NAMI, PEMBANTUKU YANG BERNAFSU TINGGI

cerita seks gangbang, nami bugil, cerita pesta sex bergambar, kontol sma, foto bugil nami, nami telanjang, tukang jamu bahenol, cerita sex pengalaman Burhan ngentot artis Jane Shalimar, video bokep tante hifersex, bercinta dng ustadzah didapur, cerita seks pesugihan yg sadis, cerita ngentot adik lengkap gambar ilustrasi, Cerita enak nya ngentot mikha tambayong, video gesek memek licin

 Cerita sex Aku tinggal di sebuah perumahan di kawasan Serpong. Awalnya sih berdua dengan PRT yang aku bawa dari rumah orang tuaku, namun belakangan ibuku minta supaya PRT itu kembali ke rumahnya karena PRT yang lama mendadak mudik dan tak pernah kembali lagi. Sebagai anak, aku sih ikhlas aja, walaupun cukup repot mengurus rumah tanpa pembantu.

Akhirnya aku memutuskan untuk mencari PRT, dan dari seorang tukang jamu keliling, aku dikenalkan dengan seorang tukang jamu gendong yang ingin pensiun jualan jamu karena capek katanya dan memilih menjadi PRT, asal digaji minimal 750 ribu.

Pada hari Sabtu datanglah calon PRT itu, namanya Nami, umurnya sekitar 25 tahun, kabarnya dia janda dengan 1 anak. Wanita itu datang sendiri saja, mengenakan kaos yukensi  dan celana panjang yang cukup ketat sehingga menonjolkan bagian tubuhnya, terutama bagian dada dan pantatnya.

Sekilas aku sih oke saja, yang penting ada orang yang bisa bantu-bantu di rumah. Singkat cerita, Nami mulai bekerja di rumahku. Seminggu berlalu, aku mulai memperhatikan dan tertarik dengan bentuk tubuh Nami yang aduhay itu. Apalagi saat dia mengepel lantai, belahan dadanya yang besar begitu menggoda dan lenggokan pantatnya yang bahenol seakan menantangku untuk menjamahnya.

Maka dengan sengaja suatu waktu aku menyempatkan diri melihat jemuran underwear Nami sekedar untuk tahu bahwa ukuran branya adalah 36C, wuihhh… bikin ngiler aja. Gairahku pada Nami semakin menjadi tatkala pada suatu sore ketika aku pulang kerja dia sedang mandi dan mungkin karena biasanya aku tidak pernah pulang sore, maka dia tidak menutup pintu kamar mandi. Nami sama sekali tak menyadari bahwa aku sudah pulang karena mobilku memang aku tinggal di kantor.
Jantungku berdetak kencang menyadari bahwa aku punya peluang melihat tubuh Nami bugil, dan memang, tatkala aku melewati pintu kamar mandi, dengan jelas kulihat tubuh bugil Nami yang membuat kejantananku berkobar. Bodynya benar-benar bahenol dan padat. Payudaranya yang besar tampak masih sangat kencang dan demikian pula dengan pantatnya yang besar. Ingin rasanya aku melabrak masuk ke kamar mandi dan menerkam tubuh bahenol itu, namun aku cukup bersabar. Aku takut dia teriak dan malah jadi berabe.

Malam harinya, aku memanggilnya untuk mengobrol.
“Mbak Nami, katanya punya anak ya? Umur berapa”, tanyaku.
“Iya Mas, baru umur 3 tahun, tingga di kampung sama neneknya”, jawabnya.
“Wah, masih kecil ya, pasti masih butuh susu”, celotehku nakal sambil melirik buah dadanya yang super itu.
“Iya Mas, makanya saya kerja di sini, semua buat anak saya”, jawab Nami lugu tanpa sadar mataku dengan nakal memandangi buah melonnya penuh nafsu.

“Kamu kan saya gaji 750 ribu, mau enggak saya tambahin 250 ribu untuk uang susu anak kamu?”, sebuah pertanyaan yang mengundang tanda tanya.

“Wahh… kalau memang boleh sih, tentu mau Mas”, wajah kemayu Nami semeringah.
Dia tak sadar bahwa tawaranku pasti “ada udang di balik kutang”.
“Saya siap, ini uangnya”, kataku sambil menunjukkan uang 100 ribuan sebanyak sepuluh lembar.
“Besok kamu kan gajian, saya bisa kasih 1 juta, hanya ada syaratnya”, aku mulai tak kuasa menahan diri.
“Syarat apa Mas?”, tanya Nami yang mulai agak sadar pada maksudku.
“Hmmm… saya kasih uang susu buat anak Mbak, tapi saya minta susu dari Mbak”, aku langsung menembak.

“Ihhh… Mas nakal sih”, Nami tampak malu, wajahnya menunduk. Kesempatanku meraba tubuhnya.
“Ihhh… jangan Mas…”, ia tampak sangat jengah dan berusahan menolak tanganku.

Tapi aku sudah sangat paham bahasa tubuh wanita yang benar-benar menolak dengan tolakan yang basa-basi. Jelas tolakan Nami adalah basai-basi. Mana mungkin dia menolak diriku, seorang pria mapan yang usianya lebih muda darinya, dan menjanjikan tambahan uang baginya. Sementara dia adalah seorang janda yang tentu saja haus belaian dan butuh uang.

“Ini uangnya, simpan sana”, kataku seraya menyerahkan uang satu juta pada Nami,”Tapi kembali lagi ke sini ya, saya mau minum susu”.
“Ihh…. Mas…”, Nami masih malu, namun uang itu segera disambarnya dan dengan muka masih tersenyum wanita bahenol itu masuk ke kamarnya.

Aku tak perlu menunggu lama, wanita itu kembali lagi dengan wajah masih malu-malu dan dia juga sengaja menggati baju yang lebih mudah untuk di buka.
“Sini… duduk dekat saya”, ajakku.
Nami merapatkan tubuhnya di sampingku. Aku yang sudah birahi langsung meletakkan tanganku di atas buah dadanya.

boleh saya buka ya..”pintaku. Tanpa menunggu jawaban dari Nami, tanganku sudah meremas payudaranya itu.

Nami yang sudah lama menjanda itu tentu saja seperti orang haus yang diberi segelas air dingin. Wanita desa itu dengan wajah pasrah bercampur harap menyerahkan tubuh montoknya padaku. Baju putih yang dikenakannya dalam sekejap sudah terpapar di lantai. Tubuh montoknya hanya dibungkus tentop pink  dan cd. Buah dadanya dengan sombong menimbulkan puting susu coklat , sementara warna hitam jembutnya terbayang di balik CD tipisnya.

Dalam sekejap tangan-tangan Nami melepas tantop dan cdnya sehingga tubuh montoknya berbugil ria dihadapanku. Aku segera menyerbunya. Kupeluk, kuraba dan kuremas-remas seluruh lekuk tubuhnya. Tanganku seakan tak bosan-bosan meremas-remas buah dadanya itu, juga bongkah pantatnya yang besar.

“Aduhhhh Masss….enak banget… memek saya udah basahhhh…”,Nami terus menjerit dan mendesah.
Sadar bahwa Nami bakalan orgasme duluan karena sudah lama dia tidak disentuh laki-laki, aku justru meraba-raba vaginanya dan kudapati kalau liang senggamanya memang sudah becek.Tanganku sibuk memijat klitoris Nami sehingga wanita itu makin melejat-lejat dibakar birahi dan akhirnya meledak tatkala jariku menelusup masuk liang vaginanya.

“Aduhhhh… gak tahan Mas…. saya puassss….”, jeritnya”, Ohhhh…. enak bangetttt”.
Tubuh montok itu menggelinjang menikmati rasa orgasme dirasakannya.
“ohh… maaf ya Mas…”, katanya merasa tidak enak padaku.
“Enggak apa, yang penting masih bisa dipakai kan?” candaku.
“Masih dong Mas… habis Mas belum buka baju sih, mana kontolnya Mas…”, pintanya jorok sambil berupaya menelanjangiku. Dengan cekatan dia membuka celana panjangku dan sekaligus celana dalamku.

“Woow… gede juga nih kontolnya…”, puji Nami.
“Emut dong… jilatin kontol saya”, pintaku dan segera di kunyakan oleh Nami.
Tanpa canggung lagi, Nami memasukkan penisku ke mulutnya penuh nafsu.

“Mbak…. saya mau keluar di memek aja”, pintaku”, ayo dong nungging”.

Nami yang kini menjadi budak seksku tentu menuruti semua kataku. Dia menungging dan menghadapkan pantat bahenolnya padaku, membuatku semakin bernafsu menyerang vaginanya dari belakang. Tak sulit memasuki vagina wanita anak satu yang sudah becek ini, penisku dengan penuh semangat memompa vaginanya, maju mundur, keluar masuk.

“Entot terusss…. ohhh… enak banget…”, jerit Nami keenakan.
Setiap erangan dan kata jorok dari mulutnya justru menambah panas birahiku. Sampai saatnya aku mengocok dengan cepat vaginanya.

“Sebentar lagi saya keluar ya….keluarin di dalama aja ya…”, pintaku.
“Iya Mas… silahkan… ayo…. saya juga mau puas lagi nih…”, jerit Nami.
Ternyata Nami orgasme lebih dahulu dan lejatan dinding vaginanya mendorong penisku juga menyemprotkan sperma hangat ke rahimnya.
Setelah itu ku cabut penisku dan dia pun  tergeletak lemas campur nikmat.

“Terima kasih ya…”, kataku. Nami terkejut bercampur senang.
“Saya… yang terima kasih Mas…” dengan wajah mesum,”Kapan Mas mau, saya siap”.
Setelah itu kami bersih bersih kan badan.
Setelah bersih-besih dan berpakaiyan aku pun kembali bernafsu melihat nurlela lagi.
langsung saja ku buka setengah dasteer yang di gunakannya, tampa menggunakan beha dan cd. langsung aku serang kemaluan nya dari belakang…

Setelah beberapa menit aku pompa dari belakang..aku sudah mencapai puncak.
langsung ku cabut batang penis ku. langsung ku tembakkan peju ku di wajah dan mulutnya.

Sejak saat itu Nami bekerja ganda, sebagai PRT dan juga budak seksku. Kapanpun aku mau, dia menyediakan tubuh montoknya. Akupun tanpa perhitungan mengeluarkan uang untuk memelihara aset Nami. Setiap bulan aku memberikan uang khusus untuk ke salon, biaya lulur dan spa vagina, sehingga mekipun PRT, tapi kulitnya halus dan vaginanya wangi.

Related Post

NAMI, PEMBANTUKU YANG BERNAFSU TINGGI | memektante | 4.5

Leave a Reply