Cerita Friska

cersek, crita sexs, cersex lesbian, cerita sex eliza, cerita sex waria, ceritavsex, cerita incest, cerita sex duo serigala, cerita sex selingkuh, cerita sex polwan, ceritasexxx, cerita dewasa ibu dan anak bersetubuh, Cerita bersenggama, cersex com, cerita sex obat tidur, cerita kenthu, cerita dewasa kita, cerirasex, cergamsex, cerita sex hipnotis, ilustrasi sex, cerita seks eliza, ceritadiperkosa, cersex santri, cersexdewasa, cerita dewasa sedarah, cerita tempek, cerita dewasa waria, cerita sex ketahuan onani, cerita seks kakek, cersex swinger, cerita netek, matabokep com, cerita sex sampai hamil, cerita sex netek, Cerita eksibisionis, Ngentot bidan, cerita sex bude, cerita sex lengkap dengan gambar, cerita sex ilustrasi, cerita sex bayar hutang, cerita mesum artis, cabe cabean sekolah dasar, Cerita ngentot duo serigala, cerita sex pemulung, cerita seks aura kasih, cerita sex thailand, bokep bertamu, cerita sex obat bius, kontol menantuku, cerita mesum kakek, cerita sex selingkuh bergambar, cerita sek selingkuh, cerita sex pamela, be jav, cerita sex artis berjilbab, cerita sex ibu hamil, cerita ngentot gambar, cerita sex ibu teman, Cerita eliza, cerita seks pilot, cerita sex full ilustrasi, cerita seks jepang, cerita seks foursome, bokep bayar hutang, Ceritasexbebas, Cerita seks waria, sipwap, cerita phone sex, cerita ngentot kakek, cerita sex hamil, cerita ponsex, eliza sulaiman bugil, cerita sex majikan berjilbab pemuas nafsu tukang kebun, Cerita sex foursome, Cersex dewasa, cerita sex hamil muda, Cerita ngentot dan gambar, cersex gila, wanita pakai baju tidur tembus pandang, cerita sek full gambar, cerita sex ibu menyusui, GEKSO, ribuan cerita seks, sex anak idiot di desa, cerita ngentot janda tua, cerita sex handjob, cerita sex ibu dan anak kandung bergambar, cerita gambar ngentot, cerita ngesex, cerita dewasa istri selingkuh, cerita sex jepang bergambar, cerita dewasa kakek, cerita pesta sex, cerita ngrntot, cerita ngentot di hutan, cersex dengan, ceritasexkeluarga, cerita foursome, kumpulan cerita sex sedarah

Lari! Sembunyi! Itulah yang terus berada di otakku sekarang ini. Ia terus mengejarku semenjak aku pulang dari rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan kakakku. Ia terus mengejarku untuk melayani nafsu binatangnya. Aku tak berani keluar kamar hingga ayahku pulang. Selama ini aku kebutuhan panganku dapat terpenuhi melalui memesan delivery yang langsung diantarkan ke kamarku. Tubuhku terlihat sedikit kurus karena sudah 3 hari ini aku hanya makan satu kali. Mungkin kalau mentalku tidak kuat aku akan bunuh diri disini. Aku masih ingin hidup!!!! Aku masih mau menikmati masa mudaku! Aku tidak mau kehilangannya begitu saja. Uang yang diberikan ayahku sudah mulai menipis. Aku harus hemat hemat untuk dapat bertahan hidup dikamarku. Hari hari kuhabiskan hanya menonton tv. Kakakku bagai singa kelaparan memasang cctv didepan pintu kamarku sehingga jika aku keluar kamar ia bisa langsung tahu dan akhirnya ia dapat memangsaku.

*** awal dari penderitaanku ***

“Krrryuuuukkkk………..” Aku memegang perutku. Rasa lapar ini sudah tidak bisa di tahan lagi. Aku harus mencari sesuatu yang bisa di makan. Dari kemarin, kerjaanku hanyalah meminum air dari keran kamar mandiku. Semua air yang keluar di rumah ini sudah melalui proses pemasakan dan sterilisasi, jadi jika aku kehabisan stock air mineral, aku bisa meminumnya dari keran. Nasibku di sini sudah seperti tahanan, lebih tepatnya tawanan perang yang tidak diberi makan dan tidak boleh kemana mana. Oh malangnya nasibku. Kalau aku keluar pastinya seribu jebakan akan datang mengancam diriku. Mau tidak mau aku harus mencoba mengatur siasat. Waktu terus berjalan. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 19.00, mungkin kakakku sudah bosan menungguku sekarang ini. Aku mencoba untuk membuka pintu kamarku perlahan. Aku melihat sejenak ke luar, sepertinya kosong. Aku mengeluarkan foam yang biasa kupakai untuk mengerjai temanku yang berulang tahun dulu, kemudian aku menyemprotkan foam itu ke arah cctv. Aku langsung buru buru keluar dari kamarku dan beranjak menuju kamar tamu yang terletak tidak jauh dari pintu utama. Aku buru buru masuk dan mengunci pintu kamar tamu yang sekarang ini menjadi tempat pelarianku. Semua aman terkendali. Aku sedikit menghela nafas. Tiba tiba lampu menyala dan aku sangat terkejut melihat kakakku berdiri didekatku sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Wuaaaaaa!!!!” Aku berteriak memekik ketika melihat kakakku.

Belum sempat aku membuka kunci pintu itu lagi, aku sudah dipiting oleh kakakku kemudian ia melempar tubuhku diatas ranjang tamu.

Oh tidak! Jangan lagi! Aku tidak mau.

“Kakak ampunn aku ga mau kakkk, tolonggg toolll…hhhmmmfffhhhpphhh” teriakanku berhentik ketika bibirku sudah dibekap oleh tangannya yang cukup besar.

“Hhmmmhh… Udah lama kamu yah gak mau main ama aku.. Dasar sombong”

Aku hanya bisa melotot karena tangan dan mulutku terkunci oleh kakakku. Aku tidak bisa meronta lebih kuat lagi karena tenagaku sudah terkuras habis dan asupan makanan juga sedikit sehingga tubuhku serasa lemas sepanjang hari. Tubuhku merinding dan melemas sejenak ketika kakakku menjilati tengkukku.

“Oohhh sssshhhh” aku mendesis nikmat. Lama sekali aku tidak merasakan perasaan ini.

“Tuhkan kamu munafik banget jadi cewe, baru di giniin aja uda terangsang” ejek kakakku sambil tersenyum penuh kemenangan.

“Kak jangan, aku ga mau… Ooohhhhh” sial! Kakakku sedang berusaha membangkitkan birahiku. Ia sengaja menekan nekan payudaraku sehingga membuatku sedikit terangsang hebat.

“Yakin ga mau? Kalo di giniin gimana??” Tanya kakakku sambil meraba raba selangkanganku sehingga refleks kedua pahaku menjepit tangan kakakku.

Aku hanya menunduk malu dan mengalihkan pandanganku dari kakakku.

Perlahan kakakku membuka baju kaos ketat yang kugunakan sehingga kini aku hanya tinggal memakai bra warna pink serta celana pendek model hotpants yang masih melindungi daerah terlarangku. Refleks aku menyilangkan kedua tanganku walau aku sudah sering begini dengannya tetapi masih saja ada rasa malu. Ini adalah kesempatanku untuk kabur dari kamar ini. Aku harus berusaha menggoda kakaku. Dengan tatapan nakal aku mulai berbaring kembali dan aku pura pura tertidur. Sepertinya kakakku sudah mulai terburu nafsu. Ia mulai menindihku kemudian membalikkan tubuhku hingga kini aku terbaring terlentang dihadapannya. Kemudian ia mulai mencium bibirku dengan ganasnya. Aku hanya bisa mengimbanginya sesaat sampai akhirnya ketika aku mulai kewalahan karena ia sudah menyingkap bra ku dan memalinkan puting payudaraku. Itu adalah salah satu titik sensitiveku yang bisa membuatku menyerah oleh nafsu.

“Aaaaahhhhhh kakkk” aku mendesah nikmat ketika ia mulai mempermainkan puting susuku.

Oh tidak, rencanaku terancam gagal total. Tapi, aku sudah terlalu enak, aku ingin merasakan yang lebih dari ini. Semua pikiranku berkecamuk karena di satu sisi aku tidak ingin menjadi budak seks lagi tetapi di sisi lain aku menikmatinya.

“ketawan deh acting kamu…” ejek kakakku penuh kemenangan.

Ia menjilati tengkukku kemudian ia membisikkan sesuatu di telingaku

“hmm kali ini kamu akan aku bikin lemes sayang..” bisik kakakku yang membuatku bergidik ngeri.

“kak, please, aku mau keluar” pintaku manja.

“ckckckck” kakakku menggeleng gelengkan kepala. “kamu ini manusia macam apa sih, masa baru di giniin aja uda mau keluar??” ejek kakakku yang sukses membuat mukaku memerah.

“bukan itu… tapi aku mau keluar rumah” kataku sedikit terbata bata.

“kamu mau pergi ke mana sayangg.. ??” Tanya kakakku sambil menciumi tengkukku.

“nggghhh… aku mau makan kak.. please kakk…….” kataku sambil membelai rabut kakakku dan memeluk kepalanya.

“hmmm… tapi abis itu kamu jangan kabur ya”

“iya iya iya.. aku ga kabur kok…” kataku sedikit semangat.

“apa jaminannya?” Tanya kakakku singkat yang membuat aku berhenti bersemangat.

“emm… kakak ambil aja jam tanganku yang di belikan papa di eropa” jawabku memberikan negosiasi.

“hmmm gak mau” jawab kakakku singkat.

“bukannya itu yang kakak mau dari dulu??” tanyaku heran.

“Itu masih belum menarik Fris, coba yang lain…” jawab kakakku sedikit angkuh.

“trus maunya apa dong kak??” Tanyaku.

“hmm aku mau kamu pake ini aja sebagai jaminannya” tawarnya sambil mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. alat itu bentuknya seperti torpedo dan ada sedikit kabel yang menempel di alat itu.

“apa itu kak??? Eeehhh….. ehh mau apa sih” belum sempat aku tau itu apa, kakakku sudah dengan kasar memeloroti celana berikut celana dalamku kemudian ia mengangkangkan pahaku.

“kakak mau apa… ehh.. jangan macam macam kakk nggghhhhhhhh” aku terkaget karena kakakku menjilati bibir vaginaku. Yang membuatku meninggit bibirku sendiri.

“rasanya memang beda dengan wanita lain. kamu lebih enak sayang..ssrrlllppppp” kata kakakku sambil menjilati serta menyeruput bibir vaginaku yang membuatku menggeliat kesana kemari.

“kakkk oohh… udaaaahhh …aduuhhhhh” aku sedikit terkejut sesuatu benda dingin tertancap di dalam liang vaginaku.

“ih apaan sih kak..” protesku.

ia kemudian mengeluarkan sebuah remote kecil dan…

“ctekk”

“aaahhhhh……..” aku langsung mengeluh nikmat benda itu bergetar cukup keras di dalam vaginaku.

Badanku menggeliat karena siksaan alat ini. Tanganku lemas saat akan mengambil dan mencabut kabel yang ada di antara bibir vaginaku.

“kakkk ooohh…. Udahhhh pleaseee” aku memohon kepada kakakku berharap ia menyudahi siksaannya dengan mainan barunya ini. Kakakku sukses menjinakkanku. Aku kalan.

“Inget ya sayang, kamu jangan macem macem atau alat yang ada di dalam sini”

“awww” aku memekik kecil ketika kakakku tiba tiba mencengkram vaginaku.

“akan bergetar menyiksamu dengan kenikmatan itu” lanjutnya.

“sekarang pakai bajumu kakak tunggu di mobil, jangan lama yah karena kakak masi ingin main sama kamu” aku mengelak ketika tangan nakal kakakku berusaha membelai daguku.

Mukaku memerah, aku gagal menjalankan siasatku. Kini aku sudah terjebak dalam pengaruh nafsu birahiku sendiri.

*** kegilaan kakakku di Restoran ***

Singkat cerita kini aku sudah berada di sebuah restoran italy. Kakakku sempat meremas payudaraku pada saat di perjalanan, untungnya kaca film mobil sports milik kakakku sangat pekat sehingga tidak ada yang dapat melihat apa yang kakakku perbuat terhadapku. Ah sudah lama sekali aku tidak ke sini. Sejak Ayah mulai sibuk dengan urusan kantornya dan tender tender yang membuat keluarga kita semakin makmur. Ketika aku turun dari mobil tiba tiba kakakku kembali mengaktifkan alat itu.

“Ngghhh kakk jangan please” badanku sedikit bergetar menahan rasa nikmat bercampur geli yang terpusat pada liang vaginaku.

Aku memutuskan untuk kembali duduk di mobil.

“kak, please” kataku.

Badanku membungkuk menahan rangsangan yang diberikan oleh alat itu.

“hehe iya deh,,” kata kakakku mengabulkan permintaanku. Kemudian kami berdua langsung masuk kedalam restoran dan menduduki tempat yang sudah dipesan oleh kakakku. 1 meja kecil untuk 2 orang. Di tengah tengah meja terdapat sebuah lilin dan seorang pelayan dating dan menyodorkan buku menu kepada kami.

“emm… kak” kataku sedikit ragu.

“kenapa?” Tanya kakakku.

“kakak yang bayar kan?” tanyaku lagi sedikit berbisik.

“hmmm tapi ada syaratnya!” jawab kakakku

“apa?” tanyaku penasaran.

“tapi kamu mau melakukannya gak?” tanyanya meyakinkan kemauanku.

“iya kak” jawabku tanpa pikir panjang karena perutku sudah benar benar lapar.

Akhirnya aku memesan 3 menu sekaligus untuk mengganjal perutku. Restoran ini lumayan ramai. Banyak pelayan berlalu lalang di depan meja kami.

“kak aku mau ketoilet” izinku.

“gih sana” jawab kakakku singkat.

Akupun berdiri dan berjalan menuju toilet. Di tengah jalan tiba tiba alat ini bergetar sendiri. Aku melihat ke arah kakaku yang tersenyum melihatku seperti ini. Aku berjalan perlahan sedikit tertatih tatih berusaha menjaga sikapku. Sesampainya di WC, aku hanya bisa menyeka keringatku. Ini benar benar membuatku gila. Alat ini telah menguasaiku sepenuhnya. Aku berjalan pelan pelan, bahkan seorang pelayan menanyaiku

“nona, kamu baik baik saja?”

Aku hanya menganggukkan kepalaku dan memberikan sedikit senyuman kepada pelayan itu. Akhirnya dengan penuh perjuangan, aku sampai juga di mejaku. Disana sudah tersaji pesanan kami. Aku yang sudah tidak bisa menahan laparku ini segera duduk dan membentangkan serbet penutup baju agar tidak terkena makanan. Aku sedikit lega karena alat ini tidak menyiksaku pada saat aku makan. Aku makan cukup banyak, seperti orang kelaparan saja. Ahh akhirnya kenyang juga. Pelayan datang dan mengantarkan makanan penutup berupa pudding yang nampaknya lezat, tidak pikir panjang aku langsung menyantap pudding itu. Tiba tiba ada seseorang yang memegang kakiku dan meregangkan kedua pahaku. Meja ini memang type meja restaurant yang di mana taplak mejanya menutupi seluruh bagian meja hingga ke lantai. Aku sedikit cemas. Siapa di bawah situ. Perlahan singkap sedikit taplak meja itu. Betapa kagetnya aku melihat kakakku berada di kolong mejaku. Oh tidak sejak kapan ia masuk ke kolong meja.

“Kakakk kau sudah gila ya!!” Omelku pelan takut ada yang mendengarnya.

Tetapi kakakku malah menarik kursiku sampai badanku mentok dengan meja dan kakiku masuk semua ke dalam meja. Celana hotpants yang kupakai ditariknya beserta celana dalamku. Untungnya bangku modelnya tertutup semua sehingga orang orang tidak dapat melihatku. Tepatnya tidak dapat melihat bagian bawahku.

Keringatku mulai bercucuran karena kakakku sudah mulai memberikan rangsangan rangsangan disekitar vaginaku.

“Ssshhhh” aku berdesis nikmat ketika alat yang sedari tadi menyiksa diriku kini sudah di cabut.

Kini kakakku mulai melancarkan aksinya. Kedua selangkanganku membekap kepalanya karena vaginaku terus dirangsang oleh lidahnya. Aku hanya bisa menahan gairah dan nafsu yang telah menggebu gebu ini. Aku hanya bisa bersikap normal didepan para pengunjung restoran ini. Sambil menyendoki puding, aku mulai memakan pudingku dengan perlahan.

“Emmmphh” aku menggigit bibirku ketika lidah kakakku berulang kali memainkan clitorisku.

Benar benar rasa nikmat ini tidak dapat kutahan. Aku tidak tau lagi harus bagaimana lagi aku harus menahan gairah ini. Ahh aku sampaii.. Aku mau aku mauu.. Ahhh akhirnya tubuhku mengejang semua. Nafas panjang keluar dari mulutku. Aku lega karena aku telah orgasme. Sepertinya kakakku pun sudah selesai menyiksaku. Aku segera membungkuk dan menarik hotpantsku.

“Awww, kak jangan aku ga mau pake itu” bisikku ke kolong meja. Tetapi kakakku terus memaksakan memasang alat itu.

Mau tidak mau aku harus menerimanya. Akhirnya penderitaanku usai sudah. Kami bergegas pulang kerumah tetapi sepanjang jalan, kakakku malah menyalakan alat ini lagi. Aku yang sudah kelelahan karena menahan rasa nikmat bercampur geli itu sedari tadi sehingga membuatku merasa sangat lemas. Celana dalamku sudah lembab dan aku sudah lelah mengejang nikmat dari tadi.

“kak, nggghhhhh… to…loongg… mmmaa tikaann… aallaatnyaa” kataku sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri dalam mobil.

******

Seorang berpakaian jas terusan berwarna hitam sedang melihat kedua kakak beradik itu sedang naik ke mobil. Dengan mobil sport 2 pintu miliknya, ia bergegas mengikuti ke mana mobil itu pergi.

******

Dingin, hanya itu yang ku rasakan saat ini, entah mengapa sepertinya badanku dapat merasakan langsung bersentuhan dengan bedcover yang menyelimutiku Aku mulai membuka mataku aku sedikit heran, Dimana aku ini? Jam berapa sekarang? Sepertinya aku kenal dengan kamar ini.

“eeehh” aku kaget karena ketika aku menarik tanganku, ternyata tanganku sudah terikat. Kaki ku juga. Dan aku dalam keadaan bugil. Oh tidak! Jangan lagi!! Aku tidak mau seperti ini LAGI. Papa… tolong aku.

“kamu sudah bangun ya sayang… hehehe” sapa kakakku yang baru masuk dari pintu kamar.

“Lepasin kak!! Apaan sih di kaya giniin segala” kataku sedikit emosi.

Kakakku tak menjawab, ia malah mulai membuka bajunya hingga bugil. Kemudian ia menaiki tempat tidur tempat dimana aku terikat tak berdaya.

“hhhffffhhhhhhhhhhdmmmhhfffffhhhhhhhhhhhhhh”

aku terkejut ketika kakakku memasngkan sebuah bola, bentuknya seperti bola golf dengan lupang lubang di sekitarnya. Kemudian ia mengaitkan sebuah tali di antara ujung dan ujungnya sehingga aku seperti memakai masker tetapi mulutku malah menganga. Ketika aku mencoba bicara, yang ada malah air liurku yang terlus keluar dari mulut. Oh takdir apakah ini?! Kenapa aku menjadi seperti ini LAGI? Belum sempat aku berpikir dan meratapi nasibku, tiba tiba kakakku menancapkan penisnya. Kedalam liang vaginaku.

“aaaarrgghhhh aaaaaakkk aaaiiiitttttttt (kak sakit)” pekikku tertahan oleh bola itu karena liang vaginaku kering sehingga tidak ada pelumas didalamnya untuk melancarkan masuknya penis kakakku.

“a a kkkkkkkkk aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrrgghhhhhh…. aa….iitt(kakak argh sakit)” kataku berteriak kemudian meringis ketika kakakku mempercepat gesekan penisnya di liang vaginaku yang masih kering ini.

Air liurku berceceran di sela sela bibirku, rambutku yang panjang kini sedikit lepek karena terkena air liurku. Sementara itu kakakku masih tetap menggenjot liang vaginaku yang masi kering ini. Apa jadinya berhubungan sex tanpa melakukan foreplay dulu, sepertinya kakakku ingin menyiksaku T_T 15 menit aku berteriak teriak tertahan karena kesakitan. Air mataku mengucur deras karena rasa sakit tak tertahankan pada vaginaku. Sepertinya dinding dinding vaginaku robek oleh penis kakakku. Mungkin kakakku tidak tega melihat adiknya seperti ini, kemudian ia membuka bola yang terpasang di mulutku.

“aaarrrgghh kakakkkkkkkkk sakiittttt tau.. Pelan pelan kek!!” kataku berteriak ketika bola itu sudah terlepas dari mulutku.

“ini baru nikmat sayangggg” teriak kakakku sedikit bergairah.

30 menit berlalu, aku masih saja menjadi korban kakakku, kini semua teriakan kesakitanku mulai berubah menjadi lolongan kenikmatan karena kini aku sudah mulai terangsang sehingga mulai ada cairan vaginaku yang keluar membasahi liang vaginaku yang kering.

“aaaahh… kakkkkkkkkkkkkkkkk” aku berteriak kencang ketika aku mencapai orgasme pertamaku.

Kedua tanganku yang terikat di ujung-ujung ranjang menggenggam tali dengan kuat dan tubuhku terlonjak lonjak menyambut gelombang orgasme yang tak kunjung mereda.

“kakk aaahhhhh berenti kaakkk aaaahhhh ngiluuuu… adduuhhhh” kakakku tak kunjung berhenti menggenjot tubuhku. Rasa ngilu terus menghampiri bagian vitalku ini ketika bergesekan denga penis kakakku.

Tak lama setelah itu kakakku menggeram dan ia memuncratkan spermanya di dalam vaginaku. Oh tidak bagaimana kalau aku hamil!

“kak! Kalau aku hamil gimana?!” tanyaku panic.

“Tenang sayang tadi pas kamu tidur di mobil, kakak uda cekokin kamu pil KB kok hehehe” kekehnya bangga.

Aku bernafas lega mendengar hal itu.

Kakakku perlahan mencabut penisnya dari liang vaginaku. Rasanya ngilu bercampur nikmat.

“kak, lepasin” rengekku manja.

Tanpa basa basi kakakku melepaskan seluruh ikatan yang mengikat tubuhku. Kemudian aku langsung menarik bedcover dan aku pura pura ngambek dengan tidur menyamping membelakangi kakakku.

“kamu kenapa sayang?” bisik kakakku yang ikut ikutan masuk ke dalam bedcover dan memelukku dari dalam.

Terasa sekali penis kakakku menempel di dekat buah pantatku. Aku hanya diam saja tak bicara. Kemudian aku membalikkan badan. Aku menatap penuh harap.

“kak”

“ya?”

“sampai kapan Friska harus begini?” tanyaku yang membuat mataku sedikit berkaca kaca.

Kakakku terdiam.

“Friska Cape kak! Hhhkk…. Cape.. Friska ga bisa bergaul, Friska ga punya temen kak” tangisku mulai meledak.

Sepertinya kakakku kali ini mengerti, ia membelai rambutku kemudian ia mendekatkan kepalaku ke badannya.

“cup cup.. jangan nangis sayang” bisik kakakku.

Tak ada lagi hasrat nafsu di sini. Ntah mengapa kakakku bisa seperti ini. Kakak yang tega dan keji dan biadap terhadapku bisa berubah menjadi seperti ini. Apakah ini adalah salah satu siasatnya?

“maafkan kakak, kakak ga akan kaya gini lagi sama kamu” kata kakakku sambil mencium rambutku.

Akhirnya aku tertidur di dalam pelukan kakakku. Kamu berdua tertidur dalam keadaan bugil di kamar kakakku. Kali ini perasaanku merasa lebih baik.

****

Pria dengan mobil sport itu berhenti di depan kediaman Friska. Ia turun dan berjalan setengah mengendap. Kemudian dengan kawat yang ia bawa, ia bisa mencongkel pintu masuk kedalam rumah. Dengan sigap ia mulai mencari wanita yang ia cari kesetiap ruangan di rumah itu.

“Friska, bangun!” bisik seseorang yang sepertinya ku kenal.

“hey bangun!” bisik orang itu lagi.

Aku mulai membuka mataku perlahan. Aku mengerjap ngerjapkan beberapa kali karena pandanganku masih buram. Seorang pria memakai kaos dan celana jeans panjang dengan gaya rambut khas harajuku. Hmmm, siapa dia?! Aku langsung terbangun dari tidurku.

“mmhhhhhhhgffdffhfhhffhhhh” ia membekap mulutku. Kemudian pria itu meletakkan telunjuknya di arah bibirnya menandakan isyarat aku harus diam.

“ini aku Rendy, masa kamu lupa!” bisiknya.

Aku tersadar akan mukanya, karena penampilannya sedikit berubah dari yang dulu. Kemudian secara refleks aku memeluknya dengan erat. Aku merasakan sesuatu sedang bergejolak di dalam diriku. Tetapi itu semua pudar karena aku tersadar karena aku sedang bugil di depannya. Aku langsung melepas pelukanku dan menarik bedcoverku sehingga menutupi sekujur tubuhku. Aku melihat sekeliling tapi aku tidak menemukan kakakku.

“Mana kakakku?” tanyaku heran.

“ia sedang keluar tadi bersama temannya” terang Rendy.

“Friska ayo kita pergi dari sini!” ajak Rendy.

“Aduh Ren, kamu jangan macem macem deh, nanti kalo papaku tau bisa kacau urusannya!” tolakku halus.

“Fris, daripada di sini kamu jadi budak seks kakakmu!” teriaknya sedikit tetapi masih dalam keadaan berbisik.

“PROK PROK PROK (tepuk tangan) BAGUS!! Baru di tinggal sebentar ternyata ada tamu tidak di undang di sini!”

Aku terkaget ketika kakakku membuka pintu kamar sehingga Rendy siap siaga untuk melindungiku. Ia mengambil kuda kuda untuk melawan kakakku.

“oh, loe berani sama gue?!” bentak kakakku.

“EH BAJINGAN TENGIK!! Jangan ganggu FRISKA! Ato loe berurusan sama gue!” bentak Rendy. Entah kenapa perasaaanku berdegup kencang ketika Rendy mengucapkannya, hatiku sedikit berbunga bunga.

Tetapi apa yang terjadi selanjutnya membuat situasi berbalik. Kakakku dengan gampang membuka laci di samping beja belajarnya kemudian ia mengambil pistol handgun aku tidak mengetahui type berapa tetapi itu adalah pistol ASLI yang di berikan papaku dari kedutaan besar New Zearland. Kakiku melemas, aku tidak tau apa yang akan terjadi nanti.

“Berani macam macam? 10 peluru di sini bakal gue sarangin di tubuh Loe!” bentak kakakku.

“Rendy, udah Ren jangan macem macem Ren” kataku panik.

Mendengar perkataanku itu, Rendy kemudian menurunkan kuda kudanya kemudian ia tertunduk lemas.

“aww.. kak jangannn” kataku meronta karena kini kakakku menerkamku di atas tempat tidur.

Kini ia sudah menindihku dan memegang kedua tanganku dan menekannya hingga sejajar dengan kepalaku. Aku tidak bisa berbuat apa apa, tubuhku sudah di tindih, tanganku sudah tidak bisa bergerak lagi.

“BAJINGAN!!! LEPASIN FRISKA!!!!” teriak Rendy yang matanya mulai memerah seperti orang sedang kurang tidur.

Tetapi Rendy tetap mematung mengingat pisol itu masih dipegang kakakku. Kakakku membangunkanku dan mendudukkanku sehinggia kini posisiku berduduk dengan bersadar dengan kakakku, lalu arah dudukku menghadap kearah Rendy. “hey bocah ingusan, kamu mau belain cewe kaya gini? Yang bisa di giniin” kata kakakku lalu ia melumat bibirku dengan ganasnya. Aku hanya pasrah karena tenagaku sudah habis. Perasaanku sungguh panas, kenapa aku tidak bisa melawan?!

“Atau bisa di giniin?” Kakakku membelai bibir vaginaku dan memainkan clitorisku.

“Ngghhhh..aaahhhhh” aku meleguh sejadi jadinya ketika kakakku semakin cepat menggesek gesek tangannya di bibir vaginaku.

Kakakku beranjak dari tempat tidur kemudian mendekati Rendy. Ia mengoleskan jari jarinya yang belepotan dengan cairan vaginaku di muka Rendy.

“Kakak!!! Stopp jangan seperti ini” Kataku membela Rendy.

“Kamu yakin mau kakak lepasin dia?”

Aku mengangguk.

“Sekarang kalian ikut aku” ajak kakakku.

“Tunggu!! Aku mau pakai baju dulu”

Aku mengambil bajuku yang berserakan di pojok kamar dan memakainya. Aku melihat Rendy dan kakakku sedikit menelan ludah ketika aku memakai bajuku. Kemudian kami berdua keluar dari kamar dan menuju sebuah ruangan. Astaga!! Itu, itu, ituu…Kakakku membawa kami menuju sebuah ruangan yang tadinya dijadikan tempat latihan band, tetapi belum selesai kerjakan ternyata band kakakku sudah bubar.

“Kalian masuk” perintahnya.

Kami berduapun masuk ke dalam kamar itu dan pintupun ditutup dan di kunci oleh kakakku.

“Iihh kakak bukainnn apaan sihh ga lucu dehh!!” Teriakku dari dalem. Sementara Rendy hanya diam saja.

Akhirnya aku menyerah juga. Aku menyenderkan tubuhku dan akhirnya aku merosot turun ke bawah hingga aku terduduk dilantai. Sementara Rendy duduk di sebelahku.

“Aku kawatir dengan keadaanmu” omongnya membuka kesunyian di ruangan ini.

“Kenapa kau datang ke sini?” Tanyaku dingin.

“Aku ingin membawamu pergi”

“Kemana? Kau mau menculikku?

“Ya, bisa dibilang aku mau menculikmu”

“Tapi kenapa kau lakukan ini? Kau lihat sendirikan akibat perbuatanmu kau sendiri yang berada di sini” kataku sedikit kesal.

“Asalkan bisa bersamamu, apapun akan kulakukan”

Hatiku sedikit bergetar mendengar kata yang terucap dari mulut Rendy. Suasana hening.

“Kau tau betapa aku mengkhawatirkanmu pada saat dirumah sakit?”

“Kau tau sejak kejadian itu aku mencintaimu?”

Ia terus bertanya. Tetapi aku hanya bisa berdiam diri. Aku tidak tau harus berkata apa.

“Kenapa kau bisa mencintaiku? Aku orang yang penuh dengan noda” kataku yang sedikit membuat mataku berkaca kaca.

“Kamu ga boleh munafik! Aku juga sama sepertimu!! Jadi kamu jangan pernah bilang kalau kamu penuh dengan noda” bentaknya yang membuat aku kaget.

Aku menangis terisak. Kepalaku menyandar ke bahunya. Airmataku mulai menetes keluar dari mataku.

“Sudah jangan menangis” ia mengelus ngelus kepalaku.

Bibirku yang cukup memerah sepertinya cukup menggoda Rendy untuk mendekat.

Semakin dekat! Lebih dekat lagi! Dan…Seekor makhluk yang paling kubenci melintas di depan kami.

“KECOAAAA!!!!! Aaaaaaaaaaaaaa!!!!” Aku berteriak kemudian bangun dari dudukku. Rendy yang melihat kecoa itu juga langsung bangun.

Aku bergegas menuju pojok dari ruangan ini dan menghindari makhluk mengerikan itu.

“Hhhiiiiiiii” Rendy bergidik dan melompat ketika kecoa itu bergerak ke arahnya.

“Itu itu ambil itu” perintah Rendy menunjuk sebuah buku majalah milik kakakku.

Ia pun mulai mengambil ancang ancang untuk segera membunuh kecoa itu.

1….2…3! Hyaaatt!! Bukkk…. Tetapi sang kecoa tidak segampang itu untuk dibunuh.

Rendypun gagal. Tapi….Sang kecoa mendekatiku.

“Aaaaa… Rendyy tolongggg” teriakku ketika kecoa itu mulai mendekatiku.

Aku berlari mendekati Rendy karena aku takut bila makhluk menjijikan itu menyentuh tubuhku.

“Bunuh dia Renn” kataku berlindung dibalik pundak Rendy.

Aku sebenarnya sedikit tertawa geli ketika ia juga ketakutkan dengan kecoa.

“Kali ini kau tidak akan lolos kawan” ia menyumpahi kecoa itu kemudian ia membuka majalah itu sehingga lebih luas dan semakin besar kesempatan dapat membunuh kecoa itu.

Dannn hupppp!!!! Kretek kretekkk krenyess krenyess… “Mati kau mati kauu dasar makhluk sialan” kata Rendy sambil menginjak injak kecoa itu.

“Makasihhh” kataku reflek kemudia memeluknya dari belakan.

Kami berdua cukup lelah. Hawa yang ada dikamar ini sungguh diluar dugaan. Sungguh panas dan pengap. Sementara itu nafas kami berdua masih terengah engah karena ulah kecoa itu sehingga membuat persediaan oksigen disini semakin tipis.

“Ren, panas banget di sini” kataku sambil mengayunkan tanganku berharap mendapat udara segar.

“Atur nafasmu” perintah Rendy yang masih melihatku masih terengah engah.

Kesadaranku mulai hilang karena menghirum karbondioksida.

“Ren, heehhhhh(suara nafasku berat) tolong sampaikan heeehhh…permintaan maafku kepada ayah” setelah mengucapkan kalimat itu. Aku masih dapat mendengar suara Rendy.

“Friska!! Heyy jangannn jangan berhenti bernafas” heyy Friska!!!”

Tidakkk……….

Tempat tidur yang lembut, baju tidur yang nyaman, bedcover yang nyaman, bau harum aroma therapy selalu tercium.

“Dimana aku ini? Apakah aku ada di surga? Surga? Apa mau Tuhan menerima mahkluk kotor sepertiku?!”

Perlahan aku mulai membuka mataku, ruangan ini, seperti kamarku. Tetapi aku yakin ini bukan kamarku. Dimana aku? Beberapa saat aku melamun aku sampai tak tau pintu kamar dibuka oleh 2 orang perempuan berseragam pelayan

“Permisi nona, kami membawakan makan siang untuk nona”

“Aku dimana?” Tanyaku sedikit linglung.

“Anda sekarang berada di rumah Tuan Muda” jawab salah seorang dari mereka.

“Tuan Muda?” Tanyaku heran.

“Iya, Tuan Muda” tiba tiba sosok yang kukenal muncul. Ternyata yang dimaksud oleh kedua pembantu itu adalah Rendy.

“Kamu?!” Aku terkaget tak menyangka.

Ia menjelaskan kepadaku bahwa ia memindahkanku dari jakarta ke Surabaya dengan pesawat sewaannya. Ia juga meminta maaf kepadaku kalau kalau ia sudah seenaknya membawaku masuk kedalam rumahnya. Sesaat setelah menjelaskan hal hal yang menjadi pertanyaan dikepalaku, Rendy melambaikan kedua tangannya pertanda menyuruh para pelayan itu keluar. Ia berjalan dan duduk disebelah tempat tidurku. Kemudian ia memelukku.

“Maaf” hanya kata itu yang keluar dari mulutnya sehingga membuatku terdiam bagai patung.

Aku bingung harus berkata apa, tetapi sekarang aku merasakan ada perubahan dalam hidupku. Sore itu, kami habiskan dengan bercanda di kamarku, ketika Rendy berhasil membuatku tertawa, ntah apa yang membuat pertanyaan ini terlontar dari mulutku

“Kenapa kau lakukan itu kepadaku dulu?!” Tanyaku kesal sambil melepas pelukannya.

“Maafkan aku, aku benar benar minta maaf” bisiknya di telingaku.

“Sekarang kau mau apa membawaku kerumahmu?!” Tanyaku tapi diam diam aku tersenyum geli melihat ekspresinya yang salah tingkah.

“Mau menyiksaku lagi dan menjadikanku budak seks?” Lanjutku berakting memanyunkan mulutku sehingga keliatan ngambek.

“Ih ngambek.. Engga kok, aku ga mungkin sejahat itu sayang…” omongnya ringan sambil mencubit hidungku.

“Uuhh… Sakit tau!!” Bentakku.

Aku tetap saja berakting pura pura marah. Sampai akhirnya ia mulai mendekatiku. Menyadari keadaan ini aku secara reflek memundurkan badanku hingga akhirnya posisiku benar benar tersudut. Aku hanya diam sambil membuang muka.

“Kau mau apa?!” Tanyaku sedikit takut.

“Kau akan hidup bersamaku” jawabnya singkat kemudian ia meninggalkanku.

“APA??!!!” Hidup bersamanya?! Tidak ini semua pasti adalah sebuah mimpi!!

“Awww” seakan tak percaya, bahkan akupun masih bisa merasakan sakit ketika aku mencubit diriku sendiri. Argh.. Kenapa nasibku seperti ini..

tiba tiba saja Rendy muncul dari balik pintu kemudian ia mengejekku. “Ini bukan mimpi kok.. Hahahaha”

Uh benar benar malu aku dibuatnya. Kini aku berada dalam kahidupan yang baru. Aku bagai terlahir kembali. Semuanya berubah. Tidak ada sex disini. Rendy menyayangiku. Ia selalu membuatku senang dan tertawa dengan tingkah lakunya. Benar benar sulit dipercaya. Ia juga sudah sering meminta maaf kepadaku sampai sampai aku bosan mendengarnya minta maaf.

********

Pagi itu ia bercerita banyak tentang kejadian yang menimpaku. Ketika aku tak sadarkan diri, ia mengambil sebatang besi yang ada di ujung ruangan kemudian ia mencongkel pintu ruangan tempat kami disekap. Usahanyapun berhasil. Ia membawaku ke luar rumah dengan sukses. Kakakku ntah pergi kemana, tetapi kakakku pasti shock melihatku sudah tidak ada di rumah lagi. Aku benar benar kaget mendengarnya. Ia seolah menculikku dan membawa ke rumahnya dengan semena mena.

“Siapa kau berani beraninya menculikku?! Urrghh!!!” Umpatku dalam hati.

Ia melihat jam sejenak kemudian ia menjentikkan jarinya. Dan taklama kemudian para pelayan itu masuk.

“Dandani dia, kita akan segera berangkat kesekolah” perintah Rendy.

“Apa?! Sekolah? Tapikan ini hari Sabtu? Sejak kapan hari sabtu masih masuk sekolah?!” Tanyaku heran.

“Sejak kau ada di sini sayang..” jawabnya santai.

“Eeehh.. Mau diapakan aku” aku sedikit kaget ketika para pelayan itu menarikku dari tempat dudukku.

Pagi itu aku benar benar dimandikan lalu di dandani oleh para pelayan itu. Layaknya sebagai tuan putri, kini aku sudah siap pergi bersekolah. Tak lupa aku mengucapkan terimakasih kepada pelayan pelayan itu.

Dimana ini? Banyak sekali lorong lorong disini. Apakah ini rumah?!

Tak lama datanglah seorang pria memakai jas tampaknya ia berumur 30 tahunan.

“Mari nona ikut saya, master sudah menunggu anda”

Akupun mengikuti pria ini. Sesampainya aku di sebuah ruangan. Aku melihat Rendy dengan seragam sekolahnya.

“Sudah siap tuan putri?” Tanyanya.

“Apaan sih kamu Ren?! Ini bukan rumahmu kan?!” Tanyaku tak percaya.

“Ya, ini bukan rumahku, ini milik orang tuaku” tegasnya. Suasana hening sejenak.

“Ada masalah?” Lanjutnya.

“Emm tidak..” Jawabku singkat sambil menunduk.

“Sekarang ayo kita sekolah” ajaknya.

Akhirnya kami berdua pergi bersekolah. Dengan mobil BMW Sport 2 pintu milik Rendy, aku seperti tuan putri sejagad. Setiap murid murid disekolah memandang iri melihat kami. Akhirnya mobil yang kutumpangi sampai juga di depan pintu masuk sekolah. Aku cukup tegang karena aku sudah lama sekali aku tidak pergi kesekolah.

“Jangan tegang” bisiknya sebelum ia turun dari mobil sambil memberikan sebuah kartu yang belakangan kuketahui sebagai kartu pelajar milikku dengan fotoku yang tampak seperti kelas 1 SMA, wah apa ini fotoku yang dulu yah? Aku sempat bingung dibuat kartu ini.

Aku juga segera membuka pintu mobil. Dan sepertinya aku mendapat lirikan iri dari siswi perempuan. Aku segera mengikuti Rendy dan menuju ketempat kemana kakinya melangkah. Tibalah kami disebuah ruangan seperti kelas, namun hanya terdapat 3 bangku dan semuanya bukan sembarang bangku. Tetapi benar benar fasilitas yang ekslusif.

“Ini ruangan belajarku dan beberapa temanku. Sekarang kalau ada yang macam macam, kamu cari aku disini”

“Emm!!” aku menganggukkan kepala dan akupun masuk kedalam ruangan itu untuk sekedar melihat lihat.

“Sekarang kelasmu ada di ruangan 12 IPA 1, jangan sampai ada yang berani mengganggumu, jika sedikit saja kau tergoda, kubunuh kau!” Ancamnya yang malah membuatku merasa aman dan hatiku sedikit berbunga bunga.

Akupun segera keluar dari ruangan khusus itu dan aku pergi menuju ruang kelasku. Tetapi, luas sekali sekolah ini, aku bingung dimana ruang kelasku.

“Permisi pak, ruang kelas 12 IPA 1 dimana ya?” Tanyaku kepada cleaning service yang sedang mengurus tanaman di lorong sekolah.

“Lurus aja non nanti ada tangga naik ke atas ruang ke 2 itu ruangannya” jelasnya singkat.

“Terimakasih pak”

Sepanjang jalan aku berpapasan oleh beberapa siswa maupun siswi, mereka semua memandangku heran. Akupun akhirnya sampai di tempat tujuan. Ruangan 12 IPA 1. Aku mencari tempat duduk sesuai nomor kartu pelajarku. Tempat dudukku di pojok paling belakang. Aku teringat akan instruksi dari Rendy tadi pagi kalau kelasku adalah kelas Luxury jadi sistem absensinya seperti absensi kantor, dimana aku harus memasukkan kartu pelajarku serta mencocokkan sidik jariku. Ketika aku memasukkan kartu pelajar, aku dikejutkan oleh sapaan seorang pria yang tiba tiba muncul di sebelahku

“Murid baru ya?”

“Iya” jawabku singkat.

“Alex” ia mengulurkan tangannya.

“Friska” aku membalas menjabatangannya.

Setelah perkenalan itupun aku langsung beranjak menuju meja belajarku. Sungguh benar benar nervous. Baru pertama kalinya aku kembali bersekolah. Kalau disuruh pilih aku lebih baik homeschool daripada kesekolah.

“Kamu murid baru yah?” Tanya seorang wanita yang ternyata teman sebangkuku.

“Iya” jawabku singkat sambil menganggukkan kepala.

“Aku Bella, kamu siapa?” Sapanya lagi dengan suara imutnya.

“Aku Friska, salah kenal” sebenarnya aku agak risih dengan tutur bahasanya yang sedikit aneh menurutku, tetapi mungkin itu karena bawaan daerah asal karena aku menyadarinya kalau aku bukan sekolah di Jakarta, melainkan di Surabaya.

Akhirnya jam pelajaran pertamapun mulai, aku yang masih sedikit linglung mulai berusaha berkonsentrasi kepada pelajaran. Aku benar benar lupa bagaimana caranya belajar dikelas. Pada saat itu guru yang mengajar adalah pak Edy, seorang guru gemuk dan mukanya benar benar ancur. Gimana ya ukuran penisnya? Hah! Gila.. Fantasi gilaku mulai kumat lagi! Apus apus apuss.. Secara reflek aku menggeleng gelengkan kepalaku. Aku baru tersadar kalau aku ada di ruang kelas. Aku melihat Bella tersenyum saja disebelahku. Sekejap pipiku sedikit memerah karena kelakuanku sendiri.

Singkat cerita, akhirnya istirahatpun tiba. Aku yang bingung tidak ada teman, akhirnya memutuskan menuju ruangan Rendy. Di tengah perjalanan, aku berpapasan dengan seorang wanita keturunan chinese, cantik sekali ia bersama seorang teman wanitanya yang tidak kalah cantiknya. Andai saja aku bisa mengenal mereka. Sampailah aku diruangan Rendy, ketika aku ingin mengetuk pintu, tiba tiba pintu itu terbuka sedikit. Akupun berusaha mencuri curi pandang, aku mau tau gimana sih expresi Rendy ketika belajar. Aku terkesiap melihat 2 pria lain di dalam ruangan, yang satu berperawakan tinggi dan putih. Wajahnya yang terlihat keren, menambah pesonanya. Yang satu lagi adalah seorang pria tampan yang benar benar mempesona. Apakah ini sekolah atau??? Situasi ini membuatku benar benar kebingungan. Aku tidak pandai bergaul dengan orang lain, tetapi dilain sisi, aku juga ingin bergaul dengan mereka. Uhh… Tidak ada yang bisa kulakukan selain menyendiri. Siang itu aku sedikit pusing, entah kenapa, mungkin udara disini membuatku kurang enak, akhirnya aku beranjak menuju taman di belakang sekolah untuk mencari udara segar. Tibalah aku disebuah pohon besar yang cukup rindang. Di sana ada sebuah bangku taman yang bisa ku gunakan untuk sekedar duduk duduk. Akhirnya sudah kuputuskan untuk menunggu jam istirahat selesai, aku mau duduk duduk dulu di sini. Ketika sedang asik asik duduk dan melihat pemandangan sekitar, tiba tiba aku mendengar suara sayup sayup dari balik pohon.

“Eh, No, Campurin obat ini ke minumannya” kata seorang tukang sapu yang memberikan sebuah bungkusan kecil seperti obat kepada seorang satpam yang sedang memegang botol air mineral.

“Beres” jawab satpam dengan santainya.

“Hari ini, kita pesta No!!” Kata si tukang sapu.

“Hahahha” mereka berdua tertawa senang.

Segera aku beranjak dan menguping dimana asal suara itu. Aku berusaha menyembunyikan tubuhku di balik pohon. Setelah mereka berdua pergi aku mengintip ternyata tadi itu adalah seorang satpam dan tukang sapu. Aku tidak tau apa yang mereka rencanakan, tetapi dari omongannya saja aku tau kalau mereka akan merencanakan sesuatu.

Bel masuk berbunyi, akhirnya aku masuk kekelas. Bella teman sebangku-ku sungguh periang dan cukup pintar itu terbukti ketika pelajaran Pak Edy ia menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan pak Edy ke anak muridnya. Di awal hari sekolah ini aku sudah dibuat penasaran dengan si tukang sapu dan satpam yang tadi kutemui di taman belakang sekolah. Ketika bel tanda pulang berbunyi, aku pergi menuju ruangan tempat dimana Rendy berada. Tapi alangkah kagetnya aku ketika melihat isi ruangan itu kosong.

“Whaatt??!! Dasarrr!!! Kemana sih dia?!” Umpatku dalam hati.

Dengan sedikit murung aku berjalan perlahan meninggalkan sekolah ini. Kesal dan jengkel hinggap semuanya memenuhi suasana hatiku.

“Huh, kenapa dia tidak ada sih!” Aku mengumpat dalam hati kembali ketika aku melihat kantin sekolah yang kosong sudah tidak ada murid lagi.

Aku kembali meneruskan pencarianku. Di tengah jalan, aku melihat gadis cantik yang tadi berpapasan denganku.

“Mau kemana ya dia? Kok buru buru sekali?” Tanyaku dalam hati. Hmmm daripada aku menunggu Rendy, lebih enak kalau aku berkenalan dulu dengan gadis itu. Pikirku singkat.

Aku langsung membuntuti dia, kemana dia akan pergi. Beberapa saat membuntuti dia, tibalah disebuah tempat yang berlambangkan + warna merah dan bertuliskan Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Ia buru buru masuk ke dalam ruangan UKS, entah apa yang ia lakukan.

“Ah lebih baik aku temui dia saja di dalam sana.” Pikirku.

Aku segera keluar dari tempat persembunyianku dan bergerak menuju ruang UKS itu. Tetapi baru beberapa langkah, aku kembali berlari untuk menyembunyikan diriku. Aku kaget sekali melihat tukang sapu yang tadi masuk dengan terburu buru ke dalam ruangan UKS itu yang di dalamnya bisa dipastikan masih ada gadis chinese itu. Mau apa tukang sapu itu?! Atau kah gadis itu??! Berjuta dugaan dugaan negatif bersarang di pikiranku. Ku urungkan niatku untuk bertemu dengan gadis itu. Lebih baik aku bersembunyi disini daripada aku menunggu Rendy yang tidak jelas entah kemana.

Aku melihat situasi di sekitar sudah sepi. Aku memutuskan untuk keluar mendekati ruangan UKS. Perlahan aku berjalan menunduk hingga akhirnya aku sampai di samping bangunan UKS.

“Eemmph.. Emmphh” suara jeritan tertahan terdengar jelas dari balik jendela yang ada di barisan tempatku bersembunyi.

Tiba tiba ada suara langkah kaki, asalnya dari depan UKS. Wah, gawat kalau sampai ada yang mendapatiku ada di sini! Bisa bisa aku diperkosa masal. Aku berlari menuju belakang UKS. Disana aku mendapati tumpukan meja meja dan kursi bekas. Dan ada kaca jendela di situ sehingga aku bisa mengintip ke dalam, apa yang terjadi. Perlahan aku menggeser meja dan kursi itu sehingga aku bisa mendapatkan ruang yang cukup untuk mengintip. Untungnya hari ini cukup mendung sehingga aku bisa menyabotase bayanganku sehingga tak terlihat orang. Akhirnya setelah beberapa menit aku memindahkan bangku dan kursi itu, aku bisa mendapatkan akses juga menuju jendela yang terdapat di belakang UKS. Betapa kagetnya aku ketika melihat gadis itu sudah ditelikung tangannya serta dibekap mulutnya oleh tukang sapu itu. Tangan kirinya memegang tangan si tukang sapu itu berusaha untuk melepaskan bekapannya. Ternyata dugaanku benar, suara langkah kaki itu adalah suara seorang teman dari tukang sapu ini. Setelah ia masuk, kemudian ia memelongokkan kepalanya keluar pintu kemudian ia memanggil nama “Girnoo!” Setelah itu si orang baru ini mulai mendekati gadis chinese itu. Kemudian dengan kanannya ia mencengkram tangan kiri gadis itu yang masih berusaha melepas bekapan si tukang sapu sementara tangan kirinya meremasi payudara gadis cantik itu.

“Ohh tidak!! Ternyata nasib gadis ini buruk sekali” Pikirku dalam hati.

Wah baru kali ini ada kesempatan pegang pegang susu amoy… ini non Eliza yang sering kamu bilang itu kan Had?” Kata si orang baru kepada si tukang sapu yang akhirnya aku mengetahui kalau namanya Hadi.

“Iya Yok, amoy tercantik di sekolah ini. Betul gak?” kata Hadi.

Mereka berdua tertawa dan si orang baru yang dipanggil Yoyok ini makin gencar meremasi payudara gadis itu sehingga gadis chinese itu menggeliat kesakitan.

Tak lama setelah itu, seorang satpam datang dan masuk kedalam UKS. Tertulis nama “GIRNO” di bagian atas saku sebelah kanannya. Ternyata satpam yang tadi siang itu bernama Girno. Pasti ia datang untuk menyelamatkan gadis chinese ini. Tetapi dugaanku salah, ia malah menyeringai girang dan mendekati gadis itu.

“Dengar, kalian jangan gegabah… non Eliza ini kita ikat dulu di ranjang UKS ini. Setelah jam 8 malam, gedung sekolah ini pasti sudah kosong. Itulah saatnya kita berpesta kawan kawan!” kata Girno.

Ternyata gadis cantik ini bernama Eliza. Oh Eliza, betapa malang nasibmu. Harus diperkosa oleh para pesuruh sekolah beserta satpamnya. Dalam keadaan seperti ini, aku masih bisa bersyukur kalau perawanku diambil oleh kakakku sendiri, walau kakak tiri ia juga tetap kakakku. Sepertinya Eliza sudah pasrah dan menyerah di tangan mereka. Itu dibuktikan ketika mereka dengan mudahnya membaringkan tubuh Eliza di atas ranjang UKS. Dan kedua tangan dan kaki gadis itu direntangkan dan diikatkan di ujung ujung ranjang UKS sehingga tubuh gadis itu berbentuk huruf X. Kemudian Hadi melepas kancing baju seragam yang dipakai oleh Eliza hingga terlihat kulit tubuhnya yang putih mulus, serta bra warna pink yang menutupi payudaranya.

“Pak… tolong jangan begini pak…” ia memohon kepada para lelaki yang ada di ruangan itu.

Tetapi Girno malah maju kemudian mencium Eliza hingga gadis itu terlihat gelagapan kemudian ia menyumpal mulut Eliza dengan kain putih yang cukup bersih, mungkin kain yang terdapat di UKS.

“Non Eliza, tenang saja. Nanti juga non bakalan merasakan surga dunia kok”, kata Girno sambil tersenyum memuakkan.

Kemudian satpam itu menyuruh Hadi dan Yoyok kembali melaksanakan tugas mereka masing masing. Aku melihat gadis itu sangat pasrah sekali di atas ranjang UKS. Aku memutuskan untuk menolongnya. Tekatku sudah bulat, yaitu ingin menolongnya!

Eliza

Aku berdiri tegak kemudian aku mulai melihat lihat situasi di sekitar UKS. Tetapi tetap saja ada sedikit yang mengganjal dihatiku. Aku tidak bisa menolong Eliza, karena aku takut kalau ketawan malah aku yang harus kena lagi. Aku sudah trauma dengan hal itu. Aku hanya terduduk di belakang ruang UKS, berharap Rendy cepat datang menjemput. Detik demi detik silih berganti dan malampun tiba, tetapi tidak ada tanda tanda kalah Rendy akan datang.

“Ckrek” suara pintu UKS dibuka. Aku melihat jam tanganku. Ternyata sudah jam 8 malam. Pantas saja, wah penyiksaan baru saja akan dimulai.

Aku mulai mengintip lagi. Aku melihat satu persatu mulai masuk. Pertama Hadi diikuti oleh Yoyok dan Girno, tapi Girno mengajak 2 orang Satpam yang lain dengan nama Urip dan Soleh, aku bisa mengenal mereka dari tanda pengenal pada baju satpam. Astaga! 5 orang akan menyiksa Eliza malam ini!?! Aku hanya bisa iba melihat nasib Eliza yang berakhir ditangan 5 orang ini.

“Hai amoy cantik… sudah nggak sabar menunggu kami ya?”, kata Hadi.

Tetapi dengan mulutnya yang tersumpal, aku hanya bisa melihat Eliza menggeleng gelengkan kepalanya. Semetara air mata Eliza sudah membasahi kedua pipinya. Kemudian mereka hanya tertawa dan dengan santai mereka membuka ikatan ikatan pada kedua pergelangan tangan dan kaki Eliza, lalu tanpa mendapatkan perlawanan sedikitpun darinya, mereka melepaskan baju dan rok seragam sekolah milik Eliza berikut kedua sepatu dan kaus kakinya. Kini Eliza tinggal mengenakan bra dan celana dalam yang keduanya berwarna pink. Aku sendiri bergidik ketika ke 5 orang itu mulai mengerubuti Eliza sambil bersorak gembira. Bagai manusia yang kelaparan dan disajikan sepiring nasi di atas meja, Elizapun mengalami nasib yang demikian. Sangat kontras sekali perbedaan warna kulit dari Eliza dan para pesuruh sekolah itu. Aku sampai kagum melihat kulit Eliza yang putih, kontras sekali dengan kulit kulit para pemerkosanya yang hitam legam. Tetapi sepertinya Eliza mulai menolak ketika mereka selesai mencopot Bra miliknya, keadaan semaki parah ketika Eliza tiba tiba panik,maka dari itu ia meronta dengan sekuat tenaga. Tetapi tenaganya hilang begitu saja ketika jari jari Girno mengelus ngelus selangkangan Eliza dan menekan nekan bagian vaginanya yang masih terlindungi celana dalam pink miliknya. Kemudian payudara Eliza menjadi sasaran Yoyok dan Hadi. Mereka meremas payudara Eliza dengan keras dan kencang. Tetapi mereka berdua akhirnya membaringkan Eliza kemudian mengikatnya lagi. Mungkin mereka tidak tahan melihat Eliza yang dari tadi melawan.

Tampaknya Eliza masih hijau dalam urusan ini. Aku dapat melihat tingkah lakunya yang masih gelagapan melihat para pemerkosanya ‘mengerjai’ tubuhnya. Setelah ia terikat sempurna diatas ranjang UKS, satpam bernama Urip melangkahkan kakinya mendekati Eliza kemudian ia menarik kain yang disumpal dimulut gadis itu dan melumatnya dengan ganas. Bukan hanya itu saja, satpam bernama Soleh juga mendekati Eliza dan mulai mengelus kedua paha Eliza. Aku sendiri sebenarnya tidak ingin melihat kejadian ini, karena ini mengingatkanku akan kejadianku di hotel dulu. Tetapi ketika aku memalingkan pandanganku, rasanya aku ingin melihatnya lebih jauh. Memang masih susah untuk menahan nafsu yang sudah melanda diriku. Nafasku semakin memburu, tubuhku sudah cukup berkeringat menahan nafsu birahi yang sedari tadi menguasaiku. Ketika aku berusaha mengatur nafasku,

“Oh… augh… ngggg… aaaagh…” terdengar suara leguhan dari dalam.

Oh apa yang terjadi? Apakah Eliza orgasme karena dikerjai mereka? Akupun langsung mengarahkan pandanganku ke dalam UKS. Dan benar saja, tubuh Eliza melejang lejang dan betisnya tersontak sontak dan tubuhnya yang berkeringat terlihat mengkilat dibawah sinar lampu dari luar UKS. Uh sungguh benar benar eksotis. Sepertinya ia sudah lemas setelah orgasmenya. Eliza benar benar pasrah menerima rangsangan yang masih saja diberikan oleh mereka.

“Enak ya non? Hahaha… nanti non pasti minta tambah” tanya Yoyok sambil menyeringai penuh kemenangan.

“Non Eliza, kami akan melepaskan ikatanmu. Jika non Eliza tidak macam macam, kami akan melepaskan non setelah kami puas. Tapi jika non Eliza macam macam, non akan kami seret ke mess kami. Dan non tahu kan apa akibatnya? Di situ non tidak hanya harus melayani kami berlima, tapi seluruh penghuni mess kami. Mengerti ya non?”, Ancam si satpam Girno.

Sepertinya Eliza tidak bisa bertindak apa apa lagi, akhirnya dengan ekspresi yang sangat terpaksa menerima segala ancaman Girno.

“Jangan bawa saya ke sana pak. Saya akan menuruti kemauan bapak bapak. Tapi tolong, jangan lukai saya dan jangan hamili saya. Dan lagi, saya masih perawan pak. Tolong jangan kasar… tolong jangan keluarkan di dalam ya? Saya nggak mau hamil pak…” kata Eliza sedikit gemetar.

Apa sebegitu menyeramkannya di Mes yang mereka maksud? Whatever lah, aku tidak terlalu memikirkannya karena aku langsung terfokus lagi ke pembicaraan mereka.

“Hahaha, non Eliza, sudah kami duga non memang masih perawan. Nona masih polos, dan tidak mengerti kalo kami suka memandangi tubuh nona yang sexy. Kami selalu memimpikan memperawani non Eliza yang cantik ini sejak non masih kelas satu SMA. Minggu lalu, ketika non ulang tahun ke tujuh belas dan merayakannya di kelas, non bahkan berbaik hati memberi kami hadiah makanan. Maka kami sepakat untuk membalas kebaikan non dengan memberi non kenikmatan surga dunia.”, kata Girno.

“Tenang saja non. Kami memang menginginkan tubuh non, tapi kami tak sekejam itu untuk melukai tubuh non yang indah ini. Dan kalo tentang hamil, non Eliza tenang saja. Kami sudah mempersiapkan semua itu. Tadi siang, aqua botol yang non titip ke saya, saya campurin obat anti hamil sekaligus obat cuci perut. Sekarang non Eliza mengerti kan kenapa tadi non jadi sakit perut? Hahaha…” jelas Girno sambil tertawa, tertawa penuh dengan kemenangan.

Ternyata yang tadi siang itu, mereka memasukkan obat anti hamil dan obat pencuci perut.

“Dasar tukang sapu dan satpam kurang ajar!” Umpatku dalam hati.

Tanpa basa basi lagi, mereka berlima membuka pakaian mereka masing masing hingga bugil. Hanya tinggal Eliza yang masih mengenakan celana dalam pinknya. Dengan penuh rasa kemenangan, Girno mengambil posisi di tengah selangkangan Eliza sementara yang lain melepaskan ikatan yang mengikat gadis itu dan dengan gampangnya Girno meloloskan celana dalam gadis itu hingga sekarang ada 6 orang bugil di dalam UKS. Aku benar benar terangsang hebat, tanpa sadar tanganku meremas remas payudaraku sendiri. Nafasku sedikit memburu. Tetapi aku masih tetap berusaha menahan hawa nafsuku yang sudah naik ke ubun ubun.

“Indah sekali non Eliza, memeknya non. Rambutnya jarang, halus, tapi indah sekali”, pujian mesum terlontar dari Girno.

Aku tercengang ketika melihat benda lunak yang bergelantung dibawah perut Girno mulai bangun dari tidurnya. Gila! Penis apa itu?! Seperti raksasa, diameternya saja sekitar lima senti dan panjang yang sekitar enam belas senti. Benar benar gadis malang itu akan disiksa dengan kenikmatan yang tiada tara malam ini.

“Pak, pelan pelan pak ya…” pinta Eliza kepada Girno.

Aku melihat Eliza yang sudah sangat pasrah karena sebentar lagi keperawanannya segera direngut oleh satpam sekolah itu. Sementara itu Girno menyeringai tanda kemenangan, sementara Eliza memalingkan wajahnya. Satpam itu mulai menggesekkan kepala penisnya di bibir vagina Eliza. Aku dapat melihatnya dengan jelas kalau Eliza sudah mulai menikmati permainan yang ‘baru’ saja akan segera dimulai. Baru saja sebentar ke empat orang itu meninggalkan Eliza dan Girno, mereka kembali mengkerubutinya kembali. Kedua payudara Eliza kembali menjadi sasaran Hadi dan Yoyok, sementara Urip dan Soleh bergantian melumat bibir bibirnya sehingga membuat konsentrasi gadis itu pecah karena mendapat rangsangan dimana mana. Aku benar benar tidak menyangka kalau sirkulasi orgasme Eliza begitu singkat. Tak lama kemudian, Eliza orgasme untuk yang kedua kalinya. Sungguh pemandangan yang eksotis. Tubuhnya melonjak lonjak, kakinya mengejang. Dan aku sungguh terangsang melihat orgasmenya hingga ada sedikit cairan vaginanya yang melonjak keluar.

“Eh… non Eliza ini… belum apa apa sudah keluar dua kali, pake muncrat lagi. Sabar non, kenikmatan yang sesungguhnya akan segera non rasakan. Tapi ada bagusnya juga lho, memek non pasti jadi lebih licin, nanti pasti lebih gampang ditembus ya”, ejek Girno sambil mulai melesakkan penisnya membelah bibir vagina Eliza.

Sebentar lagi, gadis perawan itu sudah bukan menjadi gadis perawan lagi.

“Aduh… sakit pak” erang Eliza ketika penis girno mulai perlahan membelah bibir vaginanya.

“Tenang non, nanti juga enak”, kata Girno berusaha menenangkan Eliza yang tampaknya ketakutan.

Kemudian satpam itu menarik penisnya sedikit, dan menekannya lagi sedikit lebih dalam dari yang tadi. Tetapi dengan perlahan dan kesabaran, Girno berhasil membuat Eliza kembali rileks kembali.

“Ooh… aauugggh… hngggkk… aaaaagh…”, suara jerit kesakitan terdengar memenuhi ruang UKS, mataku terbelalak melihat Eliza yang baru saja ditembus keperawanannya. Seluruh tubuhnya mengejang, dan air matanya kembali mengalir tanpa bisa tertahan. Keringatnya juga mengucur deras.

“Aduh… sakit pak Girno… ampun” rintih Eliza kepada Girno.

Namun Girno hanya tertawa tawa melihatku merintih kesakitan dan disambut oleh teriakan semangan dari Yoyok, Hadi, Urip dan Soleh.

Kini Girno mulai memompa tubuh mungil Eliza sehingga membuat gadis itu membolak balikkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menahan rasa sakit yang masih terasa di selangkangannya. Dengan sigap, Urip memegang kepala Eliza dan langsung melumat habis bibirnya sehingga gerakan kepalanya tertahan. Serta belaian di rambutnya dan hisapan Yoyok dan Hadi membuat Eliza kembali ‘On Fire’. Aku dapat memastikannya sekarang ini dia sedang On Fire karena perlahan ia mulai membalas lumatan Urip dengan ganasnya. Sementara aku melihat penis Girno yang masih belum menancap semua kedalam vagina Eliza.

“What?! Segitu besar kah?!” Kataku dalam hati tak percaya.

“Oh sempitnya non. Enaknya… ah…”, Girno mulai meracau sambil terus mendorong penisnya sampai akhirnya amblas sepenuhnya.

“Aaaahhhh” erangan Eliza yang eksotis membuat jantungku berdebar debar dan nafasku kembali memburu.

Eliza menjerit kesakitan, kedua tangannya mencengkram sprei hingga sprei ranjang UKS itu lepas. Girno masih mendiamkan penisnya didalam vagina Eliza untuk beradaptasi didalamnya. Tetapi suasana itu berlangsung singkat. Girno dengan bernafsu mulai menarik penisnya kemudian ia lesakkan lagi kedalam vagina Eliza, dan terus seperti itu. Hal ini membuat Eliza kesakitan. Mulutnya ternganga lebar menahan rasa sakit.

Melihat kondisi ini, Urip tidak mau melewatkan kesempatan emas, ia menyelipkan penisnya kedalam mulut Eliza.

“Isep non. Awas, jangan digigit ya!”, perintah Urip sambil tertawa seakan Eliza itu budaknya saja.

Dari gerak tubuh Eliza aku sudah bisa menebak kalau ia belum pernah mengulum penis. Gadis itu terlihat ingin muntah tetapi itu semua tertahan karena penis Urip memenuhi rongga mulut Eliza hingga mulutnya penuh oleh penis Urip.

“Non, ayo dikocok!” Tiba tiba Soleh meraih tangan kanan Eliza dan menempelkannya di penisnya.

Aku ternganga melihat penis Urip begitu besar dan panjang. Tangan Eliza saja tidak dapat menggapainya, aku melihat tanganku sendiri

“apakah aku bisa menggenggam penis itu ya?” Hushh!! Apaan sih, pikiranku sudah melayang kemana mana.

Aku menggeleng gelengkan kepalaku dan aku melanjutkan aksiku mengintip.

Aku cukup terkejut ketika melihat suara teriakan seorang laki laki, aku kenal suara itu! Ya itu pak Edy!

“Apa apaan ini? Apa yang kalian lakukan pada Eliza?” Semua orang yang ada di dalam UKS tampak tercengang melihat kedatangan pak Edy.

Syukurlah pak Edy datang, semoga ia mau menolong Eliza yang malang. Menyadari pak Edy datang, Eliza langsung melepas kulumannya dari penis urip.

“Pak Edy, tolong saya pak. Lepaskan saya dari mereka” pinta Eliza memelas kepada pak Edy.

“Kalian ini… ada pesta kok tidak ngajak saya? Untung saya kembali mau mencari bon pembelian kotak P3K tadi. Kalo begini sih, itu bon tidak ketemu juga tidak apa apa… hahaha…” pernyataan pak Edy ini disambut sorak sorai kegembiraan para ‘peserta’ di dalam UKS.

“Haizz!!! Dasar laki laki!! Ga ada yang bisa diharapkan ketika sudah melihat perempuan cantik tak berdaya sudah tersaji di depannya!” Umpatku dalam hati.

Aku dapat melihat ekspresi muka Eliza kembali cemberut dan ia melanjutkan ‘pekerjaannya’ yang sempat tertunda.

“Pak Edy tenang saja, masih kebagian kok. Itu tangan kiri non Eliza masih nganggur, kan bisa buat ngocok punya pak Edy dulu. Tapi kalo soal memeknya, ngantri yo pak. Abisnya, salome sih”, kata Girno yang mulai memompa liang vagina Eliza yang sempat terhenti.

“Yah gak masalah lah. Ini kan malam minggu, pulang malam juga wajar kan?” kata pak Edy yang tertawa mengiyakan sambil melepas pakaiannya.

Aku tertawa geli melihat ukuran penis pak Edy yang sangat mini. Aku dibuatnya ingin tertawa terbahak bahak melihat penis itu yang hampir buntung.

“Aaaaagh…” Eliza kembali mengerang pertanda ia sudah orgasme tiga kali. Dengan tangan kirinya, gadis itu meraih penis pak Edy dan mulai meremas dan mengocoknya.

Aku dapat melihatnya kalau Eliza cukup keenakan dibuat Girno. Tubuhnya terlonjak lonjak ketika penis Girno keluar masuk liang vaginanya.

“Non, isep lagi dong, masa dianggurin” kata Urip mengingatkan Eliza.

Urip sangat bernafsu, ia memaksa Eliza untuk melakukan Deepthroath, oh benar benar gadis ini disiksa dalam kenikmatan. Aku rasa sudah cukup aku mengintip, akhirnya, aku memutuskan untuk duduk dulu di lantai di belakang ruang UKS. Aku mengatur nafasku, meskipun suara erangan Eliza masih terdengar, tetapi aku mengurungkan niatku untuk mengintip lagi. Akupun berdiri dan berjalan meninggalkan ruang UKS. Aku berjalan menuju tempat parkir mobil, siapa tau Rendy ada di sana.

“Eeeemmmppphhhhhhh” seseorang membekapku dengan sebuah sarung tangan yang sudah dilumuri obat bius sesaat kemudian pandangankupun kabur. Aku tidak bisa melihat apa apa lagi.

Eeemmmppphhhhhh” sekejap aku langsung tidak sadarkan diri.

Sekelompok orang datang meraba-raba serta membopong tubuhku kesuatu tempat. Tetapi, aku tidak ingat apa apa lagi setelah itu.

Eh, di mana aku? Wangi khas aroma therapy. Sepertinya aku kenal bau ini.

“Sudah bangun sayang?” Tanya seorang yang baru saja membelai rambutku.

“Untung kemarin kau selamat, kalau tidak mungkin kamu sudah jadi mangsa 50 orang di dalam mess itu!” Jelas Rendy dengan ekspresi kawatir.

“Apa?! Apa maksudmu Ren?” Tanya ku masih bingung.

Akhirnya Rendy menceritakan kalau ketika aku selesai mengintip pesta sex yang berlangsung di UKS, seorang satpam melihatku seorang diri jalan mengendap endap di lingkungan sekolah dan mereka menaruh obat nyamuk cair di saputangan yang dipakai untuk membiusku, kemudian mereka mencoba memperkosaku. Akhirnya salah seorang kepercayaan Rendy melihat kalau aku yang dibawa ke mess kemudian ia bergegas menelpon Rendy. Waktu Rendy menemukanku, mereka sedang berusaha membuka Rok ku dan bagian atas ku sudah bugil semua. Mukaku memerah mendengar penjelasan dari Rendy. Aku menghela nafas lega ketika tau kalau aku belum diapa apakan oleh mereka.

“Kalau kamu mau berhenti sekolah aku akan menyuruh kepala sekolah untuk menghapus nama kita dan anggap saja kita tidak pernah bersekolah disitu” jelas Rendy berusaha menghiburku yang dari tadi melamun.

Perasaanku beradu, di suatu sisi aku ingin berhenti sekolah karena aku takut kalau orang orang mess itu mencoba memperkosaku lagi. Sementara di sisi lain aku pasti merepotkan Rendy yang sudah memberiku suatu kehidupan baru di Surabaya ini.

“Gimana Fris?” Tanyanya membuyarkan lamunanku.

Aku hanya mengangkat sejenak kedua bahuku tanda aku tidak tau kemudian membalikkan badanku memunggungi Rendy. Tetapi Rendy malah masuk kedalam bed coverku kemudian tidur di sebelahku.

“Atau kita menikah saja sayang?” Bisiknya.

“Apa?!” Tanyaku kaget sembari memutar badanku.

Aku sedikit gugup ketika wajahku dan wajahnya sungguh dekat. Entah siapa yang memulai duluan, kami berdua berpangutan mesra, aku dapat merasakan, ciuman Rendy ini sangat lembut dan penuh cinta. Aku juga dapat merasakan kalau ia hanya ingin menciumku karena tangannya hanya memeluk tubuhku saja bukan merabanya. Aku mengambil inisiatif untuk menyudahi ‘adegan panas’ kami, karena aku tidak mau terlampau jauh.

“Kenapa sayang?” Tanyanya dan berusaha melumat lagi bibirku.

“Jangan lagi Ren” jawabku sambil menggeleng gelengkan kepalaku.

“Maaf, aku jadi lepas kontrol” sesalnya.

“Ga apa apa” aku berusaha menghiburnya.

“Ren, aku masih mau sekolah” kataku singkat.

“Kamu yakin?” Tanyanya.

“Emm” aku menganggukkan kepalaku.

“Tapi, aku mau kalau kita tidak datang berdua, aku bisa naik bus atau angkutan umum” lanjutku.

“Jangan jangan jangan! Kamu tidak boleh naik kendaraan macam itu, lebih baik kamu naik mobilku yang satu lagi biar nanti aku suruh supir mengantarmu” larangnya sekaligus memberikan solusi.

“Ya sudah kalau itu maumu” jawabku singkat sambil membalikkan tubuhku hingga memunggungi Rendy.

Nafsuku sebenarnya sudah cukup terpancing untuk ‘melakukan’ itu lagi, tetapi aku harus berusaha menahan gairah ini karena aku tidak mau Rendy kembali ‘kumat’ karena menurutku dia itu sedikit hypersex.

***

Pagi yang indah, ternyata kemarin aku ketiduran sampai pagi. Hawa AC yang ada dikamar ini cukup sejuk, membuatku nyaman untuk kembali tidur. Aku membalikkan badanku dan betapa kagetnya aku melihat Rendy tertidur pulas dihadapanku.

Hmm.. Ganteng juga kalo lagi tidur yah.. Pikirku dalam hati dan sedikit tersenyum.

Aku bangun dari tempat tidur dan memutuskan untuk mandi. Singkat cerita aku keluar dari kamar mandi dengan berbalutkan handuk saja menuju lemari pakaian yang terletak persis di samping tempat tidurku. Aku baru sadar kalau ada Rendy di belakangku sedang tertidur pulas, tetapi biarlah, ia masi tertidur ini. Dengan PDnya aku membuka balutan handukku dan memakai celana dalam dan bra yang sudah disediakan oleh Rendy ketika aku datang ke sini. Aku mengambil seragam sekolahku kemudian memakainya, tak lupa aku memakai tanktop yang berfungsi menjadi pakaian dalamku untuk lapis kedua. Karena aku menyadari kalau baju seragam SMA berbahan tipis dan tembus pandang. Aku tidak mau ‘mengundang’ orang untuk berusaha mencicipi tubuhku. Selesai sudah aku mengganti bajuku kemudian aku mengambil handukku dan betapa terkejutnya aku melihat Rendy sudah terduduk di tempat tidur.

“Tubuhmu makin mulus saja Fris” pujinya dengan kondisi setengah sadar.

“Ih apaan sih..” Jawabku ketus.

Mukaku sedikit merah karena pada saat aku mengganti baju tadi, tanpa sadar Rendy sudah bangun. Aku segera mengambil kaus kakiku kemudian aku duduk di pinggir Ranjang kemudian memakai kaus kakiku satu per satu. Tiba tiba saja Rendy menarik tubuhku hingga aku terlentang di atas tempat tidur kemudian ia menindihku.

“Ihhh apaan sih Renn.. Uda ahh” omelku manja.

Tanpa basa basi ia melumat bibirku hingga aku sedikit kehabisan nafas dan nafsuku mulai terpancing.

“Fris aku uda gak tahan lagi” bisiknya ditengah nafasnya yang memburu.

“Iihh Renn,, jangann!! aku mau ke sekolah nanti telat” larangku.

Akhirnya ia mau mengerti juga, kemudian ia melepaskanku. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan menuju meja rias. Oh iya, ia juga menyediakan meja rias untukku. Aku merapihkan rambutku yang tadi acak acakan. Merapihkan poniku dan merapihkan bajuku. Untung Rendy tidak meremas payudaraku, hingga baju sekolahku hanya sedikit kusut di beberapa tempat. Aku beranjak dari tempat tidur lalu meninggalkan Rendy yang cuma tertawa melihat ekspresiku yang jengkel. Hari ini hari senin, awal minggu yang cukup menegangkan. Baru masuk sekolah saja aku sudah melihat ‘adegan panas’ di UKS. Uh bagaimana nanti yah? aku merinding kemudian melanjutkan langkahku menuju teras depan rumah. Disana sudah menunggu seorang pembantu yang sudah tidak asing lagi mukanya.

“Selamat pagi nona, selamat bersekolah, supirnya sudah menunggu di depan” sapaan ramah Bi Eka membuat hatiku terasa senang dan tentram sekali, aku jadi teringat mendiang ibuku.

Aku tersenyum manis kepadanya dan mengucapkan “terimakasih Bi” dan meneruskan langkahku menuju teras depan. Aku cukup terkejut ternyata yang tadinya aku hanya minta diantar dengan mobil biasa kenapa sebuah Pajero Sports sudah terparkir didepan rumah berikut dengan pak supir yang membukakan pintu belakang untukku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang apakah aku beruntung atau sial? Mobil melaju ke sekolah dengan cepat. Pak supir ini cukup gesit dalam membawa mobil. Mungkin ia sudah biasa membawa mobil ini.

“Pak pak stop pak” perintahku ketika sudah sampai di gerbang sekolah. Mobilpun perlahan menepi ke kiri dan berhenti.

“Pak saya turun disini aja, nanti bapak jemput saya sekitar jam 4 sore yah. Makasih pak” perintahku lagi.

“Baik non” jawab pak supir singkat.

Akhirnya aku mulai melangkahkan kakiku dari depan gerbang sekolah hingga lobby.

Aku melihat beberapa anak anak kelas regular juga berjalan kaki menuju sekolah. Suara motor cukup terdengar dari kejauhan, orang yang mengendarai motor itu terus memacu lajunya hingga motor tersebut sudah ada di dekatku dan ia mengambil inisiatif untuk memblok jalanku.

Aku cukup kaget ketika motor itu tiba tiba berhenti di depanku.

“Hai Friska, mau bareng?” Tanya si pengendara motor yang aku ketahui ternyata Alex.

“Emm ga usah deh, aku jalan aja. Udah deket kok” tolakku halus.

“Kamu harus ikut, ada sesuatu yang penting” serunya serius.

“Hah? Apaan?” Tanyaku sedikit cemas.

“Udah ayoo naik aja” perintahnya.

Karena sudah cukup panik, akupun naik motor yang dikendarai Alex kemudian bersamanya menuju parkiran motor sekolah.

“Apanya yang penting?” Tanyaku sedikit kesal.

“Kamu penting buat aku” jawabnya serius.

“Hah? Apaan sih?!” Tanyaku bingung. Meski aku sudah tau kalau Alex ingin menyatakan cintanya kepadaku.

“Emm ga apa2. Yuk ke kelas”

Kamipun ke kelas bersama sama. Sesudah absen aku duduk di bangkuku sementara Alex bergabung bersama teman temannya. Sesaat kemudian Bella datang dengan senyumnya yang manis.

“Selamat pagi” sapa Bella ramah kepadaku.

“Pagi” balasku sambil tersenyum.

Kamipun mengobrol seperti biasa sambil menunggu bel masuk. Aku cukup senang karena sekarang bisa beradaptasi dengan teman teman baruku, terutama Bella. Di saat pelajaran sosiologi yang cukup membosankan, aku melihat Bella yang tidak konsen malah cenderung melamun melihat Alex yang sedang tidur pada saat pelajaran.

“Bel, Bella, hey kamu ngelamunin apa?” Bisikku pelan.

“Ehh.. Engga kok” jawabnya ketika tersadar dari lamunannya.

“Kamu suka ya sama Alex?” Tanyaku.

“Nanti aja ya Fris, aku mau nyatet dulu” jawabnya berusaha mengalihkan topik pembicaraan.

Yah, akhirnya aku juga mencatat pelajaran. Emm.. Sekolah ini sungguh aneh, atau aku yang aneh ya?! Jam pelajaranpun selesai. Kini aku tidak lagi mencari cari Rendy ketika istirahat. Sekarang, Bella selalu menemaniku. Hingga kami berdua berpapasan dengan Eliza bersama dengan temannya.

“Bell, kamu kenal dia ga?” Bisikku sambil menatap ke arah Eliza.

“Kenal, dia anak kelas 2 Fris” jawab Bella berbisik juga.

Oh ternyata dia masih adik kelasku. Aku berani bertaruh dia pasti akan jadi ‘mainan’ untuk para tukang sapu dan satpam itu, tentunya si guru menjijikan Bapak Edy. Aku sedikit merinding membayangkan kejadian semalam. Aku hampir saja diperkosa beramai ramai didalam mess itu. Untungnya saja penghuninya hanya satpam dan pesuruh sekolah untuk *** dan SD, jadi aku tidak akan bertemu mereka karena gedung SD dan *** tidak menyatu.

“Eh, kok melamun aja sih” sapa Bella sambil menepuk pundakku.

“Eeeh.. Engga,, ga apa apa kok Bell” jawabku sedikit linglung.

“Eh iya Fris, rumah kamu dimana? Boleh nanti pulang sekolah aku main ke rumahmu?” Tanya Bella antusias.

“Emm boleh kok ya uda nanti kamu pulang bareng aku aja” jawabku ringat.

“DEG” bagai tersambar petir, aku baru menyadarinya kalau aku serumah dengan Rendy. Apa kata dia nanti?

Hatiku cemas dan gelisah memikirkan apa yang akan terjadi nanti. Kamipun berjalan menuju kantin untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, Bel tanda masuk telah berbunyi. Aku beserta Bella kembali masuk ke dalam kelas. Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, dan akhirnya bel tanda pulang berbunyi. Semua siswa di dalam kelas membereskan buku masing masing termasuk aku dan Bella. Kemudian kami berjalan bersama menuju mobil yang sudah menjemputku. Langkahku sungguh pelan, mengingat bagaimana reaksi Rendy ketika ia melihat aku membawa Bella ke rumahnya. Kami berdua memasuki mobil Pajero Sports yang sudah disediakan Rendy untuk memenuhi kebutuhan transportasiku. Mobil melaju dengan kencang membelah kemacetan yang terjadi di sepanjang jalan. Aku belum pernah ke Surabaya, maka dari itu aku tidak dapat menyebutkan nama jalannya.

Akhirnya kami sampai di depan gerbang besar yang tinggi, pak supir menekan tombol remote yang tersedia di dasbor mobil dan otomatis pintu gerbang terbuka. Mobilpun masuk melaju menuju teras rumah.

“Fris, kamu yakin ini rumahmu?” Tanya Bella ragu. Aku hanya mengangguk sedikit gugup.

Kami berdua langsung masuk ke rumah dan kami langsung disambut Bi Eka.

“Selamat sore nona Friska, bawa temen ya?” Sapanya ramah.

“Iya Bi, ini temen aku” jawabku sambil menyunggingkan senyum manis.

“Bel, kamu naik dulu aja, kamarku dari sini kamu naik tangga dan pintu kedua sebelah kanan itu kamarku” terangku cukup detail kepada Bella.

Ia hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamarku.

“Bi, Rendy mana?” Tanyaku pelan.

“Anu non, Tuan Rendy ada di…”

“Dimana Bi?” Tanyaku penasaran

“Di.. Di kamarnya non” jawab Bibi sedikit gugup.

HAH???!!! GAWAT!! Hatiku bagai tersambar petir mengingat Bella pasti sudah masuk ke kemarku.

“Bella!!” Teriakku sembari mengayunkan kakiku berlari menuju kamarku.

“Bel.. Bella!! Be…..” Teriakanku berhenti ketika aku melihat Bella sedang asyik mengobrol dengan Rendy.

“Eh Friska, ternyata kakakmu ramah juga ya” Puji Bella kepada Rendy.

Apa?!?! Rendy kakakku??? Apa maksudnya semua ini?! Huh dasar… Aku terus mengeluh dalam hatiku.

Duuuhh akrab banget sih mereka… Keluhku lagi yang melihat mereka saling bercanda tawa, sementara aku hanya bisa tersenyum kecut. Melihat mereka sambil memainkan handphoneku. Melihat mereka seperti itu aku jadi sedikit kesal, ops.. Apa aku cemburu??! Ahh tidak tidakk jangan sampai aku suka sama dia. Aku baru ingat kalau besok ada ulangan matematika, sementara buku matematikaku tertinggal didalam Locker sekolahku. Ahh bagaimana ini?!

“Bell, kamu bawa buku matematika ga?” Tanyaku panik.

“Aduh bukuku dipinjam sama Alex” jawab Bella ringan.

“Memang kamu ngga belajar untuk ulangan besok?” Tanyaku lagi.

“Ohh itu, aku sudah belajar Fris cuma nanti aku mau belajar lagi sama guru lesku” jawabnya singkat.

DEG.. Aku panik sekali, aku belum belajar, bukupun ketinggalan. Yah mau bagaimana lagi, mumpung belum gelap, aku memutuskan untuk kembali ke sekolah mengambil buku matematikaku. Aku berpamitan dengan Bella dan Rendy meninggalkan mereka berdua di kamarku. Buru buru aku menyuruh pak supir untuk berangkat ke sekolah. Aku melihat jam dimobil menunjukkan pukul 15.45 aku harus buru-buru. Mobilpun melaju kencang menuju sekolahku, sesampainya di sana, aku langsung buru buru turun dari mobil dan menyuruh supirku (lebih tepatnya supir Rendy) untuk menunggu di parkiran dekat lobby. Aku berlari secepat mungkin untuk menghemat waktuku. Suasana sekolah sudah sepi dan tidak ada satupun murid yang terlihat disini. Akhirnya sampai juga di lockerku, aku bergegas mengambil buku matematika, dan tiba tiba,

“Kamu Friska kan? Anak pindahan itu?” Tanya seseorang yang cukup mengagetkanku.

“I..I..iya pak, ada apa ya?” Tanyaku gugup kepada seorang yang menegurku.

“Kamu ikut ke ruangan saya ya, ada yang ingin saya bicarakan mengenai nilai”

Perasaanku mendadak menjadi tidak enak. Semua bulu kudukku merinding . Semoga tidak akan terjadi apa apa. Aku bergerak mengikuti guru yang belum kukenal ini. Sesampainya di ruang guru, aku dapat melihat papan nama yang terletak di atas mejanya. Ternyata guru ini bernama Edy.

“Ada apa yah pak?” Tanyaku gugup.

“Kamu baru pindahkan?” Tanya pak Edy.

“I..iya pak” jawabku gugup sambil menundukkan wajahku.

“Kamu tahukan kalau siswa disini pulang jam berapa?” Tanya pak Edy dengan wajah tak tenang.

“T..tahu pak” jawabku masih menunduk.

“Kenapa kamu belum pulang juga?” Tanya pak Edy yang kini sudah beranjak dari tempat duduknya.

Tiba tiba seorang berseragam satpam masuk kedalam ruangan Pak Edy, ya aku mengenalinya! Itu Girno!

“Lapor pak, situasi aman terkendali” kata satpam itu sembari mengunci pintu ruangan.

“Eh, pak kok di kunci?” Tanyaku heran, Perasaanku mulai tak enak.

“Tenang Friska, kita hanya ingin mengenalimu lebih jauh, kemarin kita tahu kok kamu mengintip pesta kecil bersama Eliza di UKS” jelas pak Edy yang tersenyum licik.

Deg! Bagaimana ini?! Ah aku tidak mau menjadi budak seks mereka. Cepat cepat aku berlari ke arah pintu yang sedang dijaga Girno. Buug!

“Adduuuhh” tubuhku menabrak tubuh Girno dan aku didorong olehnya menuju sofa di ruangan itu dan rasanya cukup sakit karena bagian pinggulku menyentuh pinggir sofa. Posisiku sudah terlentang di atas sofa dan rok seragamku tersingkap cukup tinggi memperlihatkan kemulusan pahaku sehingga membuat nafsu kedua laki-laki yang ada di depanku semakin terbakar. Cepat cepat aku merapihkan rokku lagi dan bangkit berdiri, namun sudah terlambat karena pak Edy sudah menerkamku dan menindihku di atas sofa.

“Eemmmhh iihh pakk janggaann.. Toollonggg too eeeemmmpphhhh” aku tidak bisa berbuat banyak karena pak Edy sudah melumat habis bibirku sementara Girno masih asik menonton ‘adegan panas’ aku dan guruku.

“Pak, mukanya merah” celetuk Girno mengejekku. Memang ketika aku terangsang, salah satu ciri khasku adalah mukaku menjadi merah.

Otomatis pak Edy melepas lumatannya dan melihat mukaku. Akupun mengap mengap mencari udara segar karena dari tadi menahan nafas.

“Tolong pak, jangan perkosa saya” mohonku yang aku sudah tahu akan sia-sia saja.

“Kita nikmati saja malam ini sayang” jawab pak Edy yang mulai melucuti satu persatu kancing bajuku.

Aku yang berusaha melindungi bajuku hanya bisa pasrah karena tenagaku mulai habis ditambah lagi perutku mulai lapar karena aku belum makan dari tadi siang. Ini membuat mereka lebih leluasa mengerayangi tubuhku.

“No, ayo sini ikut main” ajak pak Edy yang membuatku lebih takut lagi karena mukanya cukum seram.

Dengan cepat Girno melepas rok seragamku dan celana dalamku yang langsung menampakkan vaginaku didepannya. Tanpa basa basi Girno langsung melumat habis vaginaku. Aku tidak bisa menahan rasa nikmat ini akhirnya aku membiarkan juga pak Edy melucuti baju seragam serta bra yang kupakai.

“Aaaaahh.. Aadduhh pelan pelan paakk aahh gelii” teriakku ketika Girno menyeruput menjilat dan menekan nekan klitorisku dengan lidahnya.

Oh my God! Kenapa ini, nafsuku mulai terpancing, ditambah pak Edy mulai memelintir putingku serta meremas remas payudaraku dengan lembut. Aku merancau tak jelas selama beberapa menit ketika akhirnya aku mengalami orgasme yang pertama.

“Sssllluurrppp.. Slck..slcckk..” Itulah bunyi yang cukup terdengar di telingaku ketika Girno menyeruput cairan vaginaku yang cukup banyak.

“Wah gila ni cewe, sekali keluar banyak banget, pejunya enak lagi, cobain pak” kata Girno.

Tanpa ba bi bu lagi pak Edy menyelesaikan permainannya pada payudaraku dan mengambil posisi untuk menyeruput vaginaku. Sementara Girno melucuti bajunya sendiri satu persatu hingga telanjang bulat. Aku cukup bergidik ngeri melihat penisnya yang cukup besar dan panjang. Sementara pak Edy dengan postur tubuh seperti itu pasti penisnya lebih besar lagi. Aku tidak menikmati ketika pak Edy menyeruput vaginaku, sehingga aku hanya diam dan mendesah kecil saja. Sepertinya Girno lebih tahu apa yang kumau dibanding pak Edy. Di saat aku menikmati sisa sisa orgasmeku, tiba tiba Girno sudah ada di atasku dan menodongkan penisnya di depan bibirku

“Non isepin dong”.

Nafsuku sudah terlalu berlebih untuk menolak perlakuan ini. Lebih baik aku menikmati permainan mereka daripada aku harus tersiksa dengan birahi yang tak kunjung reda ini. Aku meraih penis Girno yang panjang dan keras. Aku sedikit ngeri juga, bagaimana rasanya ya jika penis ini masuk kedalam liang vaginaku. Duh, aku cukup ngeri memikirkannya. Semakin dipegang dan aku hisap, penis itu semakin keras dan besar, keras seperti pentungan satpam. Huh bagai mana ini.

“Pak Edy, saya mau masukin ke lobangnya si non nih, kayaknya dia uda gak sabar” omong Girno seenaknya saja, memangnya aku ini cewe apaan.

Girno langsung mengambil posisi dan ia menempelkan kepala penisnya di bibir vaginaku dan menggesek gesekkan beberapa kali sehingga membuat nafsuku kembali naik.

“Aaahh aahh… Aaahhh sakiitt pelan pelaaann” hanya kata kata itu yang keluar dari bibirku ketika Girno menyetubuhiku dengan kasar. Tetapi aku menikmati permainannya. Ia membuat putaran dan ia menusuk penisnya lebih dalam. Kadang ia juga menaikkan kecepatan sodokannya dan kadang ia memperlambat sodokannya.

Sudah 2x aku orgasme dibuatnya. Sungguh lemas sekali badan ini serasa mau remuk apalagi aku belum sempat makan, perut ini sungguh kosong. Aku menyadari bahwa Girno sebentar lagi pasti akan keluar, aku melihatnya menggeram cukup keras dan menaikkan kecepatan sodokannya.

“Aahh.. Paak jangan keluarkan di dalam.. Please kumohon” pintaku.

“Beres non” jawab Girno yang membuatku lega.

Aku tidak bisa lagi untuk mendesah, jika kondisi fisikku tak sebaik ini mungkin aku bisa pingsan. 10 menit kemudian Girno mencabut penisnya dari liang vaginaku.

“Non buka mulutnya” aku tahu apa maksud Girno.

Aku membuka mulutku dan menerima semburan sperma yang cukup banyak langsung kutelan semua. Rasanya aneh, asin tapi gurih. Aku langsung terkapar lemas diatas sofa sementara Girno masih asik meraba raba dan meremasi payudaraku.

“Pak Edy gak mau nyobain barang baru nih?” Tanya Girno.

“Ah saya lagi ndak mau, nanti saja kan kapanpun kita mau pasti bisa” jawab pak Edy santai.

APA?! Maksudnya apa kapanpun kita mau?!

“Pak maksud bapak apa?” Tanyaku dan aku berusaha bangkit dari sofaku.

“Friska, sekarang kamu harus melayani kami kapanpun kami mau” jelas pak Edy.

“Atas dasar apa bapak bilang begitu?!” Tanyaku kesal.

“Ooo.. Atas dasar ini” jawab pak Girno santai ketika memperlihatkan rekamanku sedang keenakan digenjot oleh Girno. Kurang ajar!

“Apa apaan ini pak?! Bapak harus hapus rekaman itu!” Betakku.

“Ooo kamu berani? ???baiklah rekaman ini akan sampai di internet 10 menit lagi” ancam pak Edy.

Aku tidak bisa berbuat apa apa, aku pelan pelan meraih bajuku dan memakainya dan merapihkan rambutku.

“Permisi pak” jawabku lesu dan aku keluar dari ruangan pak Edy.

Waktu menunjukkan pukul 6 sore, hampir 2 jam aku disetubuhi oleh Girno. Aku menuju ke mobil yang masi setia menungguku di loby depan sekolah. Akhirnya aku pulang dan aku tertidur di mobil.

Malam itu aku hanya bisa merintih setiap aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Ah betapa sakitnya daerah selangkanganku karena ulah Girno. Semoga Rendy sudah tidur. Dengan susah payah aku berjalan hingga akhirnya sampai juga di depan pintu kamarku. Waktu menunjukkan pukul 8 lewat, tadi jalanan sungguh macet hingga aku beserta pak supir terjebak macet hingga 2 jam. Aku buka pelan pelan pintu kamarku, gelap, kemana yah Rendy? Tanyaku dalam hati. Kunyalakan lampu kamarku. Aku juga tak mendapati dimana Rendy. Aku juga tidak melihat tanda tanda yang mencurigakan. Ah masa bodo dengan itu, sekarang aku harus mandi dan membersihkan badanku. Kukunci pintu kamarku dan aku melepaskan satu persatu baju yang kukenakan. Aku melihat beberapa cupangan yang ada di atas buah dadaku ini pasti dilakukan oleh pak Edy pada saat aku keenakan oleh jilatan Girno. Aku bercermin sebentar melihat diriku sendiri. Seorang wanita yang berpenampilan menarik, tetapi sayang ia kotor, terlalu banyak dosa. Ya Tuhan, ampunilah hambamu ini. Aku tak tahu lagi bagaimana mengembalikan keadaan hidupku menjadi Friska yang dulu lagi. Aku merenung sejenak membayangkan bahwa ini berawal dari ulahku sendiri yang mengintip kakakku yang sedang bercinta dan akhirnya akupun ikut-ikutan melakukannya dengan sesama jenisku dan akhirnya aku diperkosa oleh kakakku. Yah walah ia bukan kakak kandungku, setidaknya dia harusnya tau kalau aku ini adiknya. Hingga insiden di hotel dan aku berakhir disini. Dirumah seseorang yang tadinya menyiksaku kini ia menyayangiku. Sungguh sungguhku tak menyangka akan begini jadinya. Aku masuk ke kamar mandi dan menyalakan keran airpanas dan berendam di bathup. Seakan rasa sakit itu sirna sudah. Kuambil sabun aroma therapy yang ada di bathup dan mulai membersihkan diriku. Serta tak lupa aku mengambil sabun pembersih vaginaku.

“Eerrhhh” aku merintih nikmat saat tanganku masuk dan menggosok bagian dalam vaginaku.

Tidak tidak! Ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal ini. Kutarik jari-jari nakalku dan langsung kubilas dengan shower dan menyemprotkannya ke liang vaginaku.

“Eemmmhh” aku kembali mendesah tertahan saat air shower yang hangat dan cukup kencang itu menyembur dan mencuci vaginaku.

Rasanya seperti dijilati Girno.. Uuhh…kali ini sungguh nikmat, tanpa sadar aku memain mainkan puting payudaraku dan meremasi payudaraku dengan lebut, aku mencabut lubang penyumbat di bathupku agar air tidak menggenang kemudian aku terduduk di bathup sambil tangan kananku memegang keran shower sementara tangan kiriku meremas remas payudaraku. Tubuhku bagai tak terkontrol, aku tidak merasakan hawa dingin samasekali. Kakiku melejang lejang setiap semburan air itu menyembur klitorisku.

“Nggghh.. Girnoo” geramku saat aku benar benar hapir sampai ke puncak kenikmatan.

Aku membayangkan saat Girno menjilati liang vaginaku dengan rakusnya ia melahap dan melumat semua bagian vaginaku. Oohhh sungguh aku ingin mengulangi hal itu lagi. Akupun mengambil sabun mandi yang terletak di samping bathup kemudian menuangkannya ke tangan kiriku dan aku mengoleskannya ke bagian payudaraku. Kini payudaraku terlihat mengkilap dibawah sinar lampu kamar mandi dan cukup licin sehingga membuatku terangsang serta putingku yang semakin mengeras. Tak kusangka ternyata nafsuku belum tertuntaskan total tadi. Aku terus memegang shower dengan tangan kananku dan menggesek-gesekkan shower yang masih menyemburkan air itu kedalam liang vaginaku. Sungguh nikmat aahhh sungguh.. Oohh nikmat sekali..

“Aaaaaahhhhh” aku mendesah panjang dan inipun mengakhiri ‘live action’ku di bathup. Cairan vaginaku keluar banyak sekali cukup banjir di sekitar selangkanganku.

Aku mendapatkan orgasme yang kesekian kalinya untuk hari ini. Aku mengambil kembali cairan pembersih vaginaku kemudian aku membersihkan vaginaku kembali. Tak ada niatan lagi untuk bermasturbasi hari ini. Aku menutup lubang air di bathup dan mulai menyalakan keran yang mengalirkan air panas kedalam bathup hingga penuh. Aku menuangkan sabun Aroma therapy yang ada di dekat bathup yang tadi aku gunakan untuk merangsang payudaraku. Aku memejamkan mataku sambil berusaha rileks dengan apa yang sudah terjadi. Tetapi, aku langsung tersadar kalau besok ada ulangan matematika. Cepat-cepat aku keluar dari bathup dan membilas diriku di shower room kemudian aku mengambil kimono yang selalu tersedia di lemari kamar mandi yang tergolong mewah ini. Seperti orang panik aku berlari mengambil celana dalam, bra, celana pendek dan tanktop yang ada didalam lemari pakaianku. Bergegas mengobrak abrik isi tasku untuk belajar matematika. Sudah jam 10, aduh, bisa gawat kalau begini, aku banyak ketinggalan pelajaran dan aku harus berusaha mengejarnya sendiri. Menit demi menit berlalu, hingga waktu menunjukkan pukul 1 pagi, aku masih tetap belajar. Mataku sudah memerah dan rasa kantukpun tak tertahan lagi. Akupun tertidur bersama buku pelajaranku.

“Non, bangunnn” teriak bibi yang ada diluar pintu kamarku.

“Non ayo bangun, aduuh sudah telat non” ingat Bibi.

“Ii..iya Bi” jawabku masih malas malasan.

Aku kaget setelah melihat jam, ternyata sudah jam setengah 7 pagi. Gawat! Akupun bergegas mandi dan menyiapkan pakaian sekolahku. Hari itu aku memakai bra tanpa tali serta tanktop pink kesukaanku, serta celana dalam dan hotpants, karena aku tau seragam hari ini sungguh benar benar tembus pandang yaitu seragam putih dengan rok putih yang wajib kami pakai setiap hari selasa. Aku bergegas menyiapkan buku dan memakai sepatuku.

“Non sarapannya dimakan dulu” kata Bibi yang khawatir kepadaku.

“Aku makan rotinya aja Bi, udah ga keburu” jawabku cepat.

Aku mengambil sepotong roti yang tersaji di atas meja makan dan aku kembali berlari menuju mobil yang sudah menungguku di depan pintu. Pak supir dengan sigapnya memotong kemacetan yang terjadi disepanjang jalan Surabaya ini menuju sekolahku. Jam 06.50 aku sudah sampai di sekolah, aku berpesan kepada pak supir kalau nanti jam 3 sore aku baru akan pulang. Kemudian aku berlari masuk kedalam kelas. Beruntung sekali aku tidak terlambat. Sesudah memasukkan kartu pelajarku ke mesin absen, guru matematikapun datang. Aku melihat Bella yang tersenyum kepadaku. Mungkin ia tau kalau aku kesiangan. Siang itu sungguh terik, panas sekali, ulangan matematikapun kulalui dengan baik. Ternyata hari ini ada rapat guru, sehingga siswa dipulangkan lebih awal pukul 10.45, aku yang tidak memiliki handphone terpaksa harus menunggu pak supir hingga pukul 3 sore nanti. Untuk mengatasi rasa jenuhku, sebaiknya aku membaca novel saja di bawah pohon di taman sekolah. Bella kemana yah? Kok ga ada sih. Aku beranjak menuju perpustakaan sekolah kemudian meminjam sebuah novel. Di tengah perjalanan, aku melihat Bella sedang asik dengan temannya yang lain, aku tidak ingin mengganggunya, maka dari itu aku beranjak pergi menuju taman sekolah sambil membaca buku. Sebelumnya alangkah asyiknya bila membaca dengan ditemani snack. Maka akupun melangkahkan kaki menuju kantin sekolah. Tapi di kantin aku tidak menjumpai siapapun, sepi, memang sudah hampir semua siswa pulang, tapi kantin belum tutup karena di lemari etalase masih terdapat makanan yang dijual, juga nampak kompor yang di atasnya masih terletak wajan yang masih berisi minyak. Kemana ya Cie Fifi pemilik kantin sekolah dan pegawainya?

“Permisi!” sapaku sambil clingak-clinguk, tak ada jawaban, juga tidak ada yang datang.

Akhirnya setelah menunggu satu dua menit tanpa ada tanda-tanda ada orang di situ aku pun memutuskan kembali ke taman saja. Tapi ketika melewati sebuah kelas di pojok tidak jauh dari kantin aku mendengar suara-suara dari dalam sana. Karena penasaran aku pun mendekati ruang kelas itu. Suara-suara itu semakin jelas terdengar seiring langkahku yang makin mendekat, suara itu adalah suara desahan, Apakah gadis bernama Eliza itu sedang diperkosa lagi seperti tempo hari itu? Walau ada rasa takut, aku tetap mendekati tempat itu dengan hati berdebar-debar. Dengan hati-hati aku mengintip dari celah jendela. Aku melongo tapi berusaha tidak menjerit melihat apa yang sedang terjadi di dalam.
Cie Fifi

Cie Fifi

“Oh my god…Cie Fifi!” seruku dalam hati

Aku mendapati pemandangan serupa dengan yang terjadi pada Eliza beberapa hari lalu itu. Kali ini yang kena adalah Cie Fifi, si pemilik kantin sekolah, dengan pakaian tersingkap sana-sini, ia sedang berlutut dikelilingi tiga orang. Salah satunya yang bertubuh cebol itu adalah pegawainya sendiri, orang itu sedang jongkok dan mengenyot payudara Cie Fifi yang telah terbuka. Sementara Cie Fifi sendiri sedang sibuk mengoral dan mengocoki secara bergantian penis kedua siswa SMA di kanan dan kirimnya. Aku tahu kedua siswa itu, mereka adalah Pandu dan Dedi, mereka termasuk anak-anak nakal pembuat onar di sekolah ini. Wajah keduanya benar-benar jauh dari ganteng, wajah yang typikal wajah anak-anak yang suka muncul di berita karena tawuran, apalagi si cebol yang sedang menyusu dari Cie Fifi itu, mirip sama Ucok Baba deh.

“Uuuhh…enak Bu…ehehhe…Bu Fifi bukan cuma bisa masak ternyata, nyepongnya juga sip!” ejek Dedi yang penisnya sedang dikulum Cie Fifi.

“Gila…gimana mungkin? Cie Fifi…!” aku mengucek-ngucek mata seolah tidak percaya pengelihatanku sendiri

Cie Fifi mulai menggelinjang dan sesekali melenguh-lenguh ketika pegawainya yang cebol itu memilin-milin putingnya menandakan bahwa diam-diam ia ikut terangsang juga oleh perlakuan mereka. Nampak Pandu yang sepertinya sangat menikmati dioral, memaju-mundurkan pinggangnya sambil menahan kepala Cie Fifi yang membuat mulutnya terpaksa terbuka lebih lebar. Sekitar 5 menit Cie Fifi menyepong penis Pandu, tangan satunya juga mengocok penis Dedi, karena enaknya sepongan Cie Firi tampaknya Pandu tidak dapat menahan orgasmenya lagi sehingga dengan erangan keras menyemburlah lahar panasnya di dalam mulut Cie Fifi.

“Arggghhh … ueenaakk …. telan semua Bu, jangan sampai ada yang terbuang” perintahnya pada Cie Fifi yang terpaksa menelan semua sperna Pandu.

Walaupun Cie Fifi sudah mencoba sebaik mungkin untuk menelannya tetap saja ada yang mengalir di sisi bibirnya.

“Nah sekarang sama saya ya Bu!” perintah si Dedi, “ayo nungging!”

Dedi menyuruh Cie Fifi untuk nungging dan membalikkan tubuhnya sehingga wanita itu bertopang dengan kedua tangan dan lututnya dalam posisi dogy sehingga payudaranya tergantung dengan bebasnya. Dedi mengambil posisi di belakangnya, tangannya menggenggam penisnya dan mengarahkannya ke liang kenikmatan Cie Fifi

“Tolong jangan kasar yah!! Mmmhh….eeennggghh!” erang Cie Fifi

“Santai aja Bu….pokoknya pasti enjoy! Uuuhh!” jawab Dedi seraya menekankan penisnya ke vagina Cie Fifi.

Penis Dedi melesak masuk dengan cukup lancar karena sebelumnya vagina Cie Fifi telah basah. Tubuh Cie Fifi mengejang menerima hujaman penis Dedi. Dedi tak buang-buang waktu dan mulai menggenjotnya, tangannya memegang induk payudara Cie Fifi dan meremasinya. Sementara si cebol berdiri di depan wajah Cie Fifi dan memintanya mengoral penisnya. Cie Fifi yang sudah terangsang tidak dapat menahan dirinya lagi, dia menggeliat-geliat keenakan serta mengerang-erang dengan nikmatnya tidak memperdulikan celoteh mereka yang merendahkan dirinya.

Tak lama kemudian gelombang orgasme yang menyerang dan mendera tubuh Cie Fifi akhirnya datang juga.

“ooooooohhhhh … aaaahhhhhh!!” Cie Fifi mengerang-erang dan melenguh-lenguh kenikmatan, orgasme dahsyat tersebut membuat tubuhnya terjatuh lemas. Pandu yang penisnya mulai bangkit lagi, dengan cekatan memeluk perut Sandra sehingga dia tidak ambruk ke lantai. Ia lalu duduk bersandar di sebuah bangku dan menyuruh Cie Fifi untuk memasukkan penisnya ke vaginanya dengan gaya berpangkuan. Dengan dibantu Dedi dan si cebol, Cie Fifi sambil bergidik mulai memposisikan dirinya di atas penis Pandu dengan posisi memunggungi. Perlahan-lahan ia menurunkan tubuhnya sambil menggigit bibir bawahnya menahan sakit proses penetrasi itu. Ia mendesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha menaikkan tubuhnya tetapi Pandu yang menahannya lebih kuat sehingga perlahan-lahan penis itu masuk mengisi liang vaginanya. Selama Cie Fifi menaik-turunkan tubuhnya di pangkuan Pandu, Dedi dan si cebol tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan menikmati tubuh mulusnya. Si cebol menggerayangi tubuh majikannya sambil menjilati pahanya yang mulus dan jenjang itu. Sedangkan Dedi memagut bibirnya lalu turun ke bawah dan mengenyoti payudaranya. Erangan-erangan Cie Fifi terdengar semakin lirih dan lama kelamaan digantikan oleh erangan-erangan erotis, ternyata ia mulai menikmati pemerkosaan atas dirinya itu dan mulai ikut menggerak-gerakkan pinggulnya sambil tangannya melingkari leher Pandu, ia juga menengokkan wajahnya ke belakang dan berpagutan bibir dengan Pandu. Siswa pengacau itu menggerakkan tangannya untuk meremas-remas payudara Cie Fifi yang montok itu dengan gemasnya disertai erangan-erangan erotis sang empunya. Butiran-butiran keringat Cie Fifi makin mengucur deras seperti embun pada tubuh mulusnya. Tubuhnya yang menggeliat-geliat terlihat seksi sekali dan kontras dengan para pemerkosanya yang rata-rata bertubuh hitam dan bertampang jelek. Setelah agak lama menggeliat-geliat keenakan akhirnya mereka Cie Fifi dan Pandu mencapai orgasme mereka secara bergantian, yang pertama mencapai orgasmenya adalah Pandu yang menyemprotkan spermanya ke dalam lubang anus Cie Fifi. Cairan itu keluar banyak sekali, nampak dari vagina Cie Fifi yang tidak sanggup menampungnya sehingga cairan putih kental itu mengalir keluar dari lubang sempit yang terpaksa terbuka lebar. Berikutnya adalah giliran Cie Fifi yang mencapai orgasmenya dengan erangan erotis

“aaahhhhh ….. aaarrrgghhhh ….. uuuufff …..” terdengar suara Sandra yang terengah-engah kecapaian dan keenakan, tubuhnya bergetar dan menikmati orgasmenya selama setengah menit.

Beberapa saat kemudian terlihat si kribo yang mengerang-erang dan akhirnya menumpahkan semua isi spermanya dalam vagina Sandra yang sudah tergolek lemas dipelukannya. Aku kasihan melihatnya tapi aku sungguh tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya, apalagi aku pun termasuk budak seks di sekolah ini. Aku pun memutuskan menyudahi pengintipanku, dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara aku meninggalkan tempat itu dan kembali ke taman. Di sana aku mencoba menenangkan diri dan berusaha menghapus bayang-bayang adegan yang kusaksikan tadi. Suasana sejuk di bawah pohon rindang membuatku sedikit mengantuk, di dukung lagi oleh jam tidurku yang kurang karena belajar. Aku tidak kuasa menahan rasa kantuk yang menderaku. Tanpa sadar aku tertidur di bawah pohon taman sekolah ini.

****

Dimana aku? Sangat gelap sekali di sini. Udara yang ada juga cukup pengap. Tanganku terikat ke belakang dan kakiku terikat menjadi satu. Mulutku dibungkam dengan kami sementara mataku ditutup dengan kain hitam. Peluh mulai keluar dari tubuhku karena suhu ruangan ini hampir mirip seperti mandi sauna. Bau, seperti bau yang ada di gudang rumahku. Mungkinkah?! Aku mendengar suara langkah kaki di luar ruangan ini. Tapi langkah kaki itu terdengar bukan langkah kaki satu orang. Aku semakin gencar menggerakkan tubuhku, berusaha melepas ikatan yang melilit tubuhku. PRANG!! Tanpa sengaja kakiku menyenggol sesuatu dan barang itu jatuh kemudian berhasil membuat gaduh di dalam ruangan ini. Jantungku seakan mau berhenti. Suara langkah kaki makin banyak dan sepertinya pintu yang ada di dalam gudang juga dibuka.

“Mmmpphh mpphhh” aku meronta sekuat tenaga menggeliat geliat di lantai yang kotor ini.

Tanktopku basah kuyup akibat keringatku, serta bagian bawah juga tersingkap sehingga memperlihatkan perutku yang putih mulus.

“Hai cantik kok sendirian aja?” Suara orang pertama yang kudengar jelas. Berlogat sedikit Jawa medok. Ia berada tepat didepanku. Sepertinya aku mengenali orang ini.

“Kita ajak entotan saja No, pasti seru” jawab salah seorang dari mereka.

“Yok, si non kepanasan tuh, iketannya bukain dulu tuh” perintah orang yang mereka panggil ‘No’.

“Akur” jawab seseorang lagi yang dipanggil ‘Yok’

Orang itu mendekatiku yang terbaring tak berdaya, ia membetulkan posisiku sehingga aku terduduk kemudian satupersatu ikatanku mulai dilepas. Kaki, tangan, serta penutup mataku. Setelah terlepas, aku langsung reflek mengambil kain yang menyumpal mulutku.

“Girno?!” Aku terpaku melihat yang mereka panggil bos adalah Girno. Dan kedua orang di sampingnya adalah Yoyok dan Hadi adalah tukang sapu di sekolah baruku. Mau apa mereka??!

“Kalian mau apa?” Cepat cepat aku merangkak mundur hingga langkahku terhenti karena aku sudah terpojok di ruangan ini.

“Wah No, cewe baru ini ternyata ayu e ndak kalah sama non Eliza yah” celetuk salah satu dari mereka.

Aku tak bisa berbuat apa apa lagi. Tanganku sekejap ditarik Girno kemudian ia memaksaku untuk berdiri hingga dengan mudah ia menelikung tanganku.

“Aawww sakiitt pelan pelang ddong” rintihku ketika Girno sudah menekuk tanganku ke belakang.

Aku sudah dibuat mati kutu olehnya. Tanpa basa basi Yoyok dan Hadi mendekatiku dan dengan mudah ia mengakat tanktopku serta melepas Braku yang berkancing depan jadi sangat mudah untuk dilepas. Tersembullah kedua payudaraku dengan kedua puting yang sudah mengeras, ah aku cepat sekali terangsang. Mereka berdua mulai melumat payudaraku itu semua membuatku makin terangsang, meski mulutku berteriak

“Jaanggann.. Ooohhh..” Tetapi badanku tidak berkata demikian, bahkan badanku mengatakan again.. More and more..

Ah! Aku sudah gila! Benar benar gila!! Rangsangan mereka diputing payudaraku sudah cukup membuatku terangsang hebat sehingga aku nafsuku mulai terbakar. Dan sepertinya Girno tau akan hal itu, ia melepas pitingannya sehingga tangannya bebas menggerayangi bagian paling sensitifku. Perlahan namun pasti ia memelorotkan celana pendek serta celana dalamku tanpa ada perlawanan dariku.

“Had, ambil tuh matras!” perintah Girno.

Hadipun meleas kulumannya di putingku dan Yoyok tak mau melepaskan kesempatan ini. Ia juga langsung ‘menjarah’ payudaraku sebelah kanan sehingga membuatku mengglepar glepar dalam posisi berdiri. Sepertinya matras tua itu sudah siap untuk menjadi saksi bisu pemerkosaanku di dalam gudang ini. Hadi sudah beres dengan matrasnya, sehingga ia kembali ‘ikut’ dalam ‘permainan’ ini, ia melumat bibirku hingga aku mengap mengap dibuatnya. Girno mulai membuka sedikit selangkanganku dan ia memulai ritualnya sama seperti yang dilakukannya di ruang pak Edy. Ia mulai mencium vaginaku dan mulai menjilati bibir vaginaku. Ohh tidak ini dia yang bisa membuatku terkapar dan tunduk pada nafsu Girno. Tetapi secara kompak mereka berhenti menjarah tubuhku yang hampir telanjang bulat ini, hanya sisa tanktopku yang masih tersingkap diatas payudaraku. Kemudian Girno mendorong tubuhku hingga aku mendarat dengan sukses di atas matras yang usang ini. Tubuhku tersungkur hingga memunggungi mereka. Aku langsung berbalik melihat Hadi yang sudah mendekatiku, belum sempat aku berlari, aku sudah ditindih oleh Hadi.

“Mau kemana sayang? Ayo kita main main dulu” bisiknya sembari menjilati daun telingaku.

“Lepasin… Tolong pak” mohonku.

“Lepasin? Nih saya lepas” setelah itu Hadi meraih tanktopku dan melepaskannya dengan mudah.

“Aww jangann” pekikku ketika tanktopku dilepas oleh Hadi.

“Katanya minta dilepasin? Itu sudah saya lepas kok bilang jangan?” Ejeknya lagi.

Sementara aku melihat Girno dan Yoyok sudah menelanjangi diri mereka sendiri dan sepertinya aku sedikit bergidik melihat benda tumpul yang sudah mengacung tegak seperti stick baseball.

“Had, lu buka baju dulu, biar mainan baru ini kita yang urus” perintah Girno santai.

Hadipun melepaskan tindihannya padaku. Tak ada pilihan lain selain pasrah menghadapi tiga orang pria dengan penampilan yang cukup tidak enak dipandang. Dan satu lagi, mereka bau, bau sekali.

Aku sudah tidak bisa bertidan banyak mengingat kedua pria yang berada di depanku sekarang sudah benar benar BT alias birahi tinggi.

“Aaww” pekikku terkaget ketika Yoyok menerkam langsung kepalaku dan melumat habis bibirku, membuatku kembali terbaring di atas matras, sementara Girno kembali memegang kedua sisi selangkanganku sambil menjilat dan menggigit kecil klitorisku sehingga membuat nafsuku semakin terbakar. Aku mulai membalas ciuman Yoyok yang semakin brutal. Sementara itu, Hadi masih belum membuka bajunya, ia masih bersantai merokok di dekat pintu gudang. Tak kusangka nasibku hari ini akan berakhir tragis di tangan para pesuruh sekolahku. Yoyok melepas lumatannya sehingga aku mengap mengap mengambil nafas karena bau mulutnya sungguh membuatku ingin muntah. Ia kembali melancarkan aksinya, kini ia menangkangi tubuhku dan ia setengah terduduk di atas perutku, kemudian ia membimbing kedua tanganku untuk memegang payudaraku. Oh aku tau apa yang ia inginkan, ia ingin menyelipkan penisnya di antara payudaraku.

“Aaaahh.. Aa..aaahhh” aku merintih dan mendesah terus menerus ketika Girno terus menyeruput dan menjilati liang vaginaku. Sementara sensasi yang ditimbulkan oleh gesekan penis dengan payudaraku juga menambah kenikmatan yang kudapat sehingga aku tak kuasa menahan orgasmeku yang pertama. Kakiku mengejang sejenak dan mataku terpejam meresapi nikmatnya orgasme pertamaku hari ini. Cairan cintaku keluar cukup banyak sehingga Girno sempat kewalahan menyeruputnya. Sepertinya Yoyok sudah tak sabar untuk menyetubuhiku. Ia melepaskan penisnya dari jepitan vaginaku.

“Non buka mulutnya dong” perintahnya.

Wah gila! Ia mau menyetubuhi mulutku. Yoyok mulai merangkak maju hingga menisnya benar benar ada didepan mulutku.

“Ayo buka non!” pintanya.

Aku hanya menggeleng gelengkan kepalaku karena sebenarnya aku lebih suka disetubuhi di ‘jalur’ yang benar daripada seperti ini. Tapi memang dasarnya mereka sedang memperkosaku, dengan cara licik, Yoyok menutup hidungku sehingga terpaksa aku harus membuka mulutku untuk mengambil nafas. Bukan nafas yang kudapat, melainkan hujaman penis besar Yoyok yang membuatku cukup kewalahan menghadapinya. Tanpa ampun, Yoyok mulai menggenjot penisnya yang menyetubuhi mulutku. Aku tak bisa bernafas, nafasku sungguh sesak karena penis itu masuk sampai kerongkonganku.

Sementara itu, Girno juga sudah mulai memposisikan penisnya di depan bibir vaginaku. Ia menggesek gesekkan kepala penisnya yang tumpul itu, dengan lembut ia menekan nekan lubang vaginaku hingga masuk seperempatnya. Aku tak kuat menahan siksaan kenikmatan yang tiada tara ini. Tanganku banya bisa menggapai paha Yoyok kemudian mencakarnya karena ulahnya yang membuatku hampir mati. Girno mulai memompa penisnya dengan santai, tidak seperti Yoyok bagai orang kesetanan ia memompa penisnya di mulutku. Yoyok mulai menggeram ia mulai mempercepat pompaannya sehingga membuatku kalang kabut mencari nafas.

“Aaarrrhgg… Hhhh….hhh…. Nonnn aaahhhh” Yoyok menghujamkan dalam dalam penisnya hingga bulu jembutnya menyentuh hidungku membuatku benar benar tak bisa nafas, dia juga menumpahkan air maninya di dalam kerongkonganku.

“Uhhukk uhuukkk” aku terbatuk batuk ketika Yoyok mencabut penisnya dari mulutku.

Aku sedikit memuntahkan sperma si tukang sapu sekolahku ini. Sungguh spermanya membuatku sedikit mual. Genjotan Girno sempat terhenti sebentar melihatku yang batuk batuk mungkin ia tidak tega. Setelah nafasku sudah mulai stabil, Girno mulai memompa tubuhku kembali. Ia sangat pandai mengatur ritme ‘permainan’ sehingga aku dibuat larut dalam kenikmatan yang tiada tara. Apalagi ia membungkukkan badannya dan ia mengangkatku hingga aku terduduk dalam pangkuannya dengan penisnya yang masin tertancap. Nafsuku sungguh benar benar terbakar. Aku memeluk Girno dan mulai menggoyang goyangkan tubuhku untuk mencari kenikmatanku sendiri. Aku benar benar sudah larut dalam lautan birahi. Kami berdua benar benar sangat menikmati permainan ini. Aku dapat merasakan penis Girno menancap seluruhnya hingga menyentuh dinding rahimku. Tak hanya menghujamkan penisnya, tetapi ia juga melumat dadaku yang tersaji didepan matanya, ia mengulum dan menggigit kecil puting payudaraku sehingga membuatku mendesah tak karuan. Melihat hal ini sepertinya Hadi mulai terpancing nafsunya, ia mulai melucuti pakaiannya satu demi satu hingga telanjang bulat. Ia kemudian bergabung bersama kami di atas matras. Hadi mendorong tubuhku hingga kini posisiku berada di atas Girno sementara itu Hadi terus mendorongku hingga payudaraku menempel di dada Girno. Aku merasakan sesuatu yang basah sedang mendera bagian lubang anusku. Oh tidak, jangan! Aku tidak mau ia menyodomiku.

“Pak Hadi, jangannn aku ga mau disitu..” Tolakku.

“Ah si Non belom nyobain siih” bantah Hadi.

Ini memang benar benar sakit, aku takut sekali saat aku diperkosa habis habisan oleh kakakku dan kak Reno, dan disitulah aku di sandwitch oleh mereka, dan rasa sakitnya sungguh menyiksa.

“Paak jangan paak” pintaku.

Percuma saja aku meminta berhenti kalau itu hanya membangkitkan birahi Hadi yang semakin membara.

Melihat bokongku yang sudah tersaji di depan matanya, Hadi mulai melakukan ‘pemanasan’ dengan menusukkan ibu jarinya kedalam lubang anusku,

“ooohhhh” aku mendesah merasakan sensasi baru yang timbul.

Hadi berulang kali menusukkan ibu jarinya ke lubang anusku hingga aku dapat merasakan lubang anusku seperti sedikit mengembang. Hadi kembali meludahi lubang anusku, sepertinya ia masih belum puas bermain main dengan lubang anusku. Sementara aku masih lemas tak berdaya diatas tubuh Girno yang sedari tadi tangannya terus mengelus elus punggungku. Kepalakupun menunduk hingga sejajar dengan kepala Girno. Rambutku sudah acak acakan tak karuan, disingkap oleh Girno hingga memperlihatkan leherku dan pundakku yang mulus. Kemudian ia mulai melakukan jilatan jilatan yang cukup merangsang gairahku lagi.

“Aaahh.. Pelanhhhh pelanh pakk” ingatku kepada Hadi.

Aku mulai menahan nafas sambil menggigit bibirku, sementara kedua tanganku semakin kuat meremas matras usang ini. Hadi mulai memukul mukulkan penisnya yang sudah mengeras itu ke bokongku.

“Mimpi apa gue semalem ya” celetuknya sambil mengarahkan penisnya ke lubang anusku.

Benda tumpul itupun masuk perlahan lahan membelah anusku. Rasa sakit mulai terasa ketika penis itu masuk separuhnya ke lubang anusku, keringatpun mulai bercucuran membasahi dahiku sehingga tubuhku sedikit mengkilap ketika terkena cahaya.

“Aahh paakk sudaah jangan diteruskan.. Sakiitt” keluhku ketika rasa sakit itu sudah takbisa dibendung lagi.

Mungkin Hadi mengerti dengan hal ini, iapun mulai menggenjot lubang anusku meski penisnya hanya masuk setengah, Girno juga mulai ikut ikutan menggenjot penisnya. Oohh rasanya, sensasinya benar benar enak, rasa sakit bercampur enak, sungguh membuatku merancau tak karuan.

“Aauuhh aaahh.. Terussh paaakkk.. Aaaahhh” aku merancau terus menerus karena kedua penis itu memompaku makin kencang.

“Aaaaaaaaaaahhhhhhhh” aku melolong panjang dan aku mendapatkan orgasmeku lagi serta Hadi juga menghujamkan penisnya hingga masuk sepenuhnya kedalam anusku. Walau sakit, tetapi rasa sakit itu tidak terlalu terasa karena bersamaan dengan orgasmeku.

Melihat threesome kami, Yoyok kembali bersemangat untuk mengeroyokku. Ia medekatiku dan mengangkat kepalaku hingga mendonga sejajar dengan penisnya. Aku menggunakan kedua tanganku untuk bertumpu, sementara punggungku melengkung sehingga kedua penis yang ada di belakangku masih tetap memompa tubuhku dengan semangat.

“Isep non” perintah Yoyok yang langsung kusambut dengan lahapan mesra terhadap penisnya. Aku kembali mengemut penis yang tadi memperkosa mulutku hingga aku terbatuk batuk dibuatnya.

Entah aku wanita yang beruntung yang mendapatkan perlakuan sex hingga senikmat ini, atau aku seorang wanita hypersex, tapi yang jelas aku suka dengan perlakuan mereka terhadapku sekarang ini. Aku hanya bisa pasrah apabila ada orang yang melihat perbuatan kami didalam sini, aku tidak mau memikirkan apa apa lagi selain mendapat kenikmatan demi kenikmatan yang terus menerus melanda tubuhku. Sepertinya Girno mulai menggeram dan penisnya seakan bertambah besar didalam liang vaginaku, ia juga meningkatkan ritme kocokannya di liang vaginaku, ini membuatku melepas emutan penis Yoyok karena aku tak kuat menahan rasa nikmat yang akan melandaku sebentar lagi. Sementara Hadi juga ikut ikutan mempercepat genjotannya.

“Aaahh… Akuu mauu keluarr paakkk” aku merancau tak karuan.

“Kita barengan Non” teriak Girno.

Girno semakin mendesah dan mempercepat genjotanya, dann “aahhhhhh” desahan panjangku mengakhiri semua permainanku bersama Girno, sementara Hadi masih semangat memompa lubang anusku sehingga orgasme yang barusaja kudapat ini masih bercapur dengan rasa sakit.

“Aahh pakk udaah sakiitt” pekikku kesakitan ketika penis itu semakin intensif keluar masuk liang anusku.

“Nonn tahann yaa bapak dikit lagi” rancau Hadi.

Hadi kembali meningkatkan genjotannya hingga tubuhku semakin melengkung dibuatnya. Yoyokpun tidak mau melepaskan kesempatan ini, ia kembali menjejalkan penisnya ke dalam mulutku. Ia memegang kepalaku dan mencengkramnya, sementara itu Girno sudah mencabut penisna dan ‘keluar dari permainan’. Pinggangku di angkat Hadi hingga kini posisiku menjadi Dogystyle dengan Hadi yang menyodomiku serta Yoyok yang menyetubuhi mulutku. Lelehan sperma Girno keluar banyak sekali dari liang vaginaku hingga membasahi matras usang ini. Kedua tanganku diraih Hadi kemudian ia menariknya kebelakang, sensasi ini sungguh membuat penisnya semakin jauh masuk kedalam lubang anusku. Sementara aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah menerima penis yang menusuk nusuk lubang anus dan kerongkonganku. Satu satunya cara mengakhiri permainan ini adalah dengan membiarkan penis penis ini cepat mengeluarkan ‘isinya’. Aku mulai mengulum serta menghisap dengan kuat penis Yoyok yang kini sudah sangat tegang dan keras. Sementara aku memainkan otot syaraf di bokongku hingga Hadi makin merancau tak karuan. Melihat perlakuanku yang seperti ini, mereka berdua semakin bernafsu menyetubuhiku. Yoyok makin gencar memperkosa mulutku hingga kadang aku menggeleng-gelengkan. Kepalaku pertanda kalau aku kehabisan nafas.

“Non.. Saya mau keluar Non” rancau Yoyok yang semakin cepat menggenjot penisnya. Sementara Hadi juga sepertinya ia akan keluar.

“Aahh… Enaaakk” rancau Hadi yang menancapkan penisnya dalam dalam serta mengeluarkan lahar panas yang cukup banyak di lubang anusku.

Aku langsung terjatuh dan telungkup di atas matras. Yoyok menindihku dari belakang dan ia mengangkat sedikit pinggangku hingga terlihatlah liang vaginaku yang dari tadi masih berceceran cairan cintaku. Kemudian ia memposisikan penisnya di dalam liang vaginaku. Ia menyetubuhiku dari belakang ia menindihku kemudian ia mencium tengkukku sehingga membuatku kembali larut dalam kenikmatan yang tiada tara.

“Aaahh aaahhhhh Yok.. Enaakk” aku merancau tak jelas setiap Yoyok menghujamkan penisnya kuat kuat dan bertabrakan dengan kedua buah pantatku yang cukup montok.

Sekitar 10 menit aku dan Yoyok diposisi itu, kini Yoyok membalikkan tubuhku hingga kini posisi kami sudah seperti posisi biasanya yaitu misionary. Ia mulai menggenjot tubuhku yang sudah lemas dan sangat sangat terkuras tenagaku dibuatnya. 20 menit diposisi ini Yoyok mulai menggeram tanda ia akan mendapatkan klimaksnya.

“Aaahh nonn dikit lagi non” rancau Yoyok

“Aaahh Yokk barengannn” rancauku balik.

“Aku sampaai akuu aaaaahhhh”

Akhirnya kami berogasme bersama sama, air mani Yoyok membanjiri liang vaginaku bercampur dengan cairan cintaku. Kemudian Yoyok mencabut penisnya dan ia memakai kembali pakaiannya, sementara aku masih tergeletak di atas matras usang ini. Girno serta Hadi juga sudah memakai pakaiannya.

“Makasih ya non, kapan kapan kita main lagi” Yoyok mengucapkan salam perpisahan kepadaku.

Aku hanya bisa terdiam mengatur nafasku yang masih tak beraturan. Baju seragamkupun tak tahu kemana. Hanya menyisakan bra celana dalam, tanktop serta celana hotpantsku. Perlahan aku mengambil pakaianku dan memakainya kembali. Aku berjalan gontai keluar dari tempat ini. Aku melihat keadaan sekitar, ternyata ini adalah gudang sekolah yang sudah tak terpakai lagi. Lokasinya di dekat taman. Beberapa penjaga sekolah melihatku dengan tatapan seolah ingin menelanjangiku karena memang aku berpakaian tidak senonok didalam lingkungan sekolah. Cepat cepat aku berlari menuju loby dan di situ sudah setia menunggu pak supir.

“Maaf pak agak telat” aku meminta maaf kepada pak supir.

“Tidak apa apa non” jawab pak supir ramah.

Aku masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah. Aku melihat jam di mobilku. Sudah jam setengah empat sore. Berarti sekitar 3 jam aku disetubuhi oleh mereka. Pesuruh sekolahku yang kurang ajar. Aku pun tertidur di dalam mobil.

_THE END_

Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Related Post

Cerita Friska | memektante | 4.5

Leave a Reply