar keluar beberapa kali, menerpa kulit dada dan perut papa, sebagian meleleh di jari tangannya. Selang beberapa detik, Papa tergelepar lemas di atas tempat tidur, tangannya perlahan melepaskan genggamannya pada batang di pangkal pahanya. Dalam kondisi itu, aku melihat batang itu dengan lebih jelas lagi, urat-urat di bagian bawah batangnya, mengkilap oleh sedikit cairan putih yang meleleh turun dari ujung batangnya yang kini lebih berwarna keunguan, tidak semerah ketika pertama kali aku melihatnya. Pelan-pelan kubalikkan tubuhku, dan memutar otak bagaimana mengambil dompet yang masih tertinggal di meja kamar kami. Sialnya, ketika hendak berbalik tubuhku tak sengaja menyenggol rak piring yang ada di sebelah kanan tubuhku. “mati aku” pikirku. Suaranya cukup keras. Jantungku seakan berhenti berdebar, ingin rasanya aku lenyap dari dunia ini. “ Lingling???…..” tiba-tiba suara Papa memanggil dari dalam kamar. Aku tidak menjawab. Terdengar suara orang terbangun dari atas ranjang dan seperti tergopoh-gopoh berjalan menuju pintu kamar…Belum sempat aku menjawab, pintu kamar terbuka. Papa sudah mengenakan celana pendeknya. Wajahnya setengah pucat pasi melihatku masih berdiri di depan kamar. Situasi saat itu benar-benar kikuk dan canggung bagi kami berdua. Sedikit tergagap Papa bertanya “Lho kok belum berangkat ?” Tak kalah gugupnya aku menjawab “Belum Pa, dompet Ling ketinggalan di kamar” Tanpa menunggu jawaban Papa, aku menerobos masuk kamar melewati tubuh Papa yang masih berdiri di depan kamar. Sekilas kulihat tanggannya sedikit-sedikit mengusap rambut kepalanya yang basah oleh keringat. Setelah mengambil dompet, aku segera keluar kamar dan meninggalkan papa sendirian dengan segala macam perasaan yang berkecamuk. “ Ling berangkat dulu Pa” kucoba untuk bersikap senormal mungkin seakan tidak pernah terjadi apa-apa. Papa hanya mendehem pelan, mengiyakan pamitku. Sepanjang jalan menuju toko pakaian dalam, otakku tak berhenti memutar kembali reel demi reel yang merekam kejadian tadi dengan jelas…ada ribuan pertanyaan yang mendesak untuk dijawab. Perasaan aneh dan malu yang terkulminasi menjadi satu dalam batinku. Apa yang sedang dilakukan Papa tadi ? Mengapa beliau melakukannya ? Mengapa Beliau memanggil namaku ? Buku apakah yang ada di tangan kiri papa ? Cairan apa yang keluar dari burung Papa ? Baru kusadari sekarang, bagian bawah tubuhku, tepatnya di bagian celana dalamku terasa ada rasa dingin yang membuat jalanku terasa kurang nyaman, apakah aku mengompol tadi ketika sedang mengintip Papa ? Malamnya, ketika aku pulang, seperti biasa kami makan bersama, tetapi suasana canggung masih menyelimuti keadaan rumah kami. Papa seperti berubah agak pendiam, dan hanya sekali-kali berbasa-basi menanyakan apakah aku sudah membeli barang keperluanku di toko, tambah atau tidak nasinya. Sementara aku masih tidak berani melihat ke arah Papa, menunduk dan berusaha menikmati capcay goreng kesukaanku yang entah mengapa hari ini terasa sulit untuk ditelan. Tidak ada candaan-candaan seperti hari-hari biasa kami. Kami sama-sama saling tahu rahasia masing-masing, Aku tahu Rahasia papa dengan kegiatan anehnya, sementara Papa tahu Rahasiaku yang pernah melihat kemaluan laki-laki dewasa di usiaku yang baru beranjak 13 tahun. Menjelang tidur, aku yang biasanya tidur sambil menghadap ke arah Papa, atau kadang bergelendotan manja, memilih untuk tidur sambil memunggungi Papa. Kami memang tidur seranjang, karena tidak ada ruang tidur lain di rumah kontrakan kami yang begitu kecil ini. Semalaman jantungku berdebar-debar, bayangan pemandangan tadi sore masih melekat dengan jelasnya di benakku. Malam itu, waktu berjalan begitu lambat. Sampai akhirnya, jauh setelah lampu kamar dimatikan, otakku yang kelelahan menyeretku dengan paksa ke alam tidur.

Keesokan paginya, aku berangkat sekolah seperti biasa. Hanya saja pikiranku sepanjang hari itu tidak terlalu fokus dengan pelajaran sekolah, melainkan masih hinggap pada penglihatanku kemarin sore. Iseng-iseng kuberanikan bertanya pada Devi, teman sebangkuku yang sekaligus juga sahabat baikku, selain terkenal Gaul, Devi juga memiliki pengetahuan yang cukup luas ketimbang teman-teman seumuran kami.“Dev, gue boleh tanya sesuatu nggak ? Tapi mungkin pertanyaannya agak-agak gimana gitu.. “ Devi tersenyum geli “tanya tinggal tanya ajalah…emang apaan ? “ Aku mengambil jeda sebentar dengan menarik nafas yang sengaja kuberat-beratkan sebelum akhirnya pertanyaan itu meluncur keluar dengan malu-malu. “eng…Dev, pernah liat itunya cowok belum “? Devi sedikit melongo, seperti tidak percaya pertanyaan seperti itu keluar dari sobat dekatnya yang terkenal paling alim dan rajin beribadah di seantero sekolah, maklum, aku adalah leader kegiatan rohani di sekolah. Sembari ketawa Devi menjawab “ haha…lu tuh ada-ada aja Cath, ya pernahlah, punya adik gue, kecil, buntet, keriput”Aku hanya ber-ooh dan mengangguk-anggukkan kepalaku. “emang dari burung itu bisa keluar cairan selain air kencing ya ?” tanyaku lagi hati-hati, di otakku terbayang cairan putih kental yang kemarin terpancar keluar dari burung Papa. “wah lu ini tanyanya semakin aneh-aneh Cath, tumben-tumbenan tanya-tanya yang jorok gini “ Devi terkikik kecil. “setahu gue sih, kencing ma sperma keluarnya dari lubang yang sama, kalau cowok lagi kebelet pipis, keluarnya kencing, kalau lagi kebelet kawin, keluarnya sperma” tambahnya lagi. “Kawin ? Maksudnya ?” tanyaku lebih jauh lagi. “Ah masa lu nggak tahu sih ? Kawin ya itu, tahukan pelajaran biologi yang diajarkan Bapak Larso kemarin, kalau ada sapi ber-reproduksi…ciee bahasa gue keren ya, nah si sapi pingin punya anak kan, mereka harus kawin dulu, atau cara gampangannya, itunya si sapi cowok masuk ke itunya si sapi cewek, lalu didalem itunya si sapi cewek, itunya si sapi cowok keluarin sperma, lalu sperma ketemu deh sama sel telur, jadi deh anak sapi”Kuserap dengan cepat segala penjelasan Devi bagai Murid yang ingin menyedot habis semua tenaga dalam sang Guru. “jadi harus ada cewek, itunya si cowok baru bisa keluar sperma ya ?” Kuberondong Devi dengan pertanyaan-pertanyaan konyolku. “Ya harusnya sih gitu”Devi terlihat berpikir, namun sebelum dia sempat menjelaskan lebih jauh, aku kembali bertanya “Kalau nggak ada ceweknya tetapi bisa keluar sperma, gimana dong? “ Tiba-tiba ada suara keras di belakang kami berdua “Itu mah namanya onani ! Hahahaha” tak kusadari, dari tadi si Alex ternyata berada di belakang kami berdua, sibuk menguping. Alex adalah murid yang terkenal paling badung di sekolah kami. Sementara Devi sibuk mengumpat si Alex yang tiba-tiba muncul di belakang kami. Aku malah sibuk meng-copy setiap kosakata baru yang baru kudengar hari ini. Rasa ingin tahu-ku yang besar atas apa yang terjadi pada diri Papa membuatku sedikit bermuka tebal hari itu, dengan penuh keberanian aku bertanya kepada Alex. “Emang Onani apaan Lex ?” Si Alex masih dengan ketawa nya yang khas menyahut “ Mainan burung sendiri, ga kuat nahan nafsu kali ye hahaha”. Kemudian tangannya ditempelkan ke arah celana dan menggerak-gerakkannya naik turun. Si Devi kontan langsung memekik sambil menutup wajahnya, sementara aku hanya melongo seperti orang bodoh. Baru kutahu, ternyata kegiatan yang papa lakukan adalah onani, keyakinanku semakin terbukti dengan gerakan tangan Alex yang mirip sekali dengan gerakan tangan Papa waktu itu. Tetapi nggak kuat nahan nafsu ? Nafsu pada siapa ? Terlintas ketika Papa menyebut namaku sesaat sebelum spermanya berhamburan mengenai dada dan perutnya. Pada siapa Papa bernafsu ?

Sepulang sekolah, Kulihat Papa sedang menggotong beberapa kardus bekas, beliau berkata “Ling, Papa mau kulakan hari ini, toko tutup sebentar, kamu sendirian di rumah ya, itu makanan sudah Papa siapkan di atas meja” Aku hanya mengangguk sambil menghindari tatapan mata terlalu lama dengannya. Setelah Papa pergi, rasa penasaranku berlanjut pada buku yang dipegang oleh Papa waktu itu. Entah dimana papa menyembunyikannya. Aku mencarinya kesana-kemari, sampai akhirnya kutemukan buku itu didalam lipatan baju beliau paling bawah di dalam lemari. F**t* Pl*s judulnya, selain itu juga ada beberapa buku berjudul En** Er**w. Setelah kutemukan buku-buku itu, yang jumlahnya total ada 8 buku, aku mengecek pintu depan rumah apakah sudah terkunci dengan baik, lalu kukunci pintu kamar kami, takut apabila kala-kala Papa pulang mendadak. Didalam kamar itu, kubuka salah satu buku itu halaman per halaman, isinya kisah tentang kehidupan nyata seseorang. Dan yang membuatku panas dingin adalah cerita di dalam buku itu sangat gamblang menjelaskan bagaimana orang berpacaran, pernikahan, dan hubungan antara wanita dengan pria yang tabu diceritakan. Sambil memeluk guling, kubaca salah satu cerita didalam buku tersebut. Aku melayang. Semua kepolosan dan ketidaktahuanku tentang kehidupan manusia sedikit demi sedikit mulai terkikis oleh cerita-cerita vulgar dalam buku tersebut. Apa itu ejakulasi, ereksi, onani, oral seks bahkan orgasme bisa kucerna dengan gampang, lebih gampang ketimbang mendengar penjelasan Pak Larso guru Biologiku. Yang membuatku merasa aneh, ketika kujumpai bagian dari dalam buku tersebut yang menceritakan tentang persetubuhan Pria dan wanita, tanpa sadar aku menggesekkan bagian kewanitaanku ke guling yang sedang aku peluk, nyaman sekali. Celana dalamku terasa basah kuyup, seperti ada rasa gatal semu, rasa gatal yang tidak gatal tetapi nyata yang harus aku garukkan ke guling tersebut. Rasa gatal yang kuharap tidak pernah akan hilang selamanya, semacam perasaan yang ingin meluap tetapi tidak bisa keluar dengan lega. Semakin aku menekankan kewanitaanku ke guling tersebut, semakin aku nyaman dibuatnya. Di usia sekecil itu, memang aku bisa dikatakan buta total tentang pendidikan seks, hal itu mungkin di akibatkan oleh ketidakhadiran sosok ibu dalam hidupku. Cerita-cerita di dalam buku tersebut semakin menenggelamkanku ke dalam suatu dunia lain yang belum pernah ku terobos sebelumnya, layaknya dunia astro yang berada di antara batas ada dan tiada. Di saat itulah, aku memakan buah terlarangku yang pertama. Dan sebagai konsekuensinya, aku melakukan kegiatan masturbasiku yang pertama sebagai seorang perempuan. Suatu tahap yang aku yakin bahkan Devi, temanku yang gaul itu, belum sampai kesana. Ada kira-kira 2 jam aku membaca buku tersebut, sampai tiba waktunya aku merasa Papa sebentar lagi biasanya akan pulang. Buru-buru kutaruh kembali buku-buku tersebut ke tempat semula, lalu kubuka semua sentekan kunci dari dalam agar Papa bisa masuk ke rumah ketika pulang, kemudian langsung pergi mandi, kurasakan celana dalamku basah total oleh cairan yang asing bagiku. Didalam kamar mandi, sedikit kucolek cairan yang keluar dari Vaginaku. Seperti ingus putih bening, tetapi lebih encer. Tanpa sadar Jariku menyentuh bagian luar bagian vaginaku, mungkin akibat terangsang hebat, bagian itu menjadi sangat sensitif, entah digerakkan oleh kekuatan apa, aku meraba-raba vaginaku sendiri, menggosoknya sampai kutemukan satu bagian yang paling nyaman untuk kusentuh ( yang lewat pengalamanku membaca buku papa akhirnya aku tahu itu adalah salah satu bagian vagina yang disebut Clitoris ). Aku memejamkan mataku, tangan kiriku berpegangan pada pinggiran bak kamar mandi, sementara tangan kananku bergerak-gerak dengan lincahnya, mengikuti alur licin di belahan vaginaku. Aku merasakan kenikmatan yang lebih besar daripada hanya ketika menggosokkannya ke guling, mungkin dikarenakan kontak langsung antara kulit jari tanganku dengan saraf saraf di vaginaku. Namun tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar mandi. “Ling, papa pulang, nasinya kok belum dimakan ?” Aku gelagapan menjawab sembari otomatis mengangkat tanganku ke atas. “Iya Pa, Ling lupa…tadi belum gitu laper kok Pa, Papa makan saja” Sahutku sekenanya. Suara papa tadi cukup mengagetkanku yang baru sibuk-sibuknya ber-adaptasi dengan kegiatan baruku ini. “oh ya udah kalau begitu”. Begitu suara papa berlalu, kekagetanku menghilangkan minatku untuk melanjutkan kegiatan baruku itu. Aku segera meneruskan mandiku yang tertunda.
Hari demi hari berlalu, kebekuan dan kecanggungan antara aku dan Papa sudah mencair dan kembali normal seperti dahulu. Kami sudah bisa bercanda dan mengobrol seperti biasanya. Sampai tiba suatu hari, jadwal papa Kulakan barang-barang keperluan toko pun tiba. Seperti biasa, papa meninggalkanku tinggal sendirian di rumah. Buru-buru kukunci semua pintu dan segera menuju kamar untuk memuaskan rasa ingin tahuku akan buku-buku yang ada di lemari papa. Kuambil satu yang bersampul warna biru. Kurebahkan badanku di ranjang, dan pelan-pelan kubaca cerita-cerita didalamnya. Kembali aku merasa terangsang dibuatnya, kurasakan sedikit rasa kencang di kedua payudaraku. Kali ini, tak tanggung-tanggung, kulepaskan celanaku satu persatu, aku ingin merasakan sentuhan tak lagi dibatasi oleh kain penghalang. Kugosok-gosok clitorisku dengan lembut, mataku mempelototi isi buku itu sembari tanganku berkonsentrasi di bagian bawah tubuhku. Aku telah menjelma menjadi seorang gadis kecil yang terlalu cepat dewasa. Kenikmatan melanda seluruh tubuhku. Kakiku mengangkang dengan jari-jari kaki yang melebar tegang. Di buku ini, aku menemukan sebuah cerita yang menceritakan persetubuhan antara Ayah dan Puteri kandungnya. Awalnya aku merasa jengah dan sungkan untuk membacanya, tetapi rasa penasaranku lebih kuat, apalagi pertanyaanku tentang kepada siapa Papa bernafsu sedikit demi sedikit mulai menemukan jawabannya. Apakah Seorang papa mungkin bernafsu pada puterinya sendiri ? Darah dagingnya sendiri ?. Membaca cerita ini aku sedikit paham, bahwa mungkin waktu itu Papa onani setelah melihat payudara puterinya sendiri yang terpampang dengan bebas di depan matanya, apalagi Papa tidak menikah lagi, kehidupannya terfokus pada pekerjaannya, terang saja beliau lama sekali tidak merasakan sentuhan wanita. Padahal manusia mana yang jaman sekarang hidupnya sama sekali tidak tersentuh oleh kebutuhan biologis yang satu ini ?. Sekalipun setelah membaca buku ini, aku sedikit marah padanya, karena aku baru tahu bahwa apa yang papa lakukan dengan bernafsu padaku adalah sesuatu yang sangat jahat, tetapi aku sedikit memaklumi dosa beliau. Bagaimanapun juga, beliau adalah papa yang baik dan bertanggung jawab. Begitu sayangnya beliau padaku, sampai tidak sempat lagi berpikir untuk ber-rumah tangga kembali, padahal umurnya baru 32 tahun. Dengan kegantengan beliau, tentu mudah baginya mendapatkan wanita yang sepadan dengannya. Betapa tersiksanya batin papa, pikirku. Mungkin Papa benar khilaf setelah melihat payudaraku yang kubiarkan menggantung bebas di depan matanya. Laki-laki tentu punya nafsu pada perempuan. Itu normal, pikirku menghibur diri. Pikiranku melayang pada waktu aku memergoki Papa sedang ber-masturbasi. Cerita di dalam buku ini menghanyutkan aku, tanpa sadar, aku membayangkan batang papa, ekspresi wajah papa ketika ber-masturbasi, cairan sperma yang terpancar berkali-kali dari ujung keunguan burung papa, aku terangsang hebat. Gosokan jariku menjadi semakin intens menyentuh setiap relung titik sensitif di vaginaku. Kubayangkan tokoh laki-laki didalam buku ini adalah papa, dan puteri kandungnya adalah aku. Karena kenikmatan yang sudah teramat sangat akibat gesekan jari dan clitorisku, aku akhirnya benar-benar kehilangan akal sehatku, Aku menutup buku tersebut dan dengan tanpa takut berdosa membayangkan Papa sedang menyetubuhiku ! Membayangkan setiap lekuk kemaluannya, membayangkan sperma yang menghujani dada dan perutnya. Membayangkan beliau Memasukkan burungnya ke dalam vaginaku, persis seperti yang diceritakan oleh buku yang barusan aku baca tersebut. Sampai akhirnya, aku merasakan pegal yang merambat pelan di sekitar tulang pinggulku, otot perutku mengencang dan aku tersetrum badai ribuan volt yang mengguncang seluruh tulang belakangku. Aku merintih, kakiku mengangkang dan menegang ke samping kiri kanan. Dan pada satu titik, aku melenguh karena satu rasa nikmat yang sulit untuk di definisikan dengan kata-kata. Kubisikkan lirih kata “Papa…” ketika akhirnya badai itu mencapai puncaknya. Bayangan burung papa yang sedang memuncratkan spermanya menganga jelas di dalam pikiranku. Aku terangsang hebat. Mataku seperti dipaksa untuk mendelik, tulang punggungku dipaksa melengkung ke depan seturut pinggulku yang terus mengejar arah jari tanganku. Akhirnya aku ambruk lemas dengan keringat di seluruh tubuhku. Lemas sekali. Lega, puas, nyaman, ngilu…aneka perasaan teraduk dalam satu adonan batin yang kental. Aku mengalami orgasme pertamaku dengan membayangkan papaku sendiri. Tentu Ada sedikit perasaan berdosa terselip di hatiku. Aku merasa kebingungan dengan apa yang baru saja ku alami.
Semenjak saat itu, aku menjadi ketagihan melakukan masturbasi, terutama ketika Papa sedang kulakan barang di toko relasinya. Dan yang membuatku semakin bingung dan merasa berdosa adalah, seringkali aku membayangkan papaku sendiri sebagai fantasi masturbasiku. Aku merasakan kenikmatan yang lebih ketika membayangkan hubungan terlarang itu. Bahkan pernah terpikir, seandainya Papa meminta sendiri secara langsung untuk menyetubuhiku, mungkin aku akan dengan rela meluluskan permintaannya.

Suatu hari, Papa pergi lagi ke toko langganannya untuk ber-kulakan barang. Seperti biasa, aku langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk ber-masturbasi. Tak dinyana, ketika hendak mencapai puncak. Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. “Ling, papa pulang..kenapa grendelnya dikunci dari dalam ! Cepat bukain pintu, papa kehujanan”. Bagai tersambar geledek, aku segera memakai kembali celanaku, mengembalikan buku-buku itu ke lemari dan berlari menuju pintu rumah kami untuk membukakan pintu untuk Papa. Papa mengomel karena tindakanku yang menyontek grendel dari dalam. Setelah membersihkan diri, papa masuk ke kamar kami dan rebahan disana sambil membaca buku. Sementara aku yang tadi gagal mencapai puncak, rebahan di sampingnya. Masih tersisa sedikit nafsu untuk menyelesaikan permainan jariku. Aku melihat papa dari dekat, entah kenapa pikiranku semakin mengada-ada. Bayangan persetubuhan antara papa dan puteri kandung yang ada di cerita yang sering kubaca di dalam buku, melintas berkali-kali dalam pikiranku. Bagaimana rasanya menyentuh kemaluan laki-laki membuat akal sehatku sedikit hilang“Pa, masih marah ya ? “ tanyaku pelan. “Nggak, papa hanya capek saja. Papa ingin istirahat sebentar.” Aku yang sudah setengah sadar oleh bayangan-bayangan itu, menggeser posisi tubuhku lebih dekat ke beliau, lalu merapatkan tubuhku ke tubuhnya. Yang lebih gila lagi adalah, sengaja kutaruh tangan kiriku diatas celana papa. Kurasakan tonjolan yang masih bersaput kain itu menyentuh permukaan kulitku. Diluar dugaan, papa tidak ber-reaksi sama sekali. Kugerakkan pelan-pelan tanganku seakan seperti suatu gerakan yang tidak disengaja, dengan teramat pelan dan samar-samar jariku mengusap gundukan di celana papa, Sementara kepalaku bersandar di pundaknya yang sedang serius membaca buku. Aku yakin sekali, tonjolan itu semakin lama semakin besar dan keras. Aku tak bergeming, aku takut papa mengetahui kesengajaanku. Mengerasnya gundukan itu menggetarkan nafsuku yang tadi sempat tertunda. Apakah Papa benar waktu itu membayangkan aku, puteri kandungnya sendiri, sewaktu bermasturbasi ? Jika iya, bukankah itu artinya beliau bernafsu padaku ?. Dengan sedikit manja dan entah keberanian yang timbul dari mana aku bertanya “ kok papa ininya jadi keras ? “ Kataku sambil menekan-nekan dengan hati-hati gundukan itu dengan ujung-ujung jariku, dengan suara yang dibuat-buat sepolos dan se-naive mungkin. Papa tidak menjawab, tatapannya begitu serius membaca buku. “yee papa kok burung cowok bisa berubah jadi keras gini sih” kataku lagi sambil pura-pura ketawa. Ke-alpa-an reaksi dari papa membuatku semakin berani, “lucu ya pa…” lanjutku lagi sambil memberanikan diriku menggosok-gosoknya dengan ujung jari telunjukku. Papa tetap saja serius membaca buku. Ada sekitar 5 menit kugosok gundukan itu dengan jari telunjukku. Celana dalamku mulai basah. Posisi tubuhku sekarang lebih merapat lagi ke arah papa. Pelan tanganku ku arahkan ke atas “Perut papa tambah buncit ya…kebanyakan makan sih” kataku lagi sambil mengelus-elus perutnya. Beberapa lama kuelus-elus perut buncitnya mengikuti garis celana pendek yang sedang dikenakannya. Dan ketika nafsuku sudah tak bisa kutahan lagi, nekat kuselipkan tanganku ke dalam garis celananya, selangkah demi selangkah, se-centi demi se-centi, pelaaaaaan dan hati-hati seperti situasi penjinak bom yang hendak memilih kabel tembaga mana yang akan di potong, kusamarkan semua itu dalam gerakan elusan sayang. Terkadang tanganku berhenti memainkan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar pusarnya. Suasana saat itu sangat mendebarkan. Dan nafasku seakan terhenti ketika ujung jariku menyambar sesuatu yang hangat dan kenyal di bawah sana. Hangat dan berair. Ujung batang itu langsung kutekan lembut dengan ujung jariku, nafasku terasa sesak, pembuluh darah di wajahku memanas oleh satu pengalaman yang pertama kali kurasakan dalam hidupku. Hingga pada satu titik, tanganku merogoh lebih dalam dan menangkap batang kenyal yang mengeras tersebut. Papa sedikit mengernyitkan alisnya ketika aku mencoba melirik sedikit ke atas, tetapi Beliau masih terlihat asyik membaca buku. Tiadanya reaksi sama sekali membuatku sedikit yakin, beliau mengijinkan semua ini terjadi. Dengan bebas kugerakkan tanganku mengelus batang kenyal itu ke atas dan kebawah sambil terkadang jempolku berhenti menekan puncak burung papaku. Situasi begitu menegangkan. Aku berpura-pura bego seperti anak kecil polos yang baru saja menemukan mainan baru, sementara Papa masih terus berpura-pura membaca buku. Kesunyian melanda kami berdua, suara jam tiktok kuno di dinding kamar memenuhi ruangan. Batang itu semakin lama semakin keras, ujungnya mengeluarkan semacam lendir bening lengket yang membasahi telapak tanganku. Tangan kananku terus menggenggamnya sembari terus mengocoknya dengan irama yang makin lama makin cepat, setengah gemas. Tiba-tiba ruangan kami menjadi begitu gelap, papa mematikan lampu baca yang ada di samping tempat tidur kami. Otomatis gerakan kocokanku berhenti sebentar sampai kurasakan suatu belaian lembut di rambut kepalaku. Kubenamkan wajahku erat-erat di atas tulang belikat papa, tanganku pun secara refleks kembali bergerak mengocok batang yang masih bersembunyi di lipatan celana papa dengan lembut. Tangan papa masih membelai belai rambutku. Perasaan malu dan terangsang bercampur menjadi satu. Kurasakan badan papa sedikit berguncang, seperti hendak bangun dari rebahnya. Tetapi ternyata Papa bukannya bermaksud hendak bangun ketika kusadari pelan-pelan kulit tanganku tersentuh oleh udara bebas, Papa melepas celana pendeknya sehingga sekarang tanganku bisa bergerak lebih bebas lagi.Kesempatan itu tak kusia-siakan, tanganku bergerak semakin cepat ke atas dan ke bawah seraya terkadang jempolku menekan-nekan ujung batang kemaluan papa. Kegelapan dan kesunyian di kamar kami seakan membeku, hanya terdengar suara kecipak gesekan antara kulit tanganku dan kulit kemaluan Papa. Belaiannya di rambut kepalaku menjadi semakin intens, bahkan ada suatu tekanan di belakang kepalaku untuk semakin mendekat ke tubuhnya. Mendadak Papa bangun dari rebahnya, terlepaslah batang kemaluan papa dari genggaman tanganku. Pikiranku berusaha menebak-nebak apa yang hendak dilakukan oleh Papa. Ternyata Papa bergerak memelukku dari atas, sambil tangannya yang sebelah kiri memegang kepalaku bagian belakang, beliau memelukku erat-erat dan mulai menggerakkan tubuhnya ke arah bawah. Jantungku berdetak tak beraturan, ketika kurasakan jari -jari papa menyusuri pinggulku, dan dengan satu gerakan ke bawah yang cepat, celana ku dipelorotkan kebawah bersama dengan celana dalamku, aku sedikit memekik lirih ketika kurasakan udara dingin yang tiba-tiba menyentuh kulit paha dan selakanganku. Aku diam tak bergerak sampai kurasakan kecupan kecupan ringan di betisku, papa menciumi betis itu dengan lembut bergantian kiri dan kanan, kakiku gemetaran. Tidak ada suara apapun di kamar kami, sunyi sekali. Hanya bunyi gesekan sprei yang terkadang terdengar. Kami sama-sama menjaga image kami sebagai Papa dan anak, berusaha agar semua ini tidak terlalu membuat kami malu dan merasa bersalah. Perlahan ciuman papa berlabuh di pahaku sebelah dalam, aku merasa kegelian tetapi ku tahan, keinginan untuk menjaga image dan agar permainan ini terus berlanjut tanpa ada perasaan apapun yang mengganggu lebih kuat daripada hanya sekedar rasa geli yang masih bisa kutahan dengan menggigit bibirku pelan. Langkah papa dengan mematikan lampu kamar mungkin hanyalah suatu usaha untuk mengurangi rasa bersalah itu, setidaknya kami tidak saling memandang, tidak saling melihat bahwa yang sedang bersetubuh adalah Papa dan Anak kandungnya sendiri. Ciuman itu terasa hangat di paha bagian dalamku, membuatku otomatis membuka pahaku semakin lebar setiap menitnya u. Ciuman Papa telah mencapai bagian tulang yang ada di lipatan selangkanganku, ada rasa hangat dan lembut bermain-main di batas antara pinggul dan pahaku. Kenikmatan ini membuatku ingin berteriak sejadi-jadinya, ingin yang tak mungkin bisa kulepaskan dan hanya bisa kuredam sekuat tenaga dalam gelap yang sunyi ini. Tetapi toh akhirnya kesunyian itu pecah juga dengan suara desisanku tatkala ada selembar daging yang hangat dan basah menyapu garis vaginaku. “sss.ssssssssss……..ssssss. …” Aku menyadari itu adalah lidah papa yang mencoba mengorek bibir luar vaginaku, dan lidah itu akhirnya menemukan tujuan akhirnya. “hhhhhh…..aaaah…” clitorisku disaput dengan pelan, lembut dan sedikit tekanan-tekanan kecil oleh lidah papa. Tanganku otomatis memegang kepala bagian belakang papa. Kenikmatan apakah ini ? Perutku terasa teraduk-aduk, jari kakiku menegang keluar, kedua kakiku melayang tegang ke atas menjepit pundak papa. “sssss…ssshhhh…ahh… ” aku ingin sekali menyebut kata “Papa”….tapi entah kata itu seperti sulit keluar dari kerongkonganku. Terasa hembusan nafas hangat di vaginaku, sementara Lidah papa mencongkel-congkel, mengaduk-aduk clitorisku dengan liar. Suara desisan dan rintihanku membuat papa semakin tak masuk akal menghajar vagina puteri kandungnya sendiri dengan mulut dan lidahnya. Akupun sudah tak peduli lagi bahwa yang sedang ada dibawah tubuhku adalah Papa kandungku sendiri, kenikmatan yang sekarang kurasakan 100 kali lebih nikmat daripada kenikmatanku bermasturbasi. Terkadang lidah itu terasa bergetar dibawah sana, setiap kali badanku ingin menggeliat, Papa menahan kedua pahaku dengan tangannya. Dikejarnya Clitorisku ke arah manapun tubuh ini menggeliat. Ketika aku merasa tidak tahan lagi, ketika perasaan nikmat itu hampir mencapai puncaknya, aku ingin menangis sejadi-jadinya menahan rasa nikmat dan gatal yang aneh itu, namun mendadak Papa menghentikan sapuan lidahnya dan bergerak ke atas tubuhku. Dapat kurasakan nafas beliau di samping kanan leherku, sementara tangannya merambati perut dan pinggangku. Berusaha menyingkap kausku semakin ke atas, ke atas dan ke atas lagi. Sampai kemudian tangan itu beralih ke punggungku dan membuka kaitan BH-ku dengan sekali sontekan ringan. Papa menciumi leherku dengan ganas, seperti lupa bahwa aku adalah puteri kandung satu-satunya yang seharusnya Beliau jaga dari perbuatan terkutuk yang sedang kami lakukan. Keganasan Papa mungkin diakibatkan oleh begitu lamanya beliau melajang dan tidak pernah merasakan tubuh wanita lagi semenjak kepergian mendiang mamaku. Aku hanya bisa berpasrah dengan memegangi kedua lengannya. Untung kegelapan kamar kami menyamarkan semua ekspresi wajah kami berdua, menghalangi kami untuk melihat satu kenyataan yang seharusnya tidak boleh pernah terjadi diantara seorang ayah dan Anak kandungnya. Kurasakan telapak tangan yang kasar itu masuk menyelinap ke bawah BH-ku yang belum terlepas dengan sempurna, meraba dan meremas dengan ganasnya, seakan-akan ingin menikmati setiap jengkal kulit payudaraku, Jempol papa berusaha mencari kedua putingku yang waktu itu masih sekecil kacang hijau, dan ketika beliau menemukannya, beliau mengusap-usapnya dengan jempolnya sambil keempat jari tangan lainnya meremas dari arah samping buah dada puterinya sendiri. Aku mendesis-desis, payudaraku terasa kebal dan kencang, setiap goresan kuku di payudaraku, setiap usapan lembut yang mengenai putingku membuat darahku berdesir, kepalaku seakan menjadi ringan dan melayang. Kemudian tangan Papa menahan punggungku dan menarik tubuhku sedikit ke atas, beliau berusaha meloloskan baju dan BH-ku, aku sedikit kooperatif dengan mengangkat kedua belah lenganku. Akhirnya bebaslah seluruh tubuhku dari balutan kain, kami berdua seperti bayi yang baru lahir, berdua telanjang tanpa sehelai benangpun dalam kamar yang gelap itu, Papa memelukku sebentar dengan erat, menempelkan dadanya pada buah dada dan perutku, kurasakan gesekan kulit kami berdua, keringat kami bercampur menjadi satu. Tak lama, Papa perlahan bergerak ke bawah dan langsung menciumi buah dadaku dari bawah, mendesak-desakkan mulutnya ke arah buah dadaku yang masih ranum dan belum selesai berkembang itu, menjilati puting payudaraku sementara tangan yang lainnya tak henti meremas-remas dengan gemas payudara yang satunya. Vaginaku terasa basah kuyup oleh cairan rangsangan yang datang bertubi-tubi dari Papa. Kakiku secara alami membuka, seakan berharap masuknya tubuh papa ke tubuhku. Papa menempatkan pinggulnya diantara kedua belah kakiku. Sementara aku masih fokus pada rasa geli dan nikmat pada kedua belah payudaraku, aku merasakan ada satu benda tumpul yang menyentil-nyentil Clitoris dan lubang vaginaku. Sentilan itu menambah intensitas rangsangan yang meledak pelan-pelan merambati seluruh bagian tubuhku. Tangan Papa perlahan turun ke arah pinggulku, sementara bibirnya masih menari di kedua payudaraku. Sentilan itu yang ada di vaginaku berubah menjadi suatu tekanan, aku sadar, saat itu Papa ingin memasuki tubuhku, Papa sudah kehilangan seluruh kesadarannya, demikian juga aku. Kubuka kakiku lebar-lebar. Ujung batang kemaluan papa perlahan menyeruak ke lubang vaginaku, banyaknya cairan yang keluar serta rangsangan yang hebat yang diberikan papa kepadaku membuatnya terasa tidak begitu sakit. Papa memaju mundurkan kepala kemaluannya di lubang vagina puteri kandungnya dengan sabar dan telaten, setiap 10 menit, ia akan bertambah lebih dalam sedikit demi sedikit. Begitu sabar papa berusaha memasukkan kemaluannya ke dalam vaginaku. Sampai pada satu titik, bagaimanapun juga, masuknya barang orang dewasa sebesar itu dalam vagina perempuan berusia 13 tahun yang masih dalam masa perktumbuhan pastilah menimbulkan rasa perih. Papa kemudian tiba-tiba memegangi pundakku sambil memindahkan sasaran ciumannya ke leher dan belakang telingaku. Tanganku tegang memegangi kedua belah lengannya. Papa seperti sedang merencanakan sesuatu dengan menekan pundakku ke arah bawah dengan sedikit lebih kuat. “blessssssss……..aaaaaaah.. ..” aku terkejut menahan rasa perih yang amat sangat di bagian bawah tubuhku, badan mungil ku yang hendak terangkat ke atas akibat refleks menghindari rasa sakit ditahan papa menggunakan kedua telapak tangannya. Papa memeluk tubuhku dengan erat. Entah untuk berapa lama kami diam di posisi tersebut. Sementara kurasakan ada satu rasa mengganjal besar di dalam tubuh bagian bawahku, mengisi tiap ruang kosong di lubang vaginaku, dapat kurasakan kedutan di batang kemaluan papa di dalam tubuhku, setiap kedutan yang mengikuti irama detak jantungnya menyentuh setiap saraf dalam dinding lubang vaginaku. Pelan tapi pasti, Papa kembali menggerak-gerakkan kemaluannya di dalam dinding Vaginaku dengan teramat sangat hati-hati sambil menciumi kedua belah payudaraku, melumat puting susuku dengan lembut, kurasakan sedikit rasa perih dibawah sana, seperti ada cairan yang meleleh turun membasahi selangkangan dan pantatku. Papa terus bertahan dengan irama konstan bergerak maju mundur mengeluar-masukkan kemaluannya ke dalam vagina puteri kandungnya sendiri. Kesabaran Papa membuahkan hasil, ketika tak lama perih yang kurasakan sedikit demi sedikit bercampur dengan rasa nikmat yang tak terkira, setiap titik di lubang vaginaku yang masih sempit sekali, merespon gesekan demi gesekan kulit kemaluan papa. Tanganku yang sedari tadi mencengkeram lengan papa dengan kuat dan berusaha mendorong tubuh Papa ke atas mulai mengendur dan lemah, Papa seakan mengerti perubahan yang sedang kualami saat ini, Beliau mulai dengan telaten memberi percepatan pada gerakannya, tegak lurus terhadap waktu. Semakin lama, gerakan itu semakin meningkat, bahkan tak segan kemaluan papa bergerak mencongkel ke atas, ke samping kanan dan kiri, berusaha menyundulkan ujung kemaluannya ke dinding-dinding vaginaku, gerakan demi gerakan itu perlahan mulai membuatku mendesis dan merintih. “sssssshhh….aaaah….ssshhh. ..” aku benar-benar kelojotoan dibuatnya. Kepalaku menggeleng ke kanan dan ke kiri mengikuti irama tusukan kemaluan beliau, Tanganku sesekali mencengkeram dengan kasar di lengannya setiap kali kurasakan tusukan Papa mencapai dasar vaginaku, setiap kali bulu-bulu disekitar kemaluan papa menghantam clitorisku aku mendesis lirih. Kakiku mengunci pinggul papa, sementara Papa mulai dengan liarnya menghajar vagina Puteri kandungnya sendiri dengan gemasnya. Sudah tak kupedulikan lagi semua yang ada di dunia ini, siswi yang terkenal paling alim di sekolah, ketua perkumpulan rohani, sekarang sedang beradu nafsu dengan papa kandungnya sendiri di kamar. Kubiarkan Papa meng-eksplorasi tubuhku dengan buasnya, Kuijinkan beliau meremas-remas pantat dan buah dadaku seraya menghunjamkan kemaluannya berkali-kali ke vaginaku, seakan semua itu menjadi obat balas budiku kepada Beliau karena telah membesarkan aku dengan kasih sayang, menjadi penawar dahaga beliau semenjak hubungan seks terakhirnya dengan mendiang mamaku bertahun-tahun lalu. Kemaluan Papa terasa begitu penuh di lubang Vaginaku yang baru tumbuh bulu, berdenyut dan bergetar di dalam sana. Saraf-saraf diseluruh tubuhku menegang dengan hebatnya. Seandainya saja bisa kulihat ekspresi beliau di saat-saat seperti ini. Tubuhku yang mungil yang tak sebanding dengan tubuh papa yang besar membuat beliau lebih mudah dalam menjelajahi dan menikmati seluruh lekuk tubuhku. Entah berapa cupangan yang sudah mendarat di buah dadaku, Papa menghisap kedua belah lingkaran putingku dengan kencang, sementara kemaluannya tak berhenti mengoyak lubang vaginaku. Aku ingin menjerit dan berteriak sekuat tenaga rasanya saat itu. Ingin kukatakan betapa aku menyayangi papa, sangat menyayangi beliau. Tiba-tiba tubuhku ditarik ke atas oleh beliau, kemudian mendudukkan aku dipangkuan beliau, sehingga sekarang posisi buah dadaku kira-kira ada di hadapan wajah papa. Dihisapnya berkali-kali kedua lingkaran puting susuku, sambil tangannya memegangi pinggulku. Beliau lalu memelukku dan menaruh pantatku di atas ranjang, masih dalam posisi duduk dan kemaluan Papa masih menancap di dalam lubang vaginaku. Pelan, beliau mulai menggoyang kembali kemaluannya keluar masuk vaginaku, tangan kanan papa meremas-remas payudara kananku, sementara tangan kirinya mengusap-usap rambutku. Gelombang kenikmatan yang kualami semakin mengganas, usapan rambut dikepalaku membuat perasaan wanitaku bangkit, perasaan disayang dan di cintai membuatku merasa nyaman dan menghapus seluruh perasaan bersalah serta rasa maluku, seakan memang demikianlah aku ditakdirkan untuk bersetubuh dengan papa kandungku sendiri. Pinggulku mulai merasakan desiran-desiran aneh, aku tahu aku segera akan mengalami orgasme, tubuhku membalas setiap entakan dengan entakan, aku mengayun ke depan mencari kemaluan papa agar semakin dalam masuk ke dalam tubuhku. Papa menghunjamkan kemaluannya bertubi-tubi ke dalam vaginaku, Payudaraku mengencang di dalam genggaman tangan kiri papa. “ssssssssssh…ahhh…ahh…ss sh…ahhh “ aku merintih dengan keras, desisanku memenuhi ruangan, sementara papa pun mulai menggeram-geram dan sesekali meremas lembut kepalaku yang baru diusap-usapnya. Jari-jari kaki melengkung ke arah dalam, aku akan orgasme. Namun ketika kurasakan aku akan orgasme, tiba-tiba, Papa lagi-lagi merebahkan aku ke tempat tidur, memelukku kemudian mengecup dahiku dengan lembut. Dapat kurasakan tubuh papa bergerak condong sejenak ke arah samping tempat tidur kami, dalam keadaan kemaluannya masih tertancap di vaginaku. Ternyata papa menyalakan saklar lampu yang ada di sebelah tempat tidur kami. “byar!” Seketika itu, barulah kulihat keadaan kami yang sesungguhnya, sekarang papa bisa melihat seluruh bentuk tubuh puteri kandungnya dengan sangat jelas, payudaraku yang putih mengkal dengan bayangan urat-urat tipis berwarna hijau muda, putingku yang cokelat muda kemerahan, vaginaku yang baru ditumbuhi beberapa lembar bulu halus. wajahku menoleh ke arah samping menghindari melihat wajah papa. Aku malu sekali. Tetapi rasa malu itu berubah kembali menjadi rasa nikmat ketika tak lama kemudian kurasakan tubuhku kembali berguncang-guncang, orgasme ku yang tertunda tadi mulai membuncah kembali dalam relung-relung kesadaranku. Papa kembali meremasi kedua payudaraku, menciuminya dengan rakus, kali ini beliau terlihat lebih bernafsu ketimbang sebelumnya, mungkin karena sekarang beliau sudah melihat dengan jelas bentuk payudara puteri kandung yang diasuhnya sejak kecil. “ssssssh…aaaaaaaaaaaarhhh… ..sssh..”tanganku meremas remas lembut pinggang papa. Sodokan kemaluan papa terasa sangat cepat dibawah sana, beliau memaju mundurkan tubuhnya dengan tegas dan sedikit brutal. Seakan tidak mau menyia-nyiakan momen yang langka didalam hidupnya. Tubuhku menggelinjang, berguncang dengan hebat di atas kasur. Perasaan kaku di pinggulku mulai muncul kembali, Vaginaku merasakan nikmat yang luar biasa, kakiku menjepit dengan spontan pinggul papa, getaran aneh mulai menjalari tulang punggungku. Tiba-tiba papa memegang wajahku, dan membuatku menoleh ke arah wajahnya. Itulah pertama kalinya mati kami bertatapan secara langsung selama hubungan intim kami berlangsung. Papa masih menggoyang tubuhku dengan cepat dibawah sana. Dengan tangannya beliau menjaga agar wajahku tidak menoleh kemana-mana, sementara gelombang orgasmeku sudah tinggal menunggu hitungan detik. Tiba-tiba, papa mempercepat frekuensi gerakan kemaluannya didalam kemaluanku. Tangannya yang kanan meremas payudaraku yang baru tumbuh dengan gemas dan kuat, sementara tangannya mengelus kepalaku dan menahannya agar mata sipitku tetap bertatapan dengan matanya. Aku tak kuat lagi menahan bendungan kenikmatan yang hendak runtuh tersebut. Di detik-detik terakhir jebolnya orgasmeku, Papa memegang kedua sisi kepalaku dengan menggunakan kedua belah tangannya menghadap beliau, sambil dengan kasar menyentak-nyentakkan kemaluannya ke lubang kenikmatan puteri kandungnya. Aku membelalakkan mataku ke padanya, dari jarak sedekat ini melihat wajah papa, kurasakan gejolak nafsuku menukik pada titik tertingginya, mengaburkan segala tatanan moral dan etika kami sebagai Ayah dan anak sekandung, akhirnya sekelebat rasa nikmat seperti setruman listrik ribuan volt yang tidak mematikan menjalari seluruh tubuhku, membuat mulutku ternganga dan mata sipitku terbuka lebar memandang wajah papaku sendiri.”aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa aaaaaah….papa jahattttttt !!!!!!!!!” aku berteriak histeris. kupersembahkan ekspresi orgasme seorang puteri kandung kepada ayah kandungnya sendiri dengan sejelas-jelasnya, sedekat-dekatnya kepada papaku yang tersayang, entah bagaimana perasaan papa sekarang melihat dengan jelas ekspresi wajah puteri kandungnya yang sedang ternganga orgasme akibat tusukan kemaluannya sendiri. Belum selesai gelombang orgasmeku, ditengah pertemuan dua mata kami yang terus saling menatap dan membelalak, kurasakan cairan-cairan hangat menyerbu segenap relung vaginaku, memuncrat satu demi satu dan terasa hangat sampai ke perutku. Banyak sekali sperma papa, terasa tak henti memancar dari kemaluan papa ke dalam rahim puteri kandungnya. Sperma yang seharusnya menjadi bibit adik-adikku kini justru mengguyur rahimku dengan derasnya. Papa menggeram tanpa mengedipkan matanya sedikitpun melihat ke arah wajahku sambil memegangi erat kedua sisi kepalaku. Beberapa detik kami berdiam diri selepas ejakulasi papa, sampai aku kemudian merasa malu sendiri. Papa mencium keningku berkali-kali, dan ambruk badannya menimpa tubuhku. Tubuhku yang mungil tenggelam didalam tubuh papa. Papa perlahan mencium bibirku, kami berciuman bak orang yang pertama kali pacaran. Semalaman itu, aku tidur di atas dada papa. Papa memelukku dengan erat, kami berdua tidur dalam keadaan telanjang tanpa selembar benangpun di tubuh kami.

Sejak saat itu, Papa dan aku hidup bak suami istri. Hari-hari pertama, kami melakukannya seperti orang yang kesetanan. Tak peduli dimanapun kami berada, bahkan pernah suatu kali kami berhubungan intim diatas kursi goyang disaat toko dalam kondisi sepi dan masih buka, saat itu hujan deras sekali, aku memakai seragam SMPku namun tanpa celana dalam, sehingga orang dari luar tidak akan menyangka bahwa di atas kursi goyang itu, kemaluan papa sedang berada didalam kemaluanku. Beruntung pada hubungan seks kami yang pertama, aku tidak sampai hamil. Namun sejak hari itu, papa menyuruhku meminum pil sebelum kami berhubungan intim. Demikian kisah hidupku di masa lalu, sampai hari ini aku sudah menikah dan memiliki 1 orang anak. Tetapi ada kalanya aku masih berkunjung ke rumah papa, atau papa berkunjung ke rumah kami, tentunya kami masih selalu melakukan hubungan suami istri setiap kali bertemu.

_THE END_

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Related Post

Papa Jahat | memektante | 4.5

Leave a Reply